Renungan Harian: Sukacita dalam Kesetiaan

81

RENUNGAN HARIAN, Rabu, 9 September 2026
Bacaan I: 1Kor 7:25-31
Mazmur Tanggapan: Mzm 45:11-12.14-17
Bacaan Injil: Luk 6:20-26

Sukacita dalam Kesetiaan
Apakah kita pernah dibenci karena iman? Pernahkah kita ditolak, dikucilkan, atau bahkan diasingkan karena berusaha melakukan kebaikan dan mempertahankan kebenaran?
Jika kita mengalaminya dan tetap setia kepada Kristus, sesungguhnya kita sedang mengukir sukacita sejati.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan Sabda Bahagia kepada mereka yang mengalami penderitaan karena iman: “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga.” (Luk 6:22-23)

Sabda ini bukan berarti Yesus menghendaki kita mencari penderitaan atau penolakan. Namun, Yesus mengingatkan bahwa kesetiaan kepada kebenaran terkadang memiliki harga yang harus dibayar. Mengikuti Kristus tidak selalu membuat hidup menjadi mudah. Ada saatnya kita harus memikul salib, menghadapi kesalahpahaman, penolakan, bahkan kebencian.

Yesus sendiri mengalami semuanya itu. Ia ditolak, dihina, disingkirkan, dan akhirnya wafat di kayu salib. Karena itu, ketika kita mengalami penolakan karena berusaha hidup benar, kita tidak sendirian. Kita sedang berjalan dalam jalan yang pernah dilalui Kristus.

Sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk menghadirkan kebaikan, kasih, kejujuran, keadilan, dan kebenaran di tengah dunia. Tugas ini tidak selalu mudah. Kadang-kadang kebaikan kita disalahpahami dan kejujuran kita tidak disukai. Namun, jangan sampai penolakan membuat kita berhenti berbuat baik.

Jangan membuang salib hanya karena salib itu terasa berat. Jangan meninggalkan Kristus hanya karena kesetiaan kita tidak selalu dihargai.

Tetaplah teguh dalam iman. Perkuat hubungan dengan Yesus melalui doa, Sabda Allah, Ekaristi, dan kehidupan kasih. Dari sanalah kita memperoleh kekuatan untuk bertahan dan pengharapan untuk terus melangkah.

Sebab kebahagiaan sejati bukanlah ketika semua orang menerima dan menyukai kita. Kebahagiaan sejati adalah ketika kita tetap setia kepada Kristus dan mampu mempertahankan kebaikan, sekalipun harus menghadapi penolakan.

Percayalah, setiap ketekunan dalam iman, setiap air mata karena kebenaran, dan setiap pengorbanan yang kita persembahkan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia. Kesetiaan hari ini sedang mengukir sukacita abadi bersama Kristus.
Tuhan memberkati. Ave Maria!