Renungan Harian: Allah yang Murah Hati

77

Renungan Harian — 19 Agustus 2026
Bacaan I: Yeh 34:1-11
Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.4b-4.5.6
Bacaan Injil: Mat 20:1-16a

Allah yang Murah Hati
Allah yang kita imani adalah Allah yang murah hati dan penuh kasih. Ia selalu bertindak adil kepada semua orang. Kasih-Nya tidak mengenal perbedaan dan tidak terbatas oleh waktu, jasa, maupun latar belakang seseorang. Allah mengasihi setiap pribadi secara utuh dan memberikan diri-Nya demi keselamatan semua manusia.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menjelaskan Kerajaan Allah melalui perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur. Ada yang bekerja sejak pagi, ada yang mulai bekerja pada tengah hari, bahkan ada yang baru bekerja menjelang sore. Namun ketika tiba saat pembayaran upah, mereka menerima bagian yang sama.

Perumpamaan ini bukan terutama berbicara tentang perhitungan manusia mengenai berapa banyak jasa yang telah kita lakukan, melainkan tentang betapa besar kemurahan hati Allah. Keselamatan adalah anugerah dan janji Allah. Ia menawarkan kesempatan kepada setiap orang untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya.

Kadang-kadang kita mudah berpikir seperti para pekerja yang datang lebih dahulu. Kita merasa lebih berjasa karena telah lama melayani Tuhan, aktif dalam Gereja, banyak berkorban, atau setia dalam pelayanan. Tanpa sadar, kita bisa merasa lebih pantas menerima berkat Tuhan dibandingkan mereka yang baru datang, baru bertobat, atau baru mulai terlibat dalam kehidupan menggereja.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengubah cara pandang tersebut. Janganlah kita iri terhadap kebaikan dan berkat yang diterima orang lain. Sebaliknya, marilah kita bersyukur karena Allah berkenan menyelamatkan dan memberkati setiap orang.

Bacaan pertama juga mengingatkan para pemimpin Israel yang menggembalakan diri sendiri dan tidak memperhatikan kawanan domba. Tuhan menunjukkan bahwa seorang gembala dipanggil untuk mencari yang hilang, menguatkan yang lemah, merawat yang sakit, dan menjaga mereka yang dipercayakan kepadanya.

Dalam keluarga, masyarakat, maupun Gereja, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang melayani, bukan mencari keuntungan bagi diri sendiri. Semakin lama kita bekerja di kebun anggur Tuhan, seharusnya semakin rendah hati dan semakin besar kepedulian kita kepada sesama.

Karena itu, marilah kita terus bekerja dengan sungguh-sungguh di kebun anggur Tuhan. Jangan menjadi sombong karena merasa telah lama melayani. Jangan merendahkan mereka yang baru bertobat atau baru mulai mengambil bagian dalam pelayanan. Sebaliknya, mari kita menyambut mereka dengan kasih dan9 membantu mereka bertumbuh dalam iman.

Tuhan tidak pernah kehabisan kemurahan hati. Ia terus memanggil, mengampuni, menyembuhkan, dan memberikan kesempatan baru kepada setiap orang.

Semoga kita mampu mensyukuri setiap berkat yang Tuhan berikan, tidak iri terhadap berkat yang diterima orang lain, dan tetap setia bekerja dalam pelayanan dengan hati yang rendah hati.
Selamat pagi. Tuhan memberkati.
Ave Maria!