Perayaan Hari Komunikasi Sedunia Ke-60, Umat Diajak Bijaksana Bermedia

24
Dalam homilinya, Pastor Frans Katino menegaskan pentingnya menjaga “suara dan wajah manusia” di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin memengaruhi kehidupan manusia.

AYAWASI, KOMSOSKMS.ORG — Umat Paroki Santo Yoseph Ayawasi merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-60 dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Manokwari-Sorong, RD. Frans Katino, pada Minggu (17/5/2026). Perayaan tersebut dihadiri ratusan umat paroki Santo Yoseph, Ayawasi. 

Perayaan Minggu Komunikasi Sosial Sedunia Ke-60 di Paroki Santo Yoseph Ayawasi berlangsung khidmat

Dalam homilinya, Pastor Frans Katino menegaskan pentingnya menjaga “suara dan wajah manusia” di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin memengaruhi kehidupan manusia. Tema tersebut diangkat oleh Pope Leo XIV dalam peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-60 tahun ini.

Komunikasi sebagai Pewartaan Iman dan Kasih
Mengacu pada bacaan Injil Yohanes 17:3, Pastor Frans mengingatkan bahwa Yesus tidak hanya menyampaikan sabda, tetapi juga menghadirkan kasih Allah melalui hidup-Nya. Para murid dipanggil menjadi pewarta yang berbicara dengan hati agar semakin banyak orang mengenal Allah dan memperoleh hidup yang kekal.

“Para murid menjadi komunikator iman, harapan, dan kasih. Panggilan itu tetap berlaku bagi kita di zaman sekarang,” ujar Pastor Frans dalam homilinya.

Dalam homilinya, Pastor Frans Katino menegaskan pentingnya menjaga “suara dan wajah manusia” di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin memengaruhi kehidupan manusia.

Ia menegaskan bahwa komunikasi sejati bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menghadirkan diri, membangun perjumpaan, dan memancarkan kasih Allah kepada sesama.

Tantangan Komunikasi di Era Digital
Pastor Frans menilai perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat dalam mempercepat komunikasi dan memperluas relasi antarmanusia. Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat tantangan besar ketika manusia kehilangan wajah kemanusiaan, suara hati, dan kejujuran dalam berkomunikasi.

Menurutnya, teknologi seharusnya membantu manusia menjadi semakin manusiawi, bukan justru menjauhkan manusia dari kasih dan kebenaran.

Ia juga mengingatkan umat agar bijaksana menggunakan media sosial dan kecerdasan buatan sebagai sarana pewartaan Injil, penyebaran damai, penghiburan, persaudaraan, dan harapan. Di sisi lain, umat diminta waspada terhadap penyebaran hoaks, ujaran kebencian, fitnah, serta komunikasi yang melukai sesama.

Kaum Muda Diajak Menjadi “Komunikator Harapan”
Secara khusus, kaum muda diajak menjadi “komunikator harapan” di tengah dunia digital. Generasi muda didorong menggunakan teknologi untuk menghadirkan terang Kristus, membawa damai, serta menyebarkan kasih dan kebenaran, bukan sekadar mengejar popularitas.

“Kaum muda dipanggil menjadi pembawa damai dan harapan di tengah dunia digital yang terus berkembang,” kata Pastor Frans.

Komunikasi Kasih dalam Kehidupan Masyarakat Papua
Dalam konteks kehidupan masyarakat Papua yang kaya budaya dan persaudaraan, Pastor Frans menilai komunikasi kasih tampak nyata dalam semangat kebersamaan, saling menghormati, dan menerima satu sama lain antarsuku maupun antarumat manusia.

Pastor Frans Katino mengajak umat menggunakan media digital bukan untuk melukai atau memecah belah, melainkan untuk menyembuhkan, mempersatukan, dan menghadirkan kasih Kristus bagi dunia.

Menurutnya, budaya Papua yang menjunjung persaudaraan menjadi wujud nyata komunikasi yang memanusiakan sesama dan menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih.

Ajakan Bijaksana Bermedia
Pastor Frans mengajak umat menggunakan media digital bukan untuk melukai atau memecah belah, melainkan untuk menyembuhkan, mempersatukan, dan menghadirkan kasih Kristus bagi dunia.

“Hari Komunikasi Sedunia ini mengajak kita bertanya: apakah kata-kata kita membawa harapan? Apakah media sosial kita menghadirkan damai? Apakah komunikasi kita sungguh memanusiakan sesama?” katanya.

Perayaan ditutup dengan ajakan kepada seluruh umat agar semakin bijaksana dalam bermedia, setia pada kebenaran, serta mampu menjaga suara dan wajah manusia di tengah perkembangan teknologi modern.

“Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi,” demikian pesan Pope Leo XIV yang kembali ditegaskan dalam perayaan tersebut.