Renungan Harian: MENGIKUTI YESUS, BUKAN SEKADAR MENGAGUMI-NYA

5

RENUNGAN HARIAN — 30 SEPTEMBER 2026
PW Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan I: Ayb 9:1-12.14-16
Mazmur: Mzm 88:10bc-11.12-13.14-15
Injil: Luk
9:57-62

MENGIKUTI YESUS, BUKAN SEKADAR MENGAGUMI-NYA
“Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” (Luk 9:57).

Mengikuti Yesus adalah kerinduan setiap orang yang percaya. Namun, Injil hari ini mengingatkan bahwa mengikuti Kristus bukan sekadar ungkapan kata-kata atau perasaan kagum kepada-Nya. Mengikuti Yesus berarti berani menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya, termasuk ketika jalan yang harus ditempuh tidak mudah.

Kita hidup dalam zaman yang sangat menawarkan kenyamanan. Kita terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, mudah, dan instan. Dunia digital membuat kita mudah mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita pun sering tergoda untuk mengejar kenyamanan, popularitas, pengakuan, materi, dan berbagai bentuk kesenangan. Tanpa disadari, kelekatan-keletan itu dapat membuat kita semakin jauh dari Tuhan.

Karena itu, pertanyaan penting bagi kita hari ini bukan hanya: “Apakah saya mau mengikuti Yesus?”, tetapi juga: “Apa yang masih membuat saya sulit mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh?”

Yesus tidak menjanjikan jalan yang selalu nyaman. Ia bahkan berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Artinya, menjadi murid Kristus menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Ada saatnya kita harus berkorban, mengampuni ketika disakiti, tetap jujur ketika kejujuran merugikan kita, melayani ketika tidak dihargai, dan tetap berbuat baik ketika kebaikan kita tidak dibalas.

Di sinilah iman kita diuji. Ayub memberikan teladan yang kuat. Dalam penderitaan dan ketidakpastian, ia tidak memahami seluruh rencana Allah. Namun, ia tetap merendahkan diri di hadapan-Nya. “Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku” (Ayb 9:15).

Sering kali ketika masalah datang, kita bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” Kita mudah kecewa, mengeluh, bahkan menjauh dari Tuhan. Ayub mengajarkan sesuatu yang berbeda: ketika kita tidak memahami jalan Tuhan, kita tetap dapat mempercayai Tuhan.

Kesetiaan kepada Kristus bukan berarti kita tidak pernah lemah atau tidak pernah menangis. Kesetiaan berarti kita tidak meninggalkan Tuhan ketika hidup menjadi berat.

Santo Hieronimus, yang kita peringati hari ini, memberikan teladan melalui kecintaannya pada Sabda Allah. Ia mengabdikan hidupnya untuk mempelajari dan menerjemahkan Kitab Suci agar Sabda Allah semakin dikenal dan dihidupi umat beriman. Bagi kita, mencintai Sabda berarti tidak hanya membacanya, tetapi membiarkannya mengubah cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak.

Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sungguh mengikuti Yesus, atau hanya mengikuti-Nya ketika jalan terasa mudah? Hari ini, lepaskanlah sedikit demi sedikit apa yang membuat kita jauh dari Tuhan. Tinggalkan kesombongan, dendam, iri hati, kelekatan berlebihan pada materi, pencarian popularitas, dan berbagai kenyamanan yang membuat kita lupa pada kehendak Allah.

Mengikuti Yesus memang tidak selalu mudah. Tetapi justru dalam kesetiaan di tengah kesulitan, iman kita dimurnikan. Tuhan tidak meminta kita memahami seluruh jalan hidup. Ia meminta kita percaya dan terus berjalan bersama-Nya.

Semoga melalui teladan Santo Hieronimus, kita semakin mencintai Sabda Allah, dan melalui teladan Ayub, kita belajar tetap setia dalam penderitaan. Semoga kita memiliki keberanian untuk mengikuti Kristus bukan hanya ketika jalan-Nya mudah, tetapi juga ketika Ia membawa kita melewati jalan salib.
Tuhan memberkati. Ave Maria!