Pastor Yakobus Boby Arwelembun, OSA Rayakan Misa Perdana di Paroki Emaus

60

SORONG, KOMSOSKMS.ORG — Perayaan syukur dan Misa Perdana Pastor Yakobus Boby Arwelembun, OSA, berlangsung meriah di Paroki Emaus, Minggu (30/8/2026). Perayaan yang dipersatukan dengan Misa Hari Minggu tersebut dihadiri oleh ratusan umat Paroki Emaus.

 

Perarakan Imam Baru menuju Gereja Emaus, (30/8/2026)

Misa dipimpin langsung oleh Pastor Yakobus Boby Arwelembun, OSA, yang akrab disapa Pastor Boby. Ia didampingi Vikaris Christus Totus Papua, RP. Floridus Angelus Nadja, OSA, Pastor Paroki Emaus, serta belasan imam konselebran.

Perayaan diawali dengan perarakan imam baru menuju gereja. Setelah tiba di dalam gereja, perayaan dilanjutkan dengan Ekaristi Kudus sebagai ungkapan syukur atas rahmat panggilan dan tahbisan imamat yang telah diterima Pastor Boby.

Dalam bincang-bincang bersama Komsos, Pastor Boby mengungkapkan makna motto tahbisannya yang diambil dari Injil Yohanes 10:11: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”

Perayaan syukur dan Misa Perdana Pastor Yakobus Boby Arwelembun, OSA, berlangsung meriah di Paroki Emaus, Minggu (31/8/2026).

Menurutnya, motto tersebut menggambarkan hakikat panggilan menjadi imam sebagai sebuah pilihan bebas untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

“Pilihan menjadi imam merupakan pilihan yang muncul dari kebebasan diri untuk memberikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ada bentuk penyerahan diri kepada Tuhan,” ungkapnya.

Pastor Boby merefleksikan perjalanan panggilannya dalam terang Kristus sebagai Gembala yang Baik. Ia menyadari bahwa Tuhan telah menuntunnya sejak memasuki kehidupan membiara, mulai dari masa novisiat, pendidikan, hingga akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti Tuhan secara lebih sungguh.

“Tuhan adalah Gembala yang menuntun saya, pertama-tama ke tempat yang nyaman, kemudian melindungi saya, hingga pada akhirnya saya menemukan padang rumput yang hijau. Bagi saya, Tuhan sungguh adalah Gembala yang Baik,” katanya.

Misa dipimpin langsung oleh Pastor Yakobus Boby Arwelembun, OSA, yang akrab disapa Pastor Boby. Ia didampingi Vikaris Christus Totus Papua, RP. Floridus Angelus Nadja, OSA, Pastor Paroki Emaus, serta belasan imam konselebran.

Karena Tuhan telah memberikan hidup-Nya bagi manusia, Pastor Boby pun melihat panggilan imamat sebagai bentuk penyerahan diri untuk melayani umat Allah dan menggembalakan mereka.

Menjadi Imam yang Mau Mendengarkan
Sebagai imam baru, Pastor Boby berharap dapat menjadi seorang pastor yang mampu menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman.

“Harapan saya adalah menjadi seorang pastor yang sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang, yaitu pastor yang mau dan siap untuk mendengarkan,” ujarnya.

Baginya, kemampuan mendengarkan merupakan bagian penting dari tugas seorang gembala. Dengan mendengarkan, seorang imam dapat membantu umat menemukan jalan menuju keselamatan.

“Ketika kita mau mendengarkan, di situlah kita mampu membawa orang kepada padang rumput yang hijau, membawa orang kepada keselamatan, sebagaimana Gembala yang Baik itu sendiri,” lanjutnya.

Perjalanan Panggilan
Pastor Boby merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan dibesarkan dalam lingkungan Paroki Emaus. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD St. Wilibrordus, kemudian melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Seminari Petrus van Diepen.

Pastor Bobby menjadi Selebran utama pada perayaan misa perdana yang digelar bertepatan perayaan Hari Minggu Biasa XXII

Pada tahun 2016, ia memutuskan untuk bergabung dengan Ordo Santo Agustinus. Pada tahun yang sama, ia mengucapkan kaul pertama. Selanjutnya, dari tahun 2017 hingga 2021, ia menyelesaikan pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Unika Fajar Timur.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Pastor Boby menjalani masa pastoral di Paroki Imanuel Sanggeng dan tahun karya di Paroki Santo Ambrosius Suswa. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Universitas Katolik Fajar Timur.

Perjalanan panggilannya berlanjut dengan tahbisan diakon pada 8 Desember 2025. Pada 28 Agustus 2026, ia ditahbiskan menjadi imam bersama dua rekan imam dari Ordo Santo Agustinus di Paroki Santo Yoseph Ayawasi.

Dukungan dan Restu Orang Tua
Perjalanan menuju imamat tidak terlepas dari dukungan dan pergulatan bersama keluarga. Pastor Boby mengakui bahwa pada awalnya sang mama merasa berat menerima keputusan dirinya untuk masuk biara.

Sebagai anak pertama, ia menyadari bahwa ada banyak harapan dan tanggung jawab keluarga yang melekat padanya, terutama dalam memperhatikan orang tua.

Namun, Pastor Boby berusaha memberikan pemahaman kepada orang tuanya bahwa meskipun dalam kehidupan membiara ia tidak dapat banyak membantu keluarga secara langsung, ia tetap dapat mendoakan dan membawa keluarganya dalam doa.

“Dengan pemahaman tersebut, mama pada akhirnya mengizinkan saya untuk bergabung dengan Ordo Santo Agustinus,” ungkapnya.

Dukungan tersebut terus diberikan hingga ia mengucapkan kaul kekal dan kemudian mengambil keputusan untuk melangkah menuju tahbisan imamat. Kedua orang tuanya akhirnya memberikan restu dan mendukungnya hingga ia ditahbiskan menjadi imam.

Bersyukur dan Merasa Lebih Bebas
Setelah menerima tahbisan imamat, Pastor Boby mengaku merasakan sukacita dan kebebasan yang semakin besar dalam menjalani panggilannya.

“Pada akhirnya, saya merasa bersyukur dan merasa lebih bebas. Saya merasa bahwa Tuhan masih mencintai saya dan masih memilih saya untuk bekerja di ladang-Nya,” tuturnya.

Ia menyadari dirinya dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam membantu sesama melalui pelayanan dan membawa umat kepada keselamatan.

Sukacita atas Bertambahnya Imam
Sementara itu, Vikaris Christus Totus Papua, RP. Floridus Angelus Nadja, OSA, mengungkapkan rasa sukacita dan syukur atas tahbisan tiga imam dari Ordo Santo Agustinus.

Menurutnya, para imam yang baru ditahbiskan bukan hanya menjadi imam untuk kelompok atau wilayah tertentu, tetapi menjadi imam Gereja Katolik yang dipanggil untuk melayani secara universal.

“Kita patut bersyukur dan berterima kasih karena sebagai umat, kita mendapatkan tambahan tenaga imamat,” ungkap P. Nadja.

Ia berharap kehadiran imam-imam baru dapat membantu memenuhi kebutuhan pelayanan pastoral, terutama di tempat-tempat yang masih mengalami kekurangan tenaga imam.

“Dengan bertambahnya imam, mereka dapat membantu dan mengisi tempat-tempat yang masih kosong. Itu tanggapan saya: syukur, syukur, dan puji Tuhan,” katanya.

P. Nadja juga menitipkan harapan agar para imam baru mampu menjadi imam yang kudus, baik, dan matang serta setia menghidupi panggilan imamat sampai akhir hayat.

Menurutnya, semangat yang besar pada awal perjalanan imamat perlu terus dipelihara karena para imam akan berhadapan dengan berbagai tantangan kehidupan dan perkembangan zaman.

“Mereka harus tetap bersemangat, tetap beriman, dan tetap berharap. Mereka harus selalu berdoa dan terus-menerus mengubah diri dalam menanggapi panggilan tersebut,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan berbagai perubahan zaman dapat menjadi tantangan tersendiri bagi kehidupan dan motivasi imamat. Karena itu, para imam baru diharapkan tidak kehilangan semangat awal dalam menjalani panggilan.

“Harapan saya sederhana: tetap setia, tetap bersemangat, tetap beriman, dan terus menghidupi panggilan imamat sampai akhir hayat,” pungkasnya.

Perayaan syukur penuh sukacita itu dipuncaki dengan jamuan kasih bersama sebagai ungkapan persekutuan dan persaudaraan.