Renungan Harian: Tuhan Tidak Pernah Berutang Kebaikan

35

Renungan Harian, 26 Mei 2026
Bacaan I: 1Ptr 1:10-16
Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1.2-3ab.3c-4
Bacaan Injil: Mrk 10:28-31

Tuhan Tidak Pernah Berutang Kebaikan
Mengikuti Yesus dengan sungguh-sungguh sering kali menuntut pengorbanan. Ada waktu yang diberikan, tenaga yang dicurahkan, bahkan materi yang rela dibagikan demi pelayanan dan demi membantu sesama yang menderita. Tidak jarang muncul pertanyaan dalam hati: “Kalau saya terus memberi, apakah saya tidak akan kekurangan?”

Injil hari ini memberi jawaban yang sangat indah. Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” (Mrk 10:28). Yesus pun menegaskan bahwa siapa saja yang rela meninggalkan segala sesuatu demi Dia dan demi Injil akan menerima kembali “seratus kali lipat” bahkan sejak di dunia ini, dan pada akhirnya memperoleh hidup kekal.

Yesus tidak pernah tinggal diam terhadap setiap pengorbanan yang kita persembahkan. Tuhan melihat setiap air mata pelayanan, setiap waktu yang diberikan dengan tulus, setiap bantuan kecil yang kita bagikan kepada sesama. Tidak ada satu pun kebaikan yang hilang di hadapan-Nya.

Sering kali kita justru mengalami bahwa ketika semakin terlibat dalam karya Tuhan, hidup kita semakin dipenuhi berkat. Berkat itu mungkin bukan selalu kekayaan materi, tetapi hati yang damai, sukacita, persaudaraan, kesehatan, pertolongan Tuhan, dan pengalaman iman yang meneguhkan.

Dalam Bacaan Pertama, Santo Petrus mengajak kita hidup kudus: “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu” (1Ptr 1:15). Kekudusan itu nyata dalam keberanian mempersembahkan diri bagi Tuhan dan sesama tanpa perhitungan berlebihan.
Memang benar, dalam berbuat baik kita tidak boleh hanya berorientasi pada imbalan. Namun Tuhan sendiri berjanji bahwa kebaikan yang ditabur tidak akan pernah sia-sia. Apa yang kita persembahkan kepada Tuhan akan menghasilkan buah pada waktunya.

Karena itu, jangan takut memberi diri bagi Tuhan. Jangan takut berbagi dengan sesama. Jangan khawatir berkekurangan ketika menolong orang lain. Percayalah, Tuhan sanggup melipatgandakan segala yang kita persembahkan dengan tulus kepada-Nya.
Tuhan tidak pernah berutang kebaikan kepada anak-anak-Nya.
Tuhan memberkati dan Ave Maria.