TAMPUSU, KOMSOSKMS.ORG — Rangkaian Retret Tahunan Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong yang berlangsung sejak 8 hingga 12 Juni 2026 di Pertapaan CSE Tampusu resmi ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh pembimbing retret Uskup Petrus Bodeng Timang.

Selama lima hari retret, para imam diosesan diajak untuk memperdalam kehidupan rohani melalui doa, refleksi, Adorasi Sakramen Mahakudus dan permenungan dengan tema “Ite Ad Ioseph, Per Ioseph Ad Jesum. Yusuf: Pendengar dan Pelaksana Sabda.” Uskup Timang sendiri bertindak sebagai pembimbing retret dan menyampaikan sejumlah renungan yang menyoroti spiritualitas Santo Yusuf sebagai teladan kesetiaan dalam mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah.
Dalam homili penutupan, Uskup Timang mengajak para imam untuk meneladani Santo Barnabas yang diperingati Gereja pada hari itu. Mengutip Kisah Para Rasul, ia menegaskan bahwa Barnabas dikenal sebagai pribadi yang baik, penuh Roh Kudus, dan memiliki iman yang teguh.
“Barnabas tidak dikenal karena strategi yang hebat atau kemampuan berbicara yang luar biasa, melainkan karena kualitas hidupnya. Ia seorang yang baik, penuh Roh Kudus, dan beriman. Karena itulah banyak orang datang kepada Tuhan,” ujar Uskup Timang.

Menurutnya, ketiga karakteristik tersebut merupakan kualitas yang juga harus dimiliki setiap imam ketika kembali ke tempat pelayanan masing-masing. Para imam diutus untuk hadir di tengah umat sebagai tanda kasih Allah, terutama bagi mereka yang berada di berbagai bentuk “pinggiran”, baik secara geografis, sosial, budaya, maupun spiritual.
Uskup Timang juga menyoroti peran Barnabas sebagai pendamping yang mampu melihat potensi dalam diri orang lain. Ia mengingatkan bagaimana Barnabas menerima Saulus yang baru bertobat ketika banyak orang masih meragukannya, serta mendampingi Markus yang pernah gagal dalam perjalanan misi.
“Barnabas melihat potensi yang tersembunyi dalam diri orang lain. Ia memberi kesempatan kedua dan tidak takut memberikan ruang bagi orang lain untuk berkembang. Sikap seperti inilah yang dibutuhkan dalam pelayanan Gereja,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak para imam untuk memiliki pemikiran yang luas dan hati yang besar. Mengutip sebuah ungkapan terkenal, Uskup Timang mengatakan bahwa orang-orang besar berbicara tentang gagasan dan masa depan, sementara orang-orang yang berpikiran sempit lebih sibuk membicarakan kekurangan sesamanya.
“Marilah kita menjadi imam-imam yang memiliki great minds dan great hearts, pemikiran yang besar dan hati yang luas. Hati yang menerima tanpa syarat dan melayani tanpa pamrih,” pesannya.
Menjelang akhir homili, Uskup Timang membagikan kisah dua pengusaha Jepang yang lupa membawa kunci kamar setelah mendaki puluhan lantai melalui tangga. Kisah tersebut digunakan sebagai ilustrasi untuk mengingatkan para imam agar tidak melupakan “kunci” yang diperoleh selama retret.
“Kunci yang kita pelajari selama hari-hari retret ini adalah kesetiaan. Kesetiaan Santo Yusuf dan Santa Perawan Maria. Dengan kunci kesetiaan itu kita mampu menjalankan perutusan yang dipercayakan Tuhan kepada kita serta membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kesetiaan harus terus dipegang dalam setiap tugas dan pelayanan yang dipercayakan Gereja kepada para imam.
Perayaan penutupan retret diakhiri dengan sambutan Ketua Unio Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong, Pastor Emanuel Tenau, yang menyampaikan apresiasi kepada Uskup Timang atas pendampingan yang diberikan selama retret berlangsung.
“Atas nama seluruh imam diosesan, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup yang telah membimbing kami melalui renungan-renungan yang mendalam dan memperkaya kehidupan rohani kami,” ujarnya.

Ia berharap retret tahunan tersebut menjadi momentum pembaruan semangat bagi para imam dalam menjalankan tugas pelayanan pastoral di tengah umat. Sebagai ungkapan syukur dan penghargaan, Unio Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong menyerahkan kenang-kenangan kepada Uskup Timang pada akhir perayaan.
Dengan berakhirnya retret tahunan ini, para imam diosesan kembali ke tempat pelayanan masing-masing dengan semangat baru untuk melanjutkan perutusan Gereja, berlandaskan kesetiaan kepada Allah dan dedikasi dalam melayani umat.





