Retret Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong: Meneladan St. Yusuf Sebagai Pendengar dan Pelaksana Sabda

35
Di sinilah salah satu tugas imam sebagai garam dan terang dunia. Dalam situasi yang paling gelap dan tanpa harapan, Gereja hadir melalui para imam untuk membawa harapan" Ungkap Uskup Petrus Timang

TONDANO, SULAWESI UTARA, KOMSOSKMS.ORG – Para imam diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong mengikuti retret tahunan yang berlangsung pada 8–12 Juni 2026 di Pertapaan CSE/Putri Karmel Tampusu, Tondano, Sulawesi Utara. Kegiatan rohani ini menjadi kesempatan bagi para imam untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas dan aktivitas pelayanan pastoral guna memperdalam relasi dengan Tuhan serta menimba kekuatan rohani bagi pelayanan mereka.

Para Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong Jalani Retret Tahunan di Pertapaan CSE Tampusu (8-12 Juni 2026)
Para Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong Jalani Retret Tahunan di Pertapaan CSE Tampusu (8-12 Juni 2026)

Retret tahun ini mengusung tema “Ite Ad Ioseph, Per Ioseph Ad Jesum” (Pergilah kepada Yusuf, melalui Yusuf menuju Yesus) dengan subtema “Yusuf: Pendengar dan Pelaksana Sabda.” Pembimbing retret adalah , Uskup Emeritus Banjarmasin, Mgr. Petrus Bodeng Timang.

Perayaan Ekaristi pembukaan dilaksanakan pada Selasa (9/6/2026) di Kapela Regina Angeli dan dipimpin langsung oleh Mgr. Petrus Bodeng Timang. Dalam homilinya, ia mengajak para imam untuk kembali menyadari identitas dasar panggilan mereka sebagai garam dan terang dunia sebagaimana ditegaskan Yesus dalam Injil Matius 5:13-16.

Mengawali homilinya, Uskup Petrus mengutip ungkapan terkenal dari , “Vivens homo Gloria Dei” yang berarti “Kemuliaan Allah itu nampak dalam manusia yang hidup.” Menurutnya, ungkapan tersebut menegaskan bahwa kemuliaan Allah nyata dalam kehidupan manusia yang sungguh hidup dalam kehendak-Nya.

Mgr. Petrus Bodeng Timang, Uskup Emeritus Banjarmasin, memimpin Perayaan pembukaan Retret para imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong

Ia mengungkapkan bahwa Sabda Tuhan selalu berbicara kepada setiap situasi yang dialami manusia. Karena itu, bacaan Kitab Suci yang didengarkan dalam perayaan Ekaristi tidak pernah kehilangan relevansinya bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama Gereja.

Merefleksikan sabda Yesus, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia,” Uskup Petrus menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar harapan atau cita-cita, melainkan identitas yang diberikan Kristus kepada para murid-Nya.

“Yesus tidak berkata, ‘Semoga kamu menjadi garam dunia’ atau ‘Mudah-mudahan kamu menjadi terang dunia.’ Yesus berkata dengan tegas, ‘Kamu adalah garam dunia dan terang dunia.’ Artinya, menjadi garam dan terang adalah identitas yang sudah diberikan kepada para murid,” jelasnya.

Menurutnya, terang sekecil apa pun akan menghalau kegelapan dan menerangi lingkungan di sekitarnya. Demikian pula seorang imam dipanggil untuk menghadirkan terang Kristus dalam kehidupan umat dan masyarakat.

Di sinilah salah satu tugas imam sebagai garam dan terang dunia. Dalam situasi yang paling gelap dan tanpa harapan, Gereja hadir melalui para imam untuk membawa harapan” Ungkap Uskup Petrus Timang

Uskup Petrus mengingatkan bahwa pada Malam Paskah Gereja menyalakan Lilin Paskah sebagai lambang Kristus Sang Terang Dunia. Tiga kali Gereja menyerukan “Kristus Cahaya Dunia” sebagai pengakuan iman bahwa Kristus adalah sumber terang sejati. Para imam, katanya, mengambil bagian dalam terang Kristus itu dan diutus untuk memancarkannya kepada dunia.

Namun, ia juga mengingatkan bahaya kehilangan identitas panggilan. Sebagaimana garam yang menjadi tawar tidak lagi berguna dan pelita yang disembunyikan tidak lagi memberi terang, demikian pula seorang imam dapat kehilangan daya kesaksiannya apabila tidak hidup sesuai dengan panggilannya.

“Terang tidak boleh disembunyikan. Terang harus bersinar bagi semua orang. Kehadiran imam harus menjadi tanda kehadiran Kristus yang membawa harapan dan keselamatan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Uskup Petrus menekankan bahwa imam bukan hanya diutus bagi umat Katolik semata, tetapi bagi seluruh masyarakat.

“Kita memang ditahbiskan dalam Gereja Katolik, tetapi perutusan kita lebih luas. Kita dipanggil menjadi garam dan terang bagi dunia. Kehadiran kita harus membawa harapan, penghiburan, dan keselamatan bagi siapa pun yang kita jumpai,” ujarnya.

Uskup Petrus Bodeng Timang memberikan materi pada retret para imam diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong

Untuk memperjelas refleksinya, Uskup Petrus mengangkat kisah Nabi Elia dan janda di Sarfat yang menjadi bacaan pertama hari itu. Ia menjelaskan bagaimana Allah memelihara Nabi Elia di tengah masa kekeringan hebat melalui Sungai Kerit dan burung gagak yang setiap hari membawakan makanan baginya.

Ketika sungai itu mengering, Tuhan mengutus Elia ke Sarfat. Di sana ia bertemu seorang janda miskin yang hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak, cukup untuk menyediakan makanan terakhir bagi dirinya dan anaknya sebelum menghadapi kematian akibat kelaparan.

Dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan itu, Elia meminta janda tersebut untuk terlebih dahulu membuatkan roti baginya. Permintaan itu tampak berat secara manusiawi, tetapi janda itu percaya kepada Sabda Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Elia. Karena iman dan ketaatannya, terjadilah mukjizat. Tepung dalam tempayan tidak habis dan minyak dalam buli-buli tidak berkurang sampai Tuhan kembali menurunkan hujan ke atas bumi.

Menurut Uskup Petrus, kisah tersebut menunjukkan bagaimana Allah bekerja melalui para utusan-Nya untuk menghadirkan harapan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun.

“Di sinilah salah satu tugas imam sebagai garam dan terang dunia. Dalam situasi yang paling gelap dan tanpa harapan, Gereja hadir melalui para imam untuk membawa harapan. Harapan itu bukan berasal dari kekuatan pribadi imam, melainkan dari kuasa Tuhan yang bekerja melalui dirinya,” katanya.

Imam dipanggil menjadi tanda bahwa Tuhan tetap berkarya di tengah umat-Nya. Kehadiran imam harus membuat orang merasakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka.

Ia menambahkan bahwa imam dipanggil menjadi tanda bahwa Tuhan tetap berkarya di tengah umat-Nya. Kehadiran imam harus membuat orang merasakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka.

Menghubungkan refleksi tersebut dengan tema retret, Uskup Petrus mengajak para imam untuk belajar dari Santo Yusuf. Sebagaimana Nabi Elia menjadi alat keselamatan bagi janda Sarfat, Santo Yusuf dipilih Allah untuk menjaga dan melindungi Keluarga Kudus serta mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.

Menurutnya, Santo Yusuf merupakan teladan ketaatan, kesetiaan, dan kesiapsediaan untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Ia tidak banyak berbicara, tetapi menunjukkan iman yang nyata melalui tindakan.

“Santo Yusuf mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi pendengar dan pelaksana Sabda. Ia membuka diri terhadap kehendak Allah dan melaksanakannya dengan setia. Karena itu, ia menjadi teladan bagi setiap imam dalam menjalankan panggilan dan perutusan,” ujarnya.

Di akhir homilinya, Uskup Petrus mengajak seluruh peserta retret untuk memanfaatkan hari-hari retret sebagai kesempatan memperbarui semangat panggilan. Ia juga membagikan pengalaman perjalanannya menuju Tondano yang mengalami berbagai perubahan jadwal secara mendadak. Pengalaman tersebut kembali mengingatkannya bahwa Tuhan selalu memiliki rencana yang lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia.

“Tuhan selalu mempunyai jalan keluar. Tuhan selalu mempunyai rencana yang lebih besar daripada yang kita bayangkan. Karena itu, kita diajak untuk semakin percaya kepada penyelenggaraan-Nya,” tuturnya.

Uskup Petrus menutup homilinya dengan harapan agar retret ini membantu para imam semakin menyadari identitas dan panggilan mereka sebagai garam dan terang dunia sehingga melalui hidup dan pelayanan mereka, semakin banyak orang mengalami kasih, pengharapan, dan keselamatan yang berasal dari Tuhan.

Sementara itu, Ketua Unio Keuskupan Manokwari-Sorong, Pastor Emanuel Tenau, Pr., mengajak seluruh peserta untuk menjalani retret sebagai sebuah peziarahan rohani. Ia berharap para imam dapat menimba kesegaran spiritual dan memperbarui semangat pelayanan sehingga semakin setia melaksanakan tugas perutusan di tengah umat Allah.