Renungan Harian: Ketulusan yang Berkenan di Hati Allah

94

Renungan Harian, Sabtu, 06 Juni 2026
Bacaan I: 2Tim 4:1-8
Injil: Mrk 12:38-44

Ketulusan yang Berkenan di Hati Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang berusaha menampilkan diri sebagai pribadi yang saleh, baik, dan religius. Namun, tidak semua yang tampak baik di luar sungguh mencerminkan keadaan hati yang sebenarnya. Karena itu, Yesus mengingatkan para murid-Nya agar waspada terhadap sikap munafik yang lebih mengutamakan penampilan daripada ketulusan hati.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengkritik para ahli Taurat yang senang mencari penghormatan, kedudukan, dan pujian manusia. Mereka menjalankan praktik-praktik keagamaan, tetapi hati mereka jauh dari Allah. Kesalehan mereka menjadi sarana untuk meninggikan diri sendiri, bahkan sampai merugikan orang lain. Karena itulah Yesus berkata bahwa mereka akan menerima hukuman yang lebih berat.

Sebaliknya, Yesus memuji seorang janda miskin yang memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan. Nilainya sangat kecil dibandingkan persembahan orang-orang kaya.

Namun di mata Allah, persembahan itu jauh lebih berharga karena diberikan dengan hati yang tulus dan total. Janda itu tidak mencari perhatian ataupun pujian. Ia mempersembahkan apa yang dimilikinya dengan penuh iman dan kepercayaan kepada Tuhan.

Bacaan pertama juga menampilkan teladan ketulusan melalui diri Rasul Paulus. Menjelang akhir hidupnya, ia dapat berkata dengan penuh keyakinan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Paulus tidak melayani demi kehormatan atau keuntungan pribadi. Ia rela berkorban, menderita, bahkan menyerahkan hidupnya demi Injil Kristus. Ketulusan dan kesetiaannya menjadi mahkota kemuliaan yang disediakan Tuhan baginya.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memeriksa kembali motivasi hidup dan pelayanan kita. Apakah kita berbuat baik demi pujian manusia atau demi kemuliaan Allah? Apakah doa, pelayanan, dan karya kasih kita lahir dari hati yang tulus atau sekadar untuk mencari pengakuan?

Tuhan tidak pertama-tama melihat besar kecilnya apa yang kita berikan, melainkan ketulusan hati yang mendasarinya. Karena itu, marilah kita terus memurnikan hidup rohani kita dengan meninggalkan kemunafikan, kesombongan, dan keinginan untuk dipuji.

Belajarlah dari janda miskin yang mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan dari Paulus yang setia sampai akhir.
Semoga hidup kita semakin menjadi persembahan yang tulus dan berkenan di hadapan Allah.

“Tuhan tidak melihat banyaknya yang kita berikan, tetapi ketulusan hati yang kita persembahkan.”

Tuhan memberkati. Ave Maria.