Stasi Santo Wenseslaus Remu Resmi Menjadi Paroki ke-36 Keuskupan Manokwari-Sorong

58
Perayaan peningkatan status dari Stasi St. Wenseslaus, yang selama ini berada dalam wilayah pelayanan Paroki St. Petrus Remu, menjadi Paroki ( Senin, 28/9/2026).

SORONG, KOMSOSKMS.ORG — Sembilan tahun perjalanan, kerja sama banyak pihak, dan kesetiaan umat akhirnya berbuah. Stasi Santo Wenseslaus, yang selama ini berada dalam wilayah pelayanan Paroki Santo Petrus Remu, resmi ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Santo Wenseslaus pada Senin, 28 September 2026.

Perayaan peningkatan status dari Stasi St. Wenseslaus, yang selama ini berada dalam wilayah pelayanan Paroki St. Petrus Remu, menjadi Paroki ( Senin, 28/9/2026).

Peresmian paroki baru tersebut dipimpin oleh Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, didampingi Vikaris Jenderal dan sejumlah imam konselebran. Peristiwa ini sekaligus menambah jumlah paroki di Keuskupan Manokwari-Sorong menjadi 36 paroki.

Dalam perayaan tersebut, P. Iventus Kocu, Pr. ditetapkan sebagai pastor paroki pertama. P. Iventus yang juga menjabat Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Manokwari-Sorong akan memimpin pelayanan pastoral umat bersama Dewan Paroki yang pada kesempatan yang sama dilantik untuk masa pelayanan mendatang.

Sembilan Tahun Menjadi Buah
Dalam homilinya, Mgr. Hilarion Datus Lega mengajak umat memaknai peresmian Paroki Santo Wenseslaus bukan hanya sebagai perubahan status administratif, tetapi sebagai buah dari perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana waktu dapat menjadi berkat.

Mgr. Hilarion Datus Lega menyampaikan homilj dan mengajak umat memaknai peresmian Paroki Santo Wenseslaus sebagai buah dari perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana waktu dapat menjadi berkat.

Mengangkat refleksi “The Blessing of Time” atau “Berkat dari Waktu”, Uskup mengatakan bahwa waktu merupakan salah satu berkat terbesar yang dimiliki manusia. Namun, waktu juga menjadi salah satu hal yang paling mudah disia-siakan.

“Hari ini kita senang menyaksikan peresmian paroki baru di Keuskupan Manokwari-Sorong. Persiapannya termasuk yang panjang. Sejak sekitar sembilan tahun yang lalu, proses ini sudah mulai dirintis,” kata Mgr. Datus.

Uskup mengungkapkan, ketika dirinya datang ke Keuskupan Manokwari-Sorong pada 2003, terdapat 18 paroki. Dengan bertambahnya Paroki Santo Wenseslaus, jumlah tersebut kini mencapai 36 paroki.

“Secara akademis, secara praktis, itu peningkatan 100 persen. Bukan main-main,” tegasnya.

Bagi Uskup, perkembangan tersebut merupakan tanda bahwa perjalanan waktu yang diisi dengan kesetiaan, kerja keras, dan pelayanan dapat menghasilkan buah nyata bagi Gereja.

Jangan Menyia-nyiakan Waktu
Mgr. Datus mengingatkan umat bahwa manusia sering kali terlalu sibuk mengejar berbagai hal yang pada akhirnya berlalu begitu saja.

“Kita mengejar hal-hal yang kemudian hilang tanpa nilai. Kita melupakan setiap detik yang sebenarnya membawa kita lebih dekat kepada tujuan akhir hidup,” ujarnya.

Manusia juga kerap menunda berbuat baik karena berpikir masih akan ada kesempatan lain. Padahal, tidak seorang pun dapat memastikan apa yang akan terjadi pada hari esok.

“Kita menunda melakukan kebaikan, berpikir bahwa akan selalu ada kesempatan yang lain. Tetapi kita tidak menyadari bahwa besok tidak pernah sama seperti hari ini,” lanjutnya.

Pada moment bersejarah ini Uskup mengajak seluruh umat untuk membangun kehidupan menggereja yang berakar pada semangat Gereja perdana sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul: hidup dalam persekutuan, berbagi, berpartisipasi, dan menjalankan perutusan bersama.

Karena itu, Uskup mengajak umat menggunakan waktu secara bijaksana. Keberhasilan hidup, katanya, tidak pertama-tama diukur dari kekayaan maupun status, tetapi dari bagaimana waktu digunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, menolong sesama, dan meninggalkan jejak kebaikan.

Buah dari Kesiapan dan Kerja Bersama
Peresmian Paroki Santo Wenseslaus juga menjadi pengingat bahwa sebuah pencapaian besar tidak lahir dalam waktu singkat.

“Pencapaian itu sebagian sudah dimulai dari kesiapan-kesiapannya. Sukses yang besar bukan hanya sukses itu sendiri, tetapi perjalanan waktu yang dihabiskan ketika orang mempersiapkan apa yang dinamakan sukses,” jelas Mgr. Datus.

Ia kemudian mengajak umat bersyukur atas seluruh proses yang telah dilalui hingga komunitas umat Santo Wenseslaus dapat berdiri sebagai sebuah paroki.

Uskup juga mengingat kembali perjalanan pencarian lokasi gereja yang telah dimulai sejak 2017. Saat itu, sejumlah pihak mencari lokasi yang dapat menjadi titik pelayanan bagi umat dari beberapa wilayah paroki di sekitarnya.

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya lokasi Gereja Santo Wenseslaus diperoleh.

Mgr. Datus secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Bapak Wens Sompi dan keluarga yang telah memberikan tanah untuk pembangunan gereja.

“Tanah ini di Kota Sorong memiliki nilai yang besar, tetapi diberikan secara cuma-cuma untuk Gereja. Kita harus menghargai kemurahan hati Bapak Wens dan keluarganya,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pemerintah, para donatur, penderma, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pembangunan gereja.

Uskup berharap seluruh umat Paroki Santo Wenseslaus terus menghidupi semangat berjalan bersama, saling mendukung dalam pelayanan, dan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan serta bagi kesejahteraan umat.

Uskup juga mengenang peran Selestinus Paundanan yang terlibat dalam perancangan awal bangunan gereja.

Seluruh proses tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa karya Gereja tidak dibangun oleh satu atau dua orang, melainkan melalui keterlibatan banyak pihak.

Paroki Baru, Perutusan Baru
Bagi Mgr. Datus, peresmian Paroki Santo Wenseslaus bukanlah titik akhir. Justru, peristiwa ini menjadi awal dari tanggung jawab dan perutusan yang lebih besar.

“Momentum hari ini tidak seluruhnya menyelesaikan satu tahapan. Masih ada banyak pekerjaan rumah. Ini semua masih baru: pastor baru, dewan baru. Kita terus harus berada dalam iklim belajar,” tegasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh umat untuk membangun kehidupan menggereja yang berakar pada semangat Gereja perdana sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul: hidup dalam persekutuan, berbagi, berpartisipasi, dan menjalankan perutusan bersama.

Semangat tersebut juga menjadi bagian penting dari perjalanan Gereja dalam menghidupi sinodalitas.

“Sinodal berarti berjalan bersama. Karena kita semua bagian dari satu persekutuan orang-orang percaya, kita mengambil bagian dalam kebersamaan itu dan berpartisipasi dalam tugas panggilan dan perutusan,” jelasnya.

Uskup berharap seluruh umat Paroki Santo Wenseslaus terus menghidupi semangat berjalan bersama, saling mendukung dalam pelayanan, dan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan serta bagi kesejahteraan umat.

Menjadikan Waktu sebagai Berkat
Peresmian Paroki Santo Wenseslaus menjadi penanda penting dalam perjalanan Gereja Katolik di Kota Sorong. Lebih dari sekadar bertambahnya jumlah paroki, peristiwa ini menjadi kesaksian tentang bagaimana waktu yang dijalani dengan kesetiaan dapat berbuah menjadi sebuah karya pastoral.

Dari sembilan tahun perjalanan menuju peresmian, umat diajak untuk belajar bahwa waktu tidak sekadar berlalu. Waktu adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri, bekerja bersama, melayani, bertumbuh dalam iman, dan menghadirkan kebaikan.

“Marilah kita bersukacita dalam setiap waktu, menghabiskannya dengan bijaksana, dan mencari sukacita yang berasal dari Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan,” pesan Mgr. Datus.

Dengan status baru sebagai paroki, umat Santo Wenseslaus kini memasuki babak baru: bukan sekadar merayakan apa yang telah dicapai, tetapi bersama-sama membangun Gereja yang hidup, melayani, dan terus berjalan dalam perutusan.

Fransiskus Katino, Pr – KOMSOSKMS