RENUNGAN HARIAN, Jumat, 25 September 2026
Bacaan I: Pkh 3:1-11
Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1a.2abc.3-4
Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45
Bacaan Injil: Luk 9:18-22
Belajar Percaya pada Waktu dan Karya Allah
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Teknologi membuat segala sesuatu terasa harus segera: ingin sukses secepatnya, ingin mendapatkan hasil seketika, ingin dikenal dalam waktu singkat, bahkan ingin semua persoalan hidup selesai tanpa melalui proses yang panjang. Media sosial pun sering membuat kita membandingkan perjalanan hidup kita dengan keberhasilan orang lain.
Dalam situasi seperti ini, Kitab Pengkhotbah mengingatkan kita: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” (Pkh 3:1). Sabda ini mengajak kita untuk belajar menerima bahwa hidup memiliki proses dan setiap proses mempunyai waktunya sendiri. Tidak semua hal harus terjadi sesuai dengan keinginan dan jadwal kita. Ada waktu untuk menanam dan ada waktu untuk menuai; ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk berjuang dan ada waktu untuk menikmati hasilnya.
Sering kali kita sulit memahami mengapa Tuhan membiarkan sesuatu terjadi dalam hidup kita. Kita berdoa, tetapi jawaban seakan tertunda. Kita bekerja keras, tetapi hasil belum terlihat. Kita berbuat baik, tetapi justru mengalami penolakan. Dalam keadaan seperti itu, kita mudah bertanya: “Di mana Tuhan?”
Namun, diamnya Tuhan bukan berarti Ia berhenti berkarya.
Allah tetap bekerja, bahkan ketika karya-Nya belum mampu kita pahami. Rencana-Nya jauh melampaui apa yang dapat kita lihat dan pikirkan. Karena itu, iman bukan hanya percaya ketika semuanya berjalan sesuai keinginan kita, tetapi juga tetap percaya ketika kita belum mengerti jalan yang sedang Tuhan tunjukkan.
Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada para murid, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20). Petrus menjawab, “Mesias dari Allah.” Pengakuan Petrus ini kemudian dibawa Yesus kepada pemahaman yang lebih dalam. Mesias yang diutus Bapa bukanlah Mesias yang mencari kemuliaan duniawi. Ia justru harus menanggung penderitaan, ditolak, dibunuh, dan bangkit pada hari ketiga.
Di sinilah kita menemukan misteri kasih Allah. Keselamatan tidak lahir dari jalan yang mudah, tetapi melalui pengorbanan Kristus. Salib bukan akhir dari karya Allah, melainkan jalan menuju kebangkitan.
Pesan ini sangat relevan bagi kita hari ini. Jangan mengukur karya Allah hanya dari keberhasilan yang tampak di mata manusia. Jangan menganggap hidup gagal hanya karena perjalanan kita lebih lambat daripada orang lain. Jangan pula kehilangan iman hanya karena doa kita belum mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan.
Allah tidak pernah terlambat. Ia bekerja dalam waktu-Nya. Karena itu, marilah kita belajar setia dalam setiap musim kehidupan. Ketika sedang diberi keberhasilan, bersyukurlah. Ketika sedang mengalami kesulitan, tetaplah berharap. Ketika harus menunggu, belajarlah bersabar. Ketika menghadapi penderitaan, jangan kehilangan iman.
Setiap peristiwa hidup dapat menjadi ruang bagi Allah untuk berkarya. Bahkan pengalaman yang paling berat sekalipun dapat menjadi jalan bagi pertumbuhan iman, pemurnian hati, dan kedewasaan hidup.
Pada akhirnya, pertanyaan Yesus kepada Petrus juga menjadi pertanyaan bagi kita masing-masing: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawaban kita tidak cukup hanya dengan kata-kata. Jawaban itu harus tampak dalam cara kita menjalani hidup: tetap percaya ketika belum mengerti, tetap berharap ketika keadaan sulit, tetap mengasihi ketika disakiti, dan tetap setia ketika hasil belum terlihat.
Mari menempatkan seluruh karya dan perjalanan hidup kita dalam tangan Allah. Sebab kita boleh tidak memahami seluruh rencana-Nya, tetapi kita dapat percaya bahwa kasih-Nya selalu menyertai kita.
Jangan biarkan cepatnya zaman membuat kita kehilangan kesabaran. Jangan biarkan pencapaian orang lain membuat kita meragukan perjalanan sendiri. Setiap orang mempunyai waktunya, setiap proses mempunyai maknanya, dan dalam semuanya itu Allah tetap berkarya.
Semoga kita memiliki hati yang tenang untuk menantikan waktu Tuhan, hati yang kuat untuk menjalani proses, dan iman yang teguh untuk percaya bahwa di balik setiap peristiwa hidup, Allah sedang menuntun kita menuju keselamatan.
Tuhan memberkati. Ave Maria!





