Renungan Harian: Membangun Bonum Commune

4

Renungan Harian, Selasa, 02 Juni 2026
Bacaan I: 2Ptr 3:12-15a.17-18
Bacaan Injil: Mrk 12:13-17

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya hidup sebagai umat beriman, tetapi juga sebagai warga negara. Keduanya bukanlah dua identitas yang saling bertentangan, melainkan dua panggilan yang harus dijalani secara seimbang dan bertanggung jawab. Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk mengasihi Allah. Sebagai warga negara, kita dipanggil untuk mengusahakan kesejahteraan bersama dan menaati hukum yang berlaku demi kebaikan bersama.

Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi dan Herodian berusaha menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang tulus, melainkan jebakan yang dirancang untuk menjatuhkan-Nya. Jika Yesus menolak pembayaran pajak, Ia dapat dituduh melawan pemerintah Romawi. Sebaliknya, jika Ia mendukung pembayaran pajak, Ia dapat dituduh mengutamakan kekuasaan duniawi daripada Allah.

Namun, Yesus dengan penuh kebijaksanaan menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mrk 12:17). Jawaban ini tidak hanya membungkam para penjebak-Nya, tetapi juga memberikan pedoman penting bagi kehidupan orang beriman. Yesus mengajarkan bahwa menjalankan kewajiban sebagai warga negara tidak bertentangan dengan kesetiaan kepada Allah. Justru keduanya harus berjalan bersama secara harmonis.

Gereja Katolik senantiasa mengajarkan pentingnya membangun kerja sama dengan negara demi terwujudnya bonum commune, yaitu kesejahteraan bersama. Karena itu, seorang Katolik dipanggil untuk menjadi warga negara yang baik: taat pada hukum yang adil, berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat, menjaga persatuan, dan memperjuangkan keadilan. Pada saat yang sama, ia tetap setia kepada Allah melalui doa, sakramen, dan kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai Injil.

Rasul Petrus dalam bacaan pertama juga mengingatkan agar kita terus bertumbuh dalam rahmat dan pengenalan akan Tuhan. Pertumbuhan iman itu harus tampak dalam tindakan nyata, termasuk dalam tanggung jawab sosial dan kebangsaan kita. Iman yang matang tidak membuat seseorang menjauh dari masyarakat, melainkan mendorongnya untuk semakin aktif menjadi pembawa damai, keadilan, dan kasih di tengah dunia.

Kita dapat belajar dari semboyan terkenal Uskup pribumi pertama Indonesia, Albertus Soegijapranata: “100% Katolik, 100% Indonesia.” Semboyan ini mengingatkan bahwa kesetiaan kepada Gereja dan kecintaan kepada tanah air bukanlah dua hal yang saling meniadakan, tetapi dua panggilan yang saling melengkapi. Menjadi Katolik yang baik berarti juga menjadi warga negara yang baik.

Semoga melalui sabda Tuhan hari ini, kita semakin mampu mempersembahkan hidup kita bagi kemuliaan Allah dan sekaligus bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Dengan demikian, kehadiran kita sungguh menjadi garam dan terang bagi dunia.

Tuhan memberkati. Ave Maria.