RENUNGAN HARIAN, Kamis, 03 September 2026
PW Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja
Bacaan I: 1Kor 3:18-23
Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Injil: Luk 5:1-11
“Bertolaklah ke Tempat yang Dalam”
Di hadapan Allah, kita sungguh tidak layak. Kita tidak pantas menerima aliran cinta dan kasih sayang-Nya. Sebab, kita adalah manusia yang sering kali mengkhianati-Nya. Kita adalah manusia yang jatuh dalam dosa dan kelemahan.
Namun, ketidaklayakan kita tidak pernah menjadi alasan bagi Allah untuk berhenti mengasihi kita. Justru dalam kelemahan dan keberdosaan kita, kasih Allah semakin nyata. Ia terus membuka tangan-Nya dan mencurahkan cinta-Nya tanpa batas. Bahkan, Ia mengangkat kita menjadi pribadi yang berharga dan menjadikan kita sebagai orang yang dapat diandalkan-Nya.
Allah memanggil kita menjadi teman sekerja-Nya untuk mewartakan kebaikan dan menghadirkan kasih-Nya di tengah dunia.
Dalam Injil hari ini, Petrus, seorang nelayan tangguh, mengalami sendiri bagaimana perjumpaan dengan Yesus mengubah hidupnya. Setelah semalam-malaman bekerja dan tidak mendapatkan apa-apa, Yesus berkata kepadanya: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Luk 5:4)
Petrus mungkin memiliki banyak alasan untuk menolak. Ia seorang nelayan yang berpengalaman dan tahu bahwa saat itu mereka telah bekerja keras tanpa hasil. Namun, ia memilih untuk mendengarkan dan menaati perkataan Yesus.
Ketaatan itu membawa Petrus kepada pengalaman yang luar biasa. Ketika ia menyaksikan kuasa Tuhan, ia semakin menyadari siapa dirinya di hadapan Allah. Ia tersungkur dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” (Luk 5:8)
Petrus menyadari keberdosaannya. Ia tidak menyembunyikan kelemahannya di hadapan Tuhan. Ia berani mengakui dirinya sebagai orang berdosa. Dan justru dari pengakuan yang jujur itu, lahirlah pertobatan.
Kesadaran akan dosa dan keberanian untuk bertobat membuka jalan bagi rahmat pembaruan. Allah tidak menjauh dari orang berdosa yang datang kepada-Nya dengan hati yang remuk. Ia mengampuni, memulihkan, dan memberikan kehidupan baru.
Karena itu, Yesus berkata kepada Petrus:
“Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” (Luk 5:10)
Petrus yang merasa tidak layak justru dipilih menjadi murid dan rekan kerja Tuhan. Masa lalunya tidak menjadi penghalang bagi karya Allah. Kelemahannya tidak membatalkan panggilannya.
Demikian pula dengan kita. Di hadapan Allah, kita adalah orang berdosa dan sungguh tidak layak. Namun, kerahiman-Nya jauh lebih besar daripada dosa-dosa kita. Belas kasih-Nya jauh lebih dahsyat daripada segala kelemahan kita. Ia tidak berhenti mengasihi kita.
Maka, janganlah kita menjauh dari Tuhan karena merasa diri tidak layak. Sebaliknya, marilah kita semakin mendekat kepada-Nya.
Marilah kita bertolak ke tempat yang dalam, masuk lebih jauh ke dalam misteri kasih Allah dan membiarkan diri kita dibentuk oleh-Nya.
Berani mengakui dosa. Berani bertobat. Berani menyerahkan diri. Dan berani mengatakan “ya” ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi rekan kerja-Nya.
Sebab, Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna. Ia mencari hati yang bersedia dibentuk dan diutus oleh-Nya.
Semoga melalui perjumpaan dengan Tuhan, hidup kita terus diperbarui dan kita semakin mampu menjadi saksi kasih serta kerahiman-Nya bagi sesama.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





