RENUNGAN HARIAN — 26 SEPTEMBER 2026
Bacaan I: Pkh 11:9–12:8
Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17
Bacaan Injil: Luk 9:43b-45
Jangan Biarkan Hidup Berlalu Sia-sia
Kita sering merasa masih memiliki banyak waktu. Karena itu, kita menunda berbuat baik, menunda berdamai, menunda meminta maaf, menunda melayani, bahkan menunda mendekat kepada Tuhan. Kita sibuk mengejar banyak hal, tetapi kadang lupa bahwa waktu yang berlalu tidak pernah kembali.
Hidup di dunia ini tidak abadi. Karena itu, yang penting bukan berapa lama kita hidup, tetapi apa yang kita lakukan dengan waktu yang Tuhan percayakan kepada kita.
Pengkotbah mengingatkan, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang” (Pkh 12:1). Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan kita sekarang. Jangan sampai seluruh tenaga, pikiran, dan waktu kita habiskan hanya untuk mengejar pekerjaan, uang, jabatan, popularitas, atau kenyamanan, sementara hubungan kita dengan Tuhan semakin jauh.
Setiap hari sebenarnya Tuhan memberikan kesempatan baru: kesempatan untuk berbuat baik, mengampuni, membantu sesama, melayani keluarga, bekerja dengan jujur, dan menjadi berkat bagi orang lain. Hal-hal sederhana yang kita lakukan dengan kasih tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.
Namun, jalan kebaikan tidak selalu mudah. Ada kalanya kita harus mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan keinginan pribadi. Dalam Injil hari ini, ketika orang banyak sedang mengagumi karya Yesus, Ia justru berbicara tentang penderitaan-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia” (Luk 9:44).
Para murid belum memahami perkataan itu. Mereka mungkin berharap Yesus membawa kemenangan dan kemuliaan, tetapi Yesus menunjukkan bahwa jalan keselamatan harus melewati salib.
Demikian pula dalam kehidupan kita. Kita sering menginginkan hidup yang mudah: pekerjaan yang lancar, keluarga tanpa masalah, pelayanan tanpa tantangan, dan iman tanpa pengorbanan. Tetapi mengikuti Kristus berarti berani keluar dari zona nyaman. Ada saatnya kita harus bersabar ketika disakiti, tetap jujur ketika ketidakjujuran tampak lebih menguntungkan, mengampuni ketika hati terluka, dan tetap melayani meskipun tidak dihargai.
Salib bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Salib dapat menjadi jalan yang Tuhan pakai untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih matang dalam iman.
Karena itu, jangan biarkan hari-hari kita berlalu tanpa makna. Mari gunakan setiap kesempatan untuk menaburkan kebaikan. Apa yang kita lakukan hari ini mungkin tampak kecil, tetapi di tangan Tuhan dapat menjadi benih keselamatan bagi diri kita dan sesama.
Mintalah kepada Tuhan hati yang bijaksana agar kita mampu menghitung hari-hari hidup kita. Semoga kita tidak hanya sibuk menjalani hidup, tetapi sungguh-sungguh menghidupi kehidupan sebagai anugerah Tuhan.
Tuhan memberkati. Ave Maria!





