Renungan Harian: Mengampuni Tanpa Batas

1

Renungan Harian – 13 Agustus 2026
Bacaan I: Yehezkiel 12:1-12
Bacaan Injil: Matius 18:21–19:1

Mengampuni Tanpa Batas
Allah yang kita imani adalah Allah yang penuh belas kasih dan pengampunan. Kasih-Nya tidak pernah habis, dan rahmat-Nya selalu terbuka bagi setiap orang yang dengan rendah hati datang kepada-Nya. Betapa pun besar dosa yang telah kita lakukan, ketika kita sungguh menyesal dan bertobat, Allah tidak menolak kita. Sebaliknya, Dia menyambut kita dengan kasih seorang Bapa yang selalu merindukan anak-anak-Nya kembali.

Karena telah menerima pengampunan yang begitu besar dari Allah, kita pun dipanggil untuk menjadi pribadi yang mudah mengampuni. Dalam Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Artinya, pengampunan seorang murid Kristus tidak mengenal batas. Mengampuni bukan sekadar menghitung berapa kali kita memberi maaf, tetapi menjadi sikap hidup yang lahir dari kasih Allah sendiri.

Memang mengampuni bukanlah perkara mudah. Luka, penghinaan, pengkhianatan, dan kata-kata yang menyakitkan sering kali meninggalkan bekas yang mendalam. Namun, bila kita terus memelihara dendam, sesungguhnya kita sedang memenjarakan diri sendiri. Dendam tidak pernah menghadirkan damai, melainkan hanya memperpanjang penderitaan. Sebaliknya, pengampunan membebaskan hati, memulihkan relasi, dan menghadirkan sukacita yang berasal dari Allah.

Bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel mengingatkan bahwa Allah selalu menghendaki pertobatan umat-Nya. Ia tidak berhenti memanggil manusia untuk meninggalkan jalan yang salah dan kembali kepada-Nya. Pertobatan sejati tidak hanya tampak dalam doa dan penyesalan, tetapi juga dalam kesediaan mengampuni sesama sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengampuni kita.

Marilah kita membuka pintu pengampunan setiap hari. Balaslah kebencian dengan kasih, caci maki dengan kelembutan, dan kejahatan dengan kebaikan. Dengan demikian, kita menjadi saksi nyata belas kasih Allah di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Tuhan memberkati. Ave Maria.