Renungan Harian: Belajar Rendah Hati

5

RENUNGAN HARIAN, 5 September 2026
Bacaan I: 1Kor 4:6b-15
Mazmur Tanggapan: Mzm 145:17-18.19-20.21
Bacaan Injil: Luk 6:1-5

Belajar Rendah Hati
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemukan orang yang sombong. Namun, kalau kita jujur, kesombongan bukan hanya milik orang lain. Bisa jadi, tanpa kita sadari, diri kita pun terjebak di dalamnya.

Bagaimana ciri-ciri orang yang terjebak dalam kesombongan? Orang sombong biasanya selalu berusaha mengangkat dirinya setinggi-tingginya dan memandang orang lain rendah atau tidak berarti. Ia sulit menerima kesalahan dan selalu mencari pembenaran bagi dirinya sendiri. Ia mudah menjadi “besar kepala” ketika kelebihan-kelebihannya dibicarakan. Ia menganggap jabatan, kedudukan, status, atau keberhasilan sebagai sesuatu yang membuat dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Kesombongan juga dapat terlihat ketika kita selalu menganggap orang yang tidak kita sukai sebagai musuh, memaksakan kehendak kepada orang lain, bahkan menginginkan orang lain menjadi seperti diri kita sendiri.

Paulus hari ini mengajak kita untuk bercermin. Ia bertanya dengan sangat mendasar: “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?” (1Kor 4:7).

Pertanyaan Paulus ini menyadarkan kita bahwa sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri. Apa yang kita miliki—kehidupan, kesehatan, kemampuan, kepandaian, pekerjaan, jabatan, keberhasilan, bahkan kesempatan untuk melayani—semuanya adalah anugerah yang kita terima. Kalau semuanya adalah pemberian, lalu apa yang hendak kita banggakan seolah-olah semuanya merupakan hasil usaha kita sendiri?

Dalam Injil, Yesus juga mengingatkan bahwa hidup beriman bukan sekadar soal menjalankan aturan secara kaku. Para murid dipersoalkan karena memetik bulir gandum pada hari Sabat. Yesus menunjukkan bahwa hukum Allah tidak dimaksudkan untuk membuat manusia terbelenggu, tetapi untuk membawa manusia kepada kehidupan. Karena itu, hati yang rendah hati akan selalu berusaha melihat kehendak Allah dan kebutuhan sesama, bukan sekadar mencari pembenaran bagi diri sendiri.

Kesombongan membuat kita sibuk meninggikan diri. Kerendahan hati membuat kita mampu menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan dan membutuhkan sesama.

Maka, marilah kita belajar rendah hati. Jangan merasa diri paling hebat, paling benar, paling penting, atau paling berjasa. Apa pun yang kita miliki adalah titipan Tuhan. Apa pun yang kita capai adalah berkat yang patut disyukuri, bukan alasan untuk merendahkan orang lain.

Semoga Tuhan membebaskan kita dari kesombongan dan membentuk hati kita menjadi pribadi yang rendah hati, mampu menghargai sesama, serta selalu menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya.

Tuhan memberkati. Ave Maria!