Renungan Harian: Kasih yang Setia Sampai Akhir

169

Renungan Harian, Jumat, 14 Agustus 2026
PW Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir
Bacaan I: Yehezkiel 16:1-15.60.63
Mazmur Tanggapan: Yesaya 12:2-3.4bcd.5-6
Bacaan Injil: Matius 19:3-12

Kasih yang Setia Sampai Akhir
Allah adalah kasih. Sejak awal kehidupan, Dia telah mencurahkan kasih-Nya kepada manusia secara utuh dan tanpa syarat. Meskipun manusia berkali-kali jatuh dalam dosa dan mengkhianati perjanjian dengan-Nya, Allah tetap setia. Melalui Nabi Yehezkiel, kita melihat bagaimana Allah mengingat kembali kasih-Nya kepada Israel, walaupun umat-Nya sering berpaling kepada allah-allah lain. Namun kasih Allah tidak pernah berhenti. Ia selalu membuka jalan pengampunan bagi mereka yang mau bertobat.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan kesucian dan keutuhan perkawinan. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:6). Perkawinan bukan sekadar ikatan manusia, tetapi perjanjian kasih yang berakar pada kasih Allah sendiri. Sebagaimana Allah mengasihi umat-Nya dengan kasih yang tak terbagi dan tak berkesudahan, demikian pula suami dan istri dipanggil untuk saling mencintai dengan setia, tulus, dan tanpa syarat.

Kesetiaan memang tidak selalu mudah. Dalam perjalanan hidup, badai persoalan, perbedaan, kekecewaan, bahkan penderitaan dapat mengguncang sebuah hubungan. Namun kasih sejati tidak diukur dari mudah atau sulitnya keadaan, melainkan dari kesediaan untuk tetap bertahan, saling mengampuni, dan terus berjuang bersama. Kasih sejati selalu menuntut pengorbanan dan penyerahan diri.

Teladan Santo Maksimilianus Maria Kolbe yang kita peringati hari ini semakin menegaskan makna kasih sejati. Ia rela menyerahkan hidupnya demi menyelamatkan seorang ayah keluarga di kamp konsentrasi Auschwitz. Pengorbanannya menjadi bukti bahwa kasih yang berasal dari Allah sanggup mengalahkan rasa takut, kebencian, dan maut.

Marilah kita menjaga setiap relasi yang telah Allah percayakan kepada kita: dalam keluarga, dalam hidup beriman, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Jangan biarkan egoisme, amarah, atau kepentingan pribadi memudarkan kasih yang telah Allah tanamkan. Teruslah berharap pada kasih Allah yang senantiasa menguatkan kita untuk tetap setia, walaupun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.

Tuhan memberkati kita semua. Ave Maria.