Renungan Harian: KASIH YANG MELAMPAUI BATAS

5

RENUNGAN HARIAN, Kamis, 10 September 2026
Bacaan I: 1Kor 8:1b-7.11-13
Bacaan Injil: Luk 6:27-38

KASIH YANG MELAMPAUI BATAS
Kasih Allah tercurah tanpa batas. Kasih-Nya mengalir kepada manusia tiada henti dan diberikan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Bahkan ketika manusia berdosa, menjauh dari-Nya, atau menyakiti hati-Nya, Allah tidak pernah berhenti mengasihi.
Inilah yang menjadi dasar panggilan kita sebagai pengikut Kristus: hidup dalam kasih dan mengalirkan kasih kepada semua orang.

Namun, mengasihi bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Kita mungkin dapat mengasihi orang yang baik kepada kita, keluarga yang menyayangi kita, sahabat yang mendukung kita, atau orang-orang yang dapat membalas kebaikan kita. Tetapi bagaimana dengan mereka yang memusuhi kita? Bagaimana dengan orang yang menyakiti hati, mengkhianati, mencaci, atau bahkan berbuat tidak adil kepada kita?

Yesus memberikan jawaban yang sangat jelas:
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Luk 6:27-28).
Perintah Yesus ini bukan sesuatu yang mudah. Secara manusiawi, kita cenderung membalas sakit hati dengan sakit hati, kebencian dengan kebencian, dan kejahatan dengan kejahatan. Ketika seseorang melukai kita, hati kita mudah dipenuhi dendam dan keinginan untuk membalas.

Tetapi Yesus mengajak kita keluar dari lingkaran tersebut. Mengasihi musuh bukan berarti kita harus menyukai semua perbuatannya atau membiarkan diri terus-menerus disakiti. Mengasihi berarti kita tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita. Kita memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita menyerahkan penghakiman kepada Allah dan tetap mendoakan orang tersebut agar menemukan jalan pertobatan.

Karena itu, Yesus berkata: “Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Doa menjadi salah satu bentuk kasih yang paling dalam. Ketika kita mendoakan orang yang menyakiti kita, sebenarnya kita sedang menyerahkan luka kita kepada Tuhan. Kita meminta agar Tuhan menyentuh hati orang tersebut, memberikan pertobatan, dan sekaligus menyembuhkan hati kita sendiri.

Bukankah Yesus telah memberikan teladan yang luar biasa? Ketika disalibkan, Ia tidak membalas dengan kebencian. Ia justru berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya. Kasih Yesus tidak berhenti bahkan di hadapan kebencian manusia.

Bacaan pertama hari ini juga mengingatkan kita bahwa pengetahuan dan kebebasan yang kita miliki jangan sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apa yang kita lakukan harus mempertimbangkan keselamatan dan kebaikan sesama. Sebab kasih tidak hanya bertanya, “Apa yang boleh saya lakukan?”, tetapi juga bertanya, “Apakah yang saya lakukan membawa kebaikan bagi orang lain?”

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada seseorang yang masih sulit kita maafkan. Ada luka yang belum sembuh. Ada pengkhianatan yang masih kita ingat. Ada perkataan yang terus terngiang dalam hati.

Hari ini, Yesus mengajak kita mengambil langkah kecil: berhentilah memelihara dendam dan mulailah mendoakan orang itu. Mungkin kita belum mampu memeluknya. Mungkin kita belum mampu berbicara dengannya. Tetapi kita dapat mulai dengan doa. Kita berkata kepada Tuhan: “Tuhan, aku serahkan orang ini kepada-Mu. Berkatilah dia, ubahlah hatinya, dan sembuhkan juga hatiku.” Ketika kita mampu melakukan itu, perlahan-lahan hati kita dibebaskan dari kebencian.

Karena itu, marilah kita membuka hati dan belajar bermurah hati kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang pernah melukai kita. Jangan biarkan dendam menghancurkan kedamaian hati kita. Jangan biarkan kebencian membuat kita kehilangan wajah Kristus dalam diri kita. Yesus berkata: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Luk 6:36).

Tuhan memberkati. Ave Maria.