Dari Kerinduan Umat Menjadi Paroki: Jejak Kebersamaan Santo Wenseslaus Klawuyuk

11
Ketua Dewan Pastoral Paroki, Lieke Makatuuk, menandai tangani berita acara pelantikan Dewan Paroki perdana Paroki St. Wenseslaus, Klawuyuk, Sorong.

SORONG, KOMSOSKMS.ORG — Setelah berjalan bersama selama bertahun-tahun, kerinduan umat Santo Wenseslaus Klawuyuk akhirnya menemukan jawabannya. Senin, 28 September 2026, Stasi Santo Wenseslaus Klawuyuk resmi ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Santo Wenseslaus Klawuyuk. Bagi umat, peristiwa ini bukan sekadar perubahan status Gereja, melainkan buah dari perjalanan iman, kebersamaan, pengorbanan, dan kerinduan panjang untuk memiliki sebuah paroki yang tumbuh dari dan bersama umat.

Mgr. Hilarion Datus Lega memimpin perayaan Ekaristi peresmian Stasi Santo Wenseslaus menjadi Paroki (28/9/2026).

Perjalanan menuju paroki tersebut tidak berlangsung dalam waktu singkat. Sejarah Santo Wenseslaus Klawuyuk dimulai dari sebuah pemberian sederhana pada 2017. Dari sebidang tanah, umat bersama para pastor dan berbagai pihak membangun sebuah Centrum. Dari Centrum, komunitas berkembang menjadi stasi. Dan setelah melalui proses pertumbuhan dan persiapan, komunitas itu akhirnya memasuki babak baru sebagai sebuah paroki.

Di balik setiap tahap tersebut terdapat umat yang terus berjalan bersama. Ada yang menyumbangkan tanah, tenaga, waktu, pikiran, materi, dan doa. Ada yang membangun, melayani, menghidupkan lingkungan, menghadirkan perayaan iman, dan menjaga kehidupan komunitas. Semua mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Kerinduan yang Tumbuh Bersama Umat
Bagi umat Santo Wenseslaus Klawuyuk, menjadi paroki bukanlah sebuah cita-cita yang muncul tiba-tiba. Kerinduan itu tumbuh seiring perkembangan komunitas dan semakin kuatnya kehidupan iman umat.

Ketua Dewan Pastoral Paroki, Lieke Makatuuk, menandai tangani berita acara pelantikan Dewan Paroki perdana Paroki St. Wenseslaus, Klawuyuk, Sorong.

Ketika jumlah umat bertambah, lingkungan berkembang, kegiatan pastoral semakin aktif, dan kebutuhan pelayanan semakin besar, muncul kesadaran bahwa komunitas ini membutuhkan ruang pelayanan yang semakin mandiri.

Kerinduan tersebut kemudian menjadi energi yang mendorong umat untuk terus berbenah dan mempersiapkan diri.

Karena itu, perjalanan menuju paroki bukan hanya proses dari atas melalui keputusan Gereja. Ia juga merupakan proses yang tumbuh dari bawah: dari kehidupan umat sehari-hari, dari kebutuhan pastoral, dan dari kerinduan umat untuk membangun kehidupan Gereja yang semakin dewasa.

Semuanya Berawal dari Sebidang Tanah
Jejak sejarah Santo Wenseslaus Klawuyuk bermula pada 25 Juni 2017.
Dalam rangkaian Perayaan Ekaristi HUT ke-35 Paroki Santo Petrus Remu, keluarga Bapak Wens Sompie menyerahkan sebidang tanah kepada Keuskupan Manokwari-Sorong.

Tanah tersebut terletak di antara Jalan Sungai Kamundan dan Perumahan DPRD Kota Sorong. Dokumen tanah diserahkan oleh Wens Sompie kepada Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, disaksikan oleh para pastor, notaris, dan umat yang hadir.

Mgr. Hilarion Datus Lega memimpin perayaan Ekaristi peresmian Paroki Santo Wenseslaus Klawuyuk (28/9/2026)

Penyerahan tanah tersebut menjadi awal sebuah perjalanan yang pada saat itu mungkin belum sepenuhnya dibayangkan akan berkembang menjadi sebuah paroki.

Namun, sejarah Gereja kerap bertumbuh melalui langkah-langkah sederhana. Sebidang tanah menjadi tempat pertama bagi sebuah harapan. Dari sana, umat mulai membangun masa depan komunitas imannya.

Kebersamaan yang Membangun Centrum
Harapan tersebut mulai diwujudkan melalui pembangunan Centrum Santo Wenseslaus.
Pada 29 Juni 2018, bertepatan dengan HUT ke-36 Paroki Santo Petrus Remu, Uskup Manokwari-Sorong Mgr. Hilarion Datus Lega meletakkan batu pertama pembangunan Centrum.

Pembangunan kemudian berkembang dengan dukungan berbagai pihak. Pada November 2018, Dewan Paroki, atas restu Uskup Manokwari-Sorong, membeli tambahan tanah seluas 1.000 meter persegi di sekitar lokasi pembangunan.

Di bawah koordinasi Selestinus Paundanan sebagai Ketua Panitia Pembangunan, umat bersama-sama mengambil bagian dalam pembangunan tersebut.

Pastor Paroki Pertama Paroki Santo Wenseslaus Klawuyuk, P. Menanam Kocu, Pr menandatangani berita acara.

Ada yang menyumbangkan tenaga. Ada yang memberikan materi. Ada yang membantu dengan pikiran dan keterampilan. Ada pula yang tidak terlihat dalam proses pembangunan, tetapi menopangnya melalui doa.

Kebersamaan itulah yang akhirnya membuat Centrum Santo Wenseslaus berdiri. Bangunan tersebut kemudian menjadi lebih dari sekadar tempat berkumpul. Ia menjadi rumah bersama bagi umat untuk merayakan Ekaristi, mendengarkan Sabda Allah, menerima pelayanan sakramen, membangun persaudaraan, dan mengembangkan kehidupan menggereja.

Dari Gedung Menjadi Komunitas Iman
Tonggak berikutnya terjadi pada 28 September 2024, ketika Gedung Gereja dan Pastoran Centrum Santo Wenseslaus diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Hilarion Datus Lega.
Pastor Iven Kocu, Pr., ditugaskan melayani Gereja Centrum Santo Wenseslaus Klawuyuk sekaligus menjadi Pastor Rekan Paroki Santo Petrus Remu.

Kehadiran pelayanan pastoral yang semakin teratur membuat kehidupan umat semakin berkembang. Namun, yang paling penting bukanlah semakin lengkapnya fasilitas. Yang bertumbuh adalah komunitasnya.

Umat mulai semakin mengenal satu sama lain, membangun kehidupan lingkungan, mengambil bagian dalam liturgi, menjalankan kegiatan pastoral, dan memikul tanggung jawab bersama. Gereja mulai benar-benar menjadi milik umat.

Dari Lima Menjadi Tujuh Lingkungan
Pertumbuhan komunitas kemudian membawa Santo Wenseslaus memasuki tahap baru. Pada 17 Desember 2025, Gereja Katolik Santo Wenseslaus Centrum ditingkatkan statusnya menjadi Stasi Santo Wenseslaus Klawuyuk.
Saat itu, komunitas yang pada awalnya terdiri dari lima lingkungan berkembang menjadi tujuh lingkungan.

Kini, Stasi Santo Wenseslaus Klawuyuk memiliki 245 kepala keluarga dengan jumlah 1.048 jiwa. Namun, angka tersebut tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan jumlah umat.
Di balik 245 keluarga dan 1.048 jiwa terdapat wajah-wajah umat yang selama bertahun-tahun membangun kehidupan Gereja. Ada keluarga yang setia hadir dalam Ekaristi, para pengurus lingkungan yang melayani, kaum muda yang terlibat, para orang tua yang mewariskan iman, serta banyak pribadi yang mengambil bagian dalam kehidupan komunitas.

Pertumbuhan jumlah umat sekaligus memperkuat kerinduan untuk memiliki sebuah paroki yang mampu menjawab kebutuhan pastoral mereka secara lebih dekat dan mandiri.

Kerinduan Itu Mendapat Jawaban
Kerinduan umat tersebut kemudian bertemu dengan proses kelembagaan Gereja. Pada 18 April 2026, Uskup Manokwari-Sorong menerbitkan Surat Keputusan Uskup Nomor 21820/A17/IV.26.HDL tentang peningkatan status Stasi Santo Wenseslaus menjadi paroki yang ditetapkan pada 28 September 2026. Keputusan tersebut menjadi jawaban atas perjalanan panjang komunitas sekaligus menjadi kepercayaan baru kepada umat Santo Wenseslaus Klawuyuk.

Mgr. Hilarion Datus Lega memberkati anak-anak pada perayaan Ekaristi peresmian Stasi St. Wenseslaus menjadi Paroki (28/9/2026).

Setelah bertahun-tahun bertumbuh, umat akhirnya memasuki tahap baru dalam kehidupan menggereja.

28 September 2026: Kerinduan Menjadi Kenyataan
Senin, 28 September 2026, menjadi hari bersejarah. Bertepatan dengan pesta pelindungnya, Stasi Santo Wenseslaus Klawuyuk resmi menjadi Paroki Santo Wenseslaus Klawuyuk.

Bagi umat, hari tersebut bukan hanya tentang sebuah keputusan administratif. Hari itu adalah perayaan atas sebuah perjalanan. Perjalanan keluarga Wens Sompie yang membuka sejarah melalui pemberian tanah. Perjalanan umat yang bergotong royong membangun Centrum. Perjalanan para pastor dan pengurus Gereja yang melayani. Perjalanan tujuh lingkungan yang terus bertumbuh. Dan terutama perjalanan umat yang selama bertahun-tahun memelihara kerinduan untuk memiliki sebuah paroki. Kerinduan itu akhirnya menjadi kenyataan.

Paroki sebagai Rumah Bersama
Menjadi paroki bukan berarti perjalanan Santo Wenseslaus Klawuyuk selesai. Justru, status baru tersebut membuka tanggung jawab yang lebih besar.

Sebagai paroki, umat dipanggil untuk semakin dewasa dalam iman dan semakin bertanggung jawab terhadap kehidupan Gereja. Kebersamaan yang telah menjadi kekuatan selama perjalanan menuju paroki perlu terus dipelihara. Semangat gotong royong, keterlibatan umat, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan untuk melayani menjadi modal penting untuk membangun kehidupan paroki.
Paroki bukan hanya gedung gereja. Paroki adalah rumah bersama.

Di dalamnya, umat dipanggil untuk berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, saling menopang, dan mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja.

Uskup berharap seluruh umat Paroki Santo Wenseslaus terus menghidupi semangat berjalan bersama, saling mendukung dalam pelayanan, dan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan serta bagi kesejahteraan umat.

Karena itu, sejarah Santo Wenseslaus Klawuyuk tidak berhenti pada 28 September 2026. Tanggal tersebut justru menjadi awal dari babak baru. Dari sebidang tanah, tumbuh sebuah komunitas. Dari komunitas, lahir sebuah Centrum. Dari Centrum, berkembang sebuah stasi. Dan dari stasi, lahirlah sebuah paroki. Semua itu terjadi karena umat memilih untuk berjalan bersama.

Kini, Paroki Santo Wenseslaus Klawuyuk dipanggil untuk melanjutkan perjalanan tersebut: bertumbuh dalam iman, berakar dalam persaudaraan, dan berbuah dalam pelayanan. Kerinduan yang telah membawa umat sampai pada hari ini kiranya menjadi semangat untuk membangun masa depan Gereja yang semakin hidup, mandiri, dan terbuka bagi semua. Sejarah telah ditulis bersama. Kini, sejarah baru sedang dimulai bersama.

Fransiskus Katino, Pr – KOMSOSKMS