AYATA, KOMSOSKMS.ORG — Sehari setelah ditahbiskan sebagai imam, Pastor Carlos Filipe Ximenes Belo Sedik, OSA, merayakan Misa Perdana di kampung halaman ayahnya, Paroki Santo Andreas Ayata, Sabtu, 29 Agustus 2026. Perayaan tersebut menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya Pastor Belo menginjakkan kaki di tanah leluhur dari garis keturunan ayahnya.

Pastor Carlos Filipe Ximenes Belo Sedik, OSA, yang akrab disapa Pastor Belo, ditahbiskan pada Jumat, 28 Agustus 2026, di Paroki Santo Yoseph Ayawasi, bersama dua imam lainnya dari Ordo Santo Agustinus. Sehari kemudian, ia kembali ke tanah leluhur untuk mempersembahkan Misa Perdana di tengah keluarga dan umat yang menyambutnya dengan penuh sukacita.
Perayaan Ekaristi di Gereja Tua Ayata dipimpin langsung oleh Pastor Belo, didampingi Pastor Ferdinandus Sabhu, Pr., selaku Pastor Paroki, serta sejumlah imam konselebran. Ratusan umat memadati gereja untuk mengikuti perayaan syukur tersebut.

Prosesi penyambutan berlangsung penuh haru. Bagi Pastor Belo, kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, tetapi menjadi pengalaman iman dan sejarah keluarga. Ia mengungkapkan bahwa dirinya bersama adik perempuannya baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah leluhur mereka.
“Dan ini merupakan karya dan rencana Tuhan sendiri. Kata Santo Agustinus, tidak ada yang terjadi di bumi ini dengan kebetulan. Semua terjadi karena rencana dan karya Tuhan sendiri,” ungkap Pastor Belo dalam homilinya.
Karena itu, ia mengajak umat untuk senantiasa bersyukur atas setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Menurutnya, kehadirannya di Ayata merupakan bagian dari karya dan rencana Tuhan yang patut disyukuri.
Sabda Bahagia dan Jalan Mengikuti Kristus
Dalam homilinya, Pastor Belo mengajak umat merenungkan makna kebahagiaan sebagaimana disampaikan Yesus melalui Sabda Bahagia dalam Injil Matius. Menurutnya, manusia sering memiliki gambaran sendiri tentang kebahagiaan, seperti kekayaan, rumah yang besar, maupun berbagai pencapaian duniawi.

Namun, Injil menghadirkan ukuran kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan sejati tidak semata-mata didasarkan pada kekayaan atau keberhasilan duniawi, melainkan pada sikap hati yang terbuka kepada Tuhan.
Pastor Belo menjelaskan sedikitnya empat bentuk kebahagiaan yang dapat ditemukan dalam Sabda Bahagia.
Pertama, kebahagiaan karena memiliki hati yang miskin di hadapan Tuhan. Sikap ini mengajak manusia untuk menyadari bahwa hidup dan segala sesuatu yang dimiliki merupakan anugerah Tuhan.

Kedua, kebahagiaan hati, yang ditandai dengan kerendahan hati, belas kasih, kemurnian hati, serta rasa lapar dan haus akan kebenaran. Ia mengingatkan umat agar tidak membiarkan keegoisan menguasai diri, tetapi memiliki hati yang mampu mengampuni, bahkan terhadap mereka yang telah menyakiti.
“Jadi, berdoa bagi mereka yang mencaci-maki. Ini yang paling susah. Apalagi orang yang sudah melukai hati kita, mungkin karena iri hati, karena dendam, karena amarah,” katanya.
Menurutnya, Yesus tidak menghendaki sikap saling membalas. Prinsip “mata ganti mata, gigi ganti gigi” tidak menjadi jalan yang ditawarkan Kristus. Sebaliknya, umat dipanggil untuk menghadirkan belas kasih dan pengampunan.
Ketiga, kebahagiaan dalam panggilan, yakni memiliki iman yang kuat dan kokoh dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu berjalan mudah. Seorang pengikut Kristus dapat menghadapi kesulitan ekonomi, penderitaan, bahkan hinaan dan penganiayaan karena imannya.
Keempat, kebahagiaan dalam mengikuti jejak Yesus. Sebagai murid Kristus, umat dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya: menjadi pribadi yang lemah lembut, murah hati, taat kepada Bapa, serta rela berbagi dengan sesama yang membutuhkan.
“Sebagai murid Yesus, kita juga lemah lembut. Yesus yang murah hati, kita juga membagi milik kepada sesama yang membutuhkan,” tegasnya.
“Berbahagialah Orang yang Membawa Damai”
Dalam kesempatan tersebut, Pastor Belo menjelaskan bahwa ia memilih moto imamat dari Sabda Bahagia, khususnya Matius 5:9: “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Moto tersebut, menurutnya, tidak muncul begitu saja. Ia mengaitkannya dengan pengalaman masa kecil dan pendidikan iman yang diterimanya dalam keluarga.

Ia mengenang pesan yang ditanamkan sejak kecil bahwa pertengkaran dan perpecahan bukanlah sikap anak Tuhan. Bahkan, ketika terjadi pertengkaran, ibunya mengajarkan mereka untuk berdamai dengan cara yang sangat khas.
Pengalaman masa kecil itu menjadi bagian dari refleksi Pastor Belo tentang panggilannya sebagai pembawa damai.
Karena itu, ia mengajak umat Ayata untuk menjadi pembawa damai dan sukacita di tengah keluarga, masyarakat, dan Gereja.
“Hari ini Yesus mengajak kita untuk menjadi pembawa damai. Pembawa sukacita kepada sesama.”
Pastor Ferdinandus Sabhu, Pr selaku Pastor Paroki menyambut dengan penuh sukacita peristiwa iman yang diselenggarakan ini. Ia mengatakan bahwa seluruh umat sangat antusias dan bekerja keras menyambut peristiwa yang menggembirakan ini. Ia berharap dengan Misa Perdana ini dapat menumbuhkan iman umat dan sekaligus memotivasi orang-orang muda untuk menanggapi panggilan Tuhan secara khusus.
Misa Perdana Pastor Belo di Ayata akhirnya menjadi sebuah perayaan syukur yang tidak hanya menandai awal pelayanan imamatnya, tetapi juga menjadi momen perjumpaan kembali dengan tanah leluhur, keluarga, dan umat yang menyambutnya dengan sukacita. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa panggilan imamat merupakan bagian dari karya dan rencana Tuhan yang hadir melalui perjalanan hidup setiap orang.





