Uskup Manokwari-Sorong Berikan Pembekalan bagi Frater TOP dan TOK di Meyes

8

MEYES, KOMSOSKMS.ORG — Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, memberikan pembekalan kepada para frater Tahun Orientasi Pastoral (TOP) dan Tahun Orientasi Karya (TOK) pada Rabu, 22 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Taman Doa Santa Maria Mendali Wasiat, Meyes, dan diikuti oleh para frater yang sedang menjalani masa pembinaan awal menuju imamat.

Para Frater mengikuti pembekalan dari Bapak Uskup dengan penuh perhatian

Dalam materinya, Uskup membagikan pengalaman panggilannya sejak masa seminari. Ia mengisahkan bahwa dirinya masuk seminari pada tahun 1969, dengan tuntutan formasi yang cukup ketat, termasuk dalam bidang musik. “Pada hari pertama kami sudah diuji kemampuan menyanyi, bahkan dikenalkan dengan konsep oktaf dan alat musik seperti garpu tala,” kenangnya. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting dalam pembentukan dasar kedisiplinan dan kepekaan.

Lebih lanjut, Uskup menegaskan bahwa panggilan menjadi uskup bukanlah cita-cita pribadinya, melainkan kehendak Tuhan. Ia mengaku sempat merasa tidak siap ketika ditunjuk untuk memimpin Keuskupan Manokwari-Sorong, mengingat keterbatasan pengetahuannya tentang wilayah pelayanan saat itu. Namun, sebuah keyakinan sederhana, yakni “kita akan menjadi kudus,” menjadi kekuatan baginya untuk menerima tugas tersebut. Ia juga menegaskan bahwa secara kanonik, dirinya mulai mengemban tanggung jawab sebagai uskup sejak tanggal penetapan, yakni 29 Juni 2005.

 

Uskup menekankan pentingnya dua hal utama dalam pembinaan, yakni belajar dan disiplin

Dalam bidang pastoral, salah satu langkah penting yang diambilnya adalah mendirikan Seminari Petrus van Diepen pada tahun 2005. Keputusan ini sempat dianggap berani, namun kini seminari tersebut telah menghasilkan banyak imam dari berbagai keuskupan dan tarekat. Uskup juga menekankan keberpihakan kepada Orang Asli Papua (OAP) melalui kebijakan afirmatif, di mana sebagian besar peserta didik berasal dari latar belakang tersebut.

Uskup turut menyoroti perkembangan keuskupan sejak awal pelayanannya. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2003 jumlah imam diosesan sangat terbatas, namun kini mengalami peningkatan signifikan, seiring dengan bertambahnya jumlah frater dan calon imam. Pertumbuhan juga terlihat dalam jumlah paroki dan umat yang semakin berkembang.

Dalam pembekalannya, Uskup menekankan pentingnya dua hal utama dalam pembinaan, yakni belajar dan disiplin. Ia mengingatkan bahwa kesempatan belajar harus dimanfaatkan dengan baik, termasuk dengan memanfaatkan teknologi modern. Sementara itu, disiplin, yang berasal dari kata discipulus (murid), merupakan ciri penting seorang calon imam yang setia, taat, dan tekun dalam proses pembinaan. Ia juga secara khusus mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, termasuk dengan menghindari kebiasaan merokok.

Uskup mengajak para frater untuk membangun hidup berdasarkan nilai-nilai utama, yakni sukacita, cinta, dan kebahagiaan

Mengakhiri materinya, Uskup mengajak para frater untuk membangun hidup berdasarkan nilai-nilai utama, yakni sukacita, cinta, dan kebahagiaan. Ia menegaskan bahwa panggilan hidup, termasuk imamat, pada akhirnya bertujuan membawa manusia pada kebahagiaan sejati. Oleh karena itu, semangat saling membantu, mendukung, dan memperkaya satu sama lain harus terus dikembangkan dalam kehidupan bersama.

Pembekalan ini menjadi bagian penting dalam proses pembinaan para frater, tidak hanya dalam aspek intelektual, tetapi juga dalam pembentukan karakter, spiritualitas, dan kesiapan menjalani panggilan hidup sebagai pelayan Gereja.