Renungan Harian: Allah Selalu Berada di Pihak Mereka Yang Kecil, Lemah, dan Tersingkir

1

Renungan Harian — 5 Maret 2026
Bacaan I: Yer 17:5-10
Bacaan Injil: Luk 16:19-31

Hidup yang sungguh bertumpu pada Tuhan akan selalu memancarkan berkat. Sebaliknya, hidup yang berpaling dari Tuhan dan hanya mengandalkan diri sendiri akan penuh kegersangan rohani. Inilah dua jalan yang dipaparkan kepada kita melalui Sabda Tuhan hari ini.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia menegaskan betapa berharganya hidup yang bersandar pada Tuhan. Ia menggambarkan orang benar seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang tetap segar dan berbuah meski musim kemarau melanda. Gambaran ini menyentuh kenyataan: orang yang mengandalkan Tuhan tidak mudah diguncang oleh kesulitan hidup. Di tengah badai persoalan, ia tetap kuat karena sumber hidupnya adalah Allah sendiri.

Sebaliknya, Yeremia memperingatkan bahwa orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan menjauh dari Tuhan akan seperti semak di padang gurun—kering, tandus, dan tidak menemukan masa baik. Hidup yang terpusat pada diri sendiri hanya melahirkan egoisme dan kehampaan batin.

Pesan ini menjadi semakin jelas dalam Injil hari ini. Yesus menghadirkan kisah tentang orang kaya yang egois dan Lazarus yang miskin, yang setiap hari terbaring di depan pintunya. Orang kaya itu hidup dalam kemewahan, tetapi hatinya tertutup bagi penderitaan sesamanya. Ia tidak jahat secara aktif—tetapi ia tidak peduli. Ketidakpedulian itulah yang akhirnya menjerumuskannya ke dalam penderitaan kekal.

Sementara itu, Lazarus—yang menderita sepanjang hidupnya—justru dipeluk dalam pangkuan Abraham. Kisah ini menegaskan bahwa Allah selalu berada di pihak mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir.

Mengandalkan Tuhan berarti membuka hati bagi sesama. Orang yang dekat dengan Allah pasti memiliki kepekaan pada mereka yang menderita. Ia tidak akan rakus, tidak terjebak pada ketamakan, dan tidak menjadikan kekayaan sebagai berhala. Sebaliknya, ia melihat berkat sebagai amanat untuk dibagikan.

Semakin kita diberkati, semakin kita terpanggil untuk berbagi. Semakin kita berhasil, semakin kita dipanggil untuk rendah hati.

Ketika kita sungguh menaruh harapan pada Tuhan, hidup kita tidak akan tandus, tetapi akan penuh arti, penuh cinta, dan penuh buah kebaikan—terutama bagi mereka yang menjadi “Lazarus” di sekitar kita.

Tuhan memberkati. Ave Maria!