Jejak Awal Misi Katolik di Pulau Papua Bagian Barat Dimulai dari Sekru Fakfak

40

SORONG, KOMSOSKMS.ORG — Sejarah kehadiran Gereja Katolik di wilayah pulau Papua bagian Barat bermula dari kedatangan seorang misionaris Serikat Yesus, Cornelis Le Cocq d’Armandville, yang mendarat di Kampung Sekru, dekat Fakfak, pada 22 Mei 1894. Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai tonggak awal kehadiran resmi misi Katolik di tanah Papua bagian Barat.

Sebelum tiba di Papua, Le Cocq d’Armandville telah menjalankan karya pelayanan di wilayah Flores dan Kepulauan Kei pada periode 1884–1891. Ia kemudian melanjutkan pelayanannya di Seram pada tahun 1891. Dari Bomfia di Seram, ia melakukan perjalanan menyusuri pesisir hingga akhirnya mencapai daratan Papua.

Kampung Sekru pada masa itu bukanlah kota atau desa dalam pengertian administratif modern. Wilayah tersebut merupakan kawasan permukiman yang tersebar di sepanjang pesisir dan lereng perbukitan yang dipenuhi pohon pala. Posisi Sekru yang strategis dalam jalur perdagangan rempah-rempah menjadikannya tempat persinggahan kapal-kapal dagang dan pusat aktivitas ekonomi lokal melalui keberadaan gudang-gudang pala.

Situasi tersebut membuka ruang interaksi antara masyarakat setempat dengan para pendatang, termasuk para misionaris Katolik. Dalam menjalankan karya pastoralnya, Le Cocq d’Armandville memilih pendekatan inkulturatif dengan mengunjungi masyarakat secara langsung, baik di permukiman maupun di kebun-kebun mereka.

Walaupun menghadapi kendala bahasa dan perbedaan budaya, ia berusaha membangun relasi melalui sapaan, senyuman, dan sikap persahabatan. Pada usia sekitar 50 tahun, ia tetap berupaya mempelajari bahasa setempat dan berhasil mengumpulkan sekitar 1.200 kosakata selama pelayanannya, khususnya di stasi Kapaur.

Pendekatan tersebut membuahkan hasil positif. Masyarakat mulai menerima kehadirannya dan membuka diri terhadap ajaran Katolik. Dalam sepuluh hari pertama pelayanannya, ia berhasil membaptis 73 anak. Setahun kemudian, tepatnya pada 1896, ia kembali membaptis 86 orang di Kapaur.

Meski harus menghadapi medan geografis yang berat, keterbatasan sarana transportasi, serta hambatan komunikasi, semangat misioner Le Cocq d’Armandville tetap kuat. Setelah melalui pergulatan batin mengenai tempat pelayanannya, ia memutuskan menetap di Papua sambil tetap mengunjungi Bomfia secara berkala.

Pada 28 April 1895, ia kembali ke Papua bersama Bruder Zinken dan Bruder Te Boekhorst. Setibanya di Fakfak, mereka mendirikan tempat tinggal sementara dan kemudian membangun pastoran sekitar 150 meter dari garis pantai.

Tidak hanya fokus pada pelayanan sakramental, Le Cocq d’Armandville juga memberi perhatian pada bidang pendidikan. Ia mendirikan sebuah sekolah dasar dengan sepuluh murid dan seorang guru Protestan asal Ambon bernama Christianus Pelletimu. Langkah tersebut menunjukkan bahwa karya misi juga diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan.

Semangat pastoral mendorongnya memperluas pelayanan hingga ke wilayah Kipia dan Mimika pada tahun 1896. Namun, dalam perjalanan tersebut, tepatnya pada 27 Mei 1896, ia meninggal dunia dalam keadaan yang tidak sepenuhnya jelas saat hendak kembali ke kapalnya menggunakan sampan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia diduga menjadi korban pembunuhan oleh awak perahu yang mendampinginya, lalu jenazahnya ditenggelamkan di laut.

Peristiwa itu memberi dampak besar terhadap keberlangsungan karya misi Katolik di Papua. Stasi Kapaur sempat ditutup dan para tenaga misi ditarik kembali ke Langgur.

Meski demikian, karya misi tidak berhenti. Pada tahun 1902 dibentuk Prefektur Apostolik Nederland Nieuw Guinea sebagai pemekaran dari Vikariat Apostolik Batavia dan dipercayakan kepada Kongregasi MSC (Missionarii Sacratissimi Cordis). Matthias Neyens ditunjuk sebagai Prefek Apostolik pertama.

Dalam kunjungannya ke Fakfak pada tahun 1904, Neyens menemukan sekitar 30 umat Katolik yang sebelumnya telah dibaptis oleh Le Cocq d’Armandville. Ia juga mendapati adanya minat masyarakat setempat untuk menerima baptisan. Hal tersebut menunjukkan bahwa benih-benih iman yang ditanam para misionaris awal tetap bertahan di tengah berbagai tantangan.

Perkembangan misi Katolik di Papua juga dipengaruhi kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Berdasarkan aturan pemerintah Hindia Belanda, kegiatan misi Kristen memerlukan izin khusus dari Gubernur Jenderal. Pemerintah kolonial kemudian membagi wilayah pelayanan antara misi Katolik dan Protestan, di mana wilayah utara Papua diperuntukkan bagi Protestan, sedangkan wilayah selatan menjadi area pelayanan Katolik.

Kebijakan tersebut membatasi ruang gerak misi Katolik sehingga pelayanan lebih difokuskan kepada umat Katolik yang telah ada, terutama para pegawai dan aparat pemerintah kolonial.

Perjalanan Gereja Katolik di Papua terus berkembang. Pada tahun 1915, kepemimpinan Prefektur Apostolik beralih kepada Pater Nollen, MSC. Selanjutnya, pada 29 Agustus 1920, status Prefektur Apostolik Nederland Nieuw Guinea ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Nederland Nieuw Guinea dengan Jacobus Aerts sebagai Vikaris Apostolik pertama.

Perubahan status tersebut menjadi penanda penting dalam perkembangan institusional Gereja Katolik di Papua dan menunjukkan pertumbuhan karya misi yang semakin signifikan di wilayah tersebut.

Secara keseluruhan, kehadiran dan karya Cornelis Le Cocq d’Armandville menjadi tonggak awal sejarah Gereja Katolik di Papua Barat. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, benih-benih iman yang ditanam para misionaris awal akhirnya menjadi dasar pertumbuhan Gereja Katolik di Tanah Papua hingga saat ini.

(Tim Komsos KMS )