Pentakosta di Papua: Salib IYD Menjadi Jembatan Damai Perjumpaan Lintas Golongan untuk Perdamaian dan Kelestarian Alam

48
Prosesi penerimaan Salib IYD di Paroki Santo Kristoforus Prafi, Manokwari (1/6/2026)

PRAFI, KOMSOSKMS.ORG- Senin, 1 Juni 2026, pada hari lahir Pancasila, ziarah salib Indonesian Youth Day sampai di Prafi. Tak kurang dari 600 orang menyambutnya di lapangan Kridhatama Prafi. Mereka bukan hanya orang muda Katolik dari berbagai paroki di TPW Manokwari. Hadir juga umat dari berbagai kelompok usia, orang muda berbagai agama, tokoh agama dan masyarakat, berbagai suku, dan budaya.

Prosesi penerimaan Salib IYD di Paroki Santo Kristoforus Prafi, Manokwari (1/6/2026)

Dirangkai dengan arak-arakan lintas agama dan budaya serta diskusi bersama, penerimaan salib IYD di St Kristoforus Prafi menggambarkan kehadiran Roh Kudus yang membuat OMK berkobar-kobar semangatnya untuk untuk menjumpai setiap orang yang berkehendak baik, menjaga perdamaian dan bekerja sama melestarikan alam semesta.

Eco Faith: Iman yang Melestarikan Kehidupan
Tema besar bulan ziarah salib IYD di Paroki St Kristoforus ini adalah Eco Faith: Iman yang Melestarikan Kehidupan. Tema ini diolah dari proses mendengarkan Orang Muda Katolik (OMK) bicara tentang apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan inginkan sebagai orang-orang muda Katolik Papua. Ungkapan-ungkapan pribadi setiap orang dikumpulkan, direfleksikan dan didiskusikan bersama.

Hadir dalam acara penerimaan Salib tokoh lintas agama yang ada di wilayah Manokwari

Berulang-ulang proses refleksi dibuat untuk mempertajam pembacaan terhadap tanda-tanda zaman di tengah berbagai persoalan hidup yang dialami oleh Gereja Katolik Papua dan dunia. Proses ini juga melibatkan Pastor Paroki, para Suster SPM, Dewan Paroki, serta umat yang turut memberi masukan dan pendampingan sampai kemudian tercetuslah gagasan mengenai iman yang hidup, berkesadaran, membumi, inkulturatif, merangkul, menjembatani sekat-sekat perbedaan, iman yang organik dan alami, iman yang lestari berkelanjutan. Iman tidak cukup hanya dirayakan di dalam gereja. Iman harus hadir dalam tindakan nyata, menjaga kehidupan, menghormati ciptaan, dan membangun kepedulian terhadap sesama.

Karena itulah Eco Faith dipilih sebagai tema yang tidak hanya menjadi slogan kegiatan, tetapi juga menjadi ajakan bagi kaum muda untuk menghidupi iman secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Angkringan Pancasila
Momentum penerimaan Salib IYD menjadi semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni.

Prosesi perarakan Salib IYD diwarnai dengan penampilan aneka budaya yang mengungkapkan kekayaan keragaman yang mempersatukan

Prafi sendiri merupakan sebuah wilayah yang menampilkan wajah Papua secara unik dan berbeda. Berjarak sekitar satu setengah jam dari kota Manokwari, daerah ini menjadi rumah bagi berbagai suku, budaya, dan agama yang hidup berdampingan dalam keseharian. Salib IYD yang hadir dalam keunikan-keunikan tersebut, kemudian dimaknai sebagai jembatan yang menghubungkan banyak hati dan harapan.

Dari kerinduan ziarah salib IYD inilah lahir ruang dialog, persaudaraan, dan kolaborasi yang mengajak semua orang berjalan bersama demi kehidupan yang lebih baik.

Pada hari itu, prosesi penerimaan salib diwarnai dengan dua bagian besar. Pertama arak-arak penyambutan. Dan kedua dialog budaya bertajuk Angkringan Pancasila. Setelah dilakukan serah terima dari perwakilan OMK Sang Gembala Baik, salib diarak dari lapangan Kridatama SP 4 menuju ke Gereja St Kristoforus SP 4 melalui sebuah kirab budaya yang memperlihatkan wajah Indonesia dalam keberagamannya.

Aneka tarian dan simbol-simbol adat sebagai ungkapan syukur atas kehadiran salib yang telah berziarah ke berbagai paroki di Keuskupan Manokwari-Sorong.

Prosesi penerimaan diawali dengan nuansa budaya Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ditampilkan melalui tarian dan simbol-simbol adat sebagai ungkapan syukur atas kehadiran salib yang telah berziarah ke berbagai paroki di Keuskupan Manokwari-Sorong.

Tarian NTT disambung budaya Minahasa. Berikutnya diteruskan oleh budaya Papua yang mengiringi rombongan hingga tiba di gerbang gereja. Dari gerbang gereja, prosesi dilanjutkan dengan nuansa budaya Jawa.

Dalam perjalanan ini, para tokoh agama, orang muda lintas agama, Orang Muda Katolik, serta umat berjalan bersama mengiringi Salib IYD sebagai tanda persaudaraan yang melampaui perbedaan suku, budaya, maupun agama.

Salib dipanggul bersama figur yang menggambarkan ibu pertiwi yang membawa kendi pengharapan

Ada dramatisasi simbolis kecil yang menggambarkan perjalanan OMK berziarah memanggul salib IYD. Salib dipanggul bersama figur yang menggambarkan ibu pertiwi yang membawa kendi pengharapan. Perjalanan salib IYD ini diiringi oleh malaikat-malaikat pembawa lilin cita-cita. Mereka berjalan menuju halaman Gereja. Namun di tengah jalan mereka diganggu oleh yaksa. Raksasa-raksasa membuat lilin-lilin cita-cita terpadamkan satu demi satu. Pembawa salib dan lilin akhirnya jatuh bersimpuh. Hampir menyerah kalah. Belum cukup sampai di situ, yaksa-yaksa itu masih juga menyerang figur ibu pertiwi. Ibu pertiwi sampai kehabisan tenaga dan jatuh pecah kendi pengharapannya. Saat itulah kemudian terdengar tembang Pangkur penolak bala yang dikidungkan oleh seorang OMK bersama anak kecil berpakaian Papua yang membawa lentera. Satu per satu yaksa dijinakkan, dikembalikan ke alamnya. Ibu pertiwi ditolong, dan dikuatkan oleh doa-doa para tokoh agama. Masing-masing dengan cara agamanya. Islam. Hindu, Budha, dan Kristiani, mendoakan kelestarian alam dan perdamaian dunia sehingga kembali tegak mengarungi jaman. Setelah semua kembali tenang, anak-anak Sekami riang menari Jaranan dan menjadi cucuk lampah penunjuk jalan yang mempersilahkan para tokoh agama, tokoh masyarakat serta semua yang hadir untuk memasuki aula persaudaraan sejati dan menikmati Angkringan Pancasila.

Anak-anak Sekami riang menari Jaranan pada penyambutan Salib IYD di Paroki Santo Kristoforus Prafi

Angkringan bukan hanya bicara mengenai tempat makan. Angkringan ini adalah kemasan kebersamaan di mana semua yang hadir duduk menikmati suasana mengasup beragam hidangan yang disajikan, menyaksikan pertunjukan-pertunjukan seni, serta berdiskusi mengenai bagaimana masing-masing agama sebetulnya telah mengamanatkan perintah menjaga perdamaian dan cinta terhadap alam semesta.

Bhante Sunanda dari Vihara Budha Prabha Manokwari mengajak para peserta untuk bersyukur atas hidup bersama dengan setiap tarikan nafas kita. Kesadaran mengenai semangat melestarikan alam hendaknya sudah dimulai sejak kita bersyukur atas udara yang masih bisa kita hirup bersama. Bapak Ustad Syamsul dari Prafi mengatakan bahwa beliau amat kagum dengan prakarsa OMK St Kristoforus ini. Seumur hidup beliau baru kali ini ada kegiatan OMK yang mendudukkan semua yang berbeda untuk berbagi sukacita dan kesadaran bersama melalui pendekatan budaya mengisahkan wajah Papua yang masih memiliki pengharapan untuk membangun hidup bersama yang lebih baik.

Bhante Sunanda dari Vihara Budha Prabha Manokwari mengajak para peserta untuk bersyukur atas hidup bersama dengan setiap tarikan nafas kita

Romo Y. Nugroho TS mewakili Gereja Katolik, mengingatkan pesan Paus Fransiskus untuk menjaga bumi sebagai rumah kita bersama. Alam semesta amat luas dan kaya, tetapi akan selalu terasa sempit dan kurang bagi mereka yang rakus dan tidak tahu bersyukur. Acara hari ini adalah bentuk nyata kesaksian orang muda yang bersuara mengenai realitas yang ada di hadapan mereka. Dalam bahasa budaya semua orang dapat berefleksi bersama dan menyematkan niat pengharapan yang baik, tanpa terjebak pada saling menyalahkan atau menjatuhkan yang lain. Pertobatan dan perubahan perlu seraya tetap bersyukur dan bersukacita berbagi berkat yang sudah diterima. Bumi ini selayaknya dijaga bersama dengan semangat beriman, bersaudara, dan berbela rasa.

Ada juga kesaksian-kesaksian dari orang-orang muda Hindu, Budha dan Katolik mengenai usaha-usaha mereka menjaga kelestarian alam dalam hidup sehari-hari sebagai wujud penghayatan iman masing-masing. Ada yang sudah memilah sampah. Ada yang rajin menghijaukan lingkungan dengan menanam pohon, menjaga air, bakti sosial bersama dan lain sebagainya.

Di Angkringan Pancasila, keberagaman tidak menjadi tembok pemisah, melainkan menjadi kesempatan untuk saling mengenal, saling mendengarkan, menginspirasi membangun langit baru dan bumi baru. Diskusi dihangatkan dengan penampilan-penampilan, lagu, tari-tarian, dan tentu saja makanan yang terus beredar.

Dari Angkringan Pancasila sampai Pesta Pohon
Meilani Sayangbati, Ketua OMK St Kristoforus mengatakan bahwa semangat Eco Faith tidak berhenti pada rangkaian penerimaan Salib IYD saja. Satu bulan kehadiran Salib IYD di Paroki Santo Kristoforus Prafi akan diisi berbagai kegiatan. Umat dan OMK akan diundang untuk berdoa setiap hari dalam Visitasi Salib IYD pada Ekaristi harian. Setiap hari akan didoakan Doa Litani OMK; Doa OMK St Kristoforus Prafi untuk Keutuhan Alam, Budaya, dan Masyarakat Papua; Doa OMK St Kristoforus Prafi untuk Perdamaian di Tanah Papua dan Perdamaian Dunia. Ada bahan refleksi harian dari ajaran Gereja tentang keutuhan alam yang akan diunggah pada media sosial OMK St Kristoforus, akan ada juga refleksi bersama mengenai gerak Gereja memelihara perdamaian dan kelestarian alam semesta melalui kunjungan salib ke stasi-stasi, serta akan ada week end OMK TPW Manokwari yang akan diisi dengan pesta pohon, yaitu penanaman pohon buah di tanah-tanah Gereja yang sebelumnya kurang termanfaatkan dengan baik.

Setiap hari akan didoakan Doa Litani OMK; Doa OMK St Kristoforus Prafi untuk Keutuhan Alam, Budaya, dan Masyarakat Papua; Doa OMK St Kristoforus Prafi untuk Perdamaian di Tanah Papua dan Perdamaian Dunia

Momentum ini bukan hanya waktu orang muda berkegiatan sendiri. Ini adalah saat bagi seluruh Gereja untuk mengisi kembali kesadaran, keterhubungan satu sama lain, kelestarian, dan kepekaan terhadap situasi aktual Gereja di tengah dunia, keluar dari kotak kenyamanan, membangun jembatan-jembatan solidaritas dan kerja sama dengan semua pihak untuk memperdalam iman, hidup bermartabat, dan sejahtera.

Orang muda membantu menganimasi bentuk-bentuk refleksi iman kreatif bersama ziarah salib IYD. Kirab Salib IYD di Paroki Santo Kristoforus Prafi bahkan menjadi lebih dari sekadar sebuah rangkaian kegiatan. Salib yang datang sebagai simbol iman telah menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan banyak perbedaan dalam satu tujuan yang sama. Budaya bertemu budaya, agama bertemu agama, orang muda bertemu orang muda, hidup sambung dengan hidup. Semua dipersatukan oleh cinta terhadap perdamaian dan kelestarian alam.

Saatnya orang muda berani menyampaikan gagasan, kegelisahan, dan harapan mereka tentang lingkungan hidup, persaudaraan, perdamaian, dan masa depan dunia, sebab perubahan selalu dimulai dari mereka yang berani bersuara dan mengambil peran.

Dari Prafi, sebuah pesan sederhana namun mendalam disampaikan kepada bangsa Indonesia dan warga masyarakat dunia mengenai pengalaman Pentakosta di Papua. Ketika iman, persaudaraan, dan keberanian orang muda untuk bersuara dipertemukan dalam semangat kasih, maka harapan akan masa depan yang damai, adil, dan kelestarian alam ciptaan akan selalu menemukan jalannya.

Kontributor: OMK Paroki Santo Kristoforus Prafi