Renungan Harian: Setia kepada Allah yang Benar

3

RENUNGAN HARIAN, Rabu, 10 Juni 2026
Bacaan I: 1 Raj 18:20-39
Injil: Mat 5:17-19

Setia kepada Allah yang Benar
Dalam kehidupan ini, manusia sering dihadapkan pada banyak pilihan. Tidak jarang, demi kenyamanan, keuntungan, atau pengaruh lingkungan, seseorang mulai menjauh dari Allah dan menaruh harapannya pada “allah-allah” lain: kekuasaan, uang, popularitas, atau ambisi pribadi. Padahal, Allah yang kita imani adalah Allah yang penuh kasih, sumber kehidupan, dan keselamatan sejati. Dia tidak pernah menyesatkan ataupun mencelakakan manusia. Sebaliknya, Dia selalu menuntun umat-Nya menuju kebahagiaan yang sejati.

Bacaan pertama mengisahkan keberanian Nabi Elia ketika berhadapan dengan nabi-nabi Baal. Saat itu banyak orang Israel telah meninggalkan Tuhan dan mengikuti penyembahan kepada Baal. Melihat keadaan itu, Elia menegur mereka dengan tegas, “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia” (1Raj 18:21).

Elia tidak hanya berbicara, tetapi juga menunjukkan kuasa Allah yang hidup. Ketika api Tuhan turun dan melahap kurban persembahan Elia, seluruh bangsa itu tersungkur dan berseru, “Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah!” (1Raj 18:39). Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Allah yang benar selalu menunjukkan kasih dan kuasa-Nya kepada orang yang tetap setia kepada-Nya.

Dalam Injil hari ini, Yesus menghadapi situasi yang tidak jauh berbeda. Ada orang-orang yang menyebarkan fitnah dan berita bohong tentang diri-Nya. Mereka menuduh Yesus datang untuk meniadakan Hukum Taurat dan ajaran para nabi. Karena itu Yesus menegaskan, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17).

Melalui pernyataan ini, Yesus menunjukkan bahwa kebenaran tidak dapat dikalahkan oleh fitnah. Sekalipun ada pihak yang berusaha menjatuhkan-Nya dengan berbagai tuduhan, Yesus tetap setia melaksanakan kehendak Bapa. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian, melainkan terus mewartakan kasih dan keselamatan.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk tetap setia kepada Allah yang benar di tengah berbagai godaan dan tantangan zaman. Mungkin kita juga pernah mengalami kesalahpahaman, fitnah, penolakan, atau bahkan pembunuhan karakter ketika berusaha melakukan kebaikan. Namun, pengalaman Elia dan Yesus mengajarkan bahwa kita tidak perlu takut. Kuasa Allah jauh lebih besar daripada segala bentuk kejahatan manusia.

Karena itu, jangan pernah lelah menegakkan kebenaran, mewartakan kasih, dan melakukan kehendak Tuhan. Teruslah mengibarkan panji Kristus melalui perkataan dan tindakan yang mencerminkan kasih-Nya. Ketika hidup kita menjadi saksi kebaikan Allah, semakin banyak orang akan mengenal Dia, kembali kepada-Nya, dan memuliakan nama-Nya.
Doa

Tuhan Yesus, teguhkanlah imanku agar aku tetap setia kepada-Mu di tengah berbagai tantangan dan godaan dunia. Berilah aku keberanian seperti Nabi Elia dan keteguhan hati seperti Engkau sendiri untuk selalu berpihak pada kebenaran dan kasih. Semoga melalui hidupku, semakin banyak orang mengenal dan memuliakan nama-Mu. Amin.

Tuhan memberkati. Ave Maria.