Umat Stasi St. Paulus Kumurkek Menyambut Kehadiran Salib IYD Dengan Sukacita

43
Pastor Rekan Stasi St. Paulus Kumurkek, RD. Fransiskus Katino bersama Orang Muda Katolik Paroki St. Yoseph Ayawasi

MAYBRAT, KOMSOSKMS.ORG – Setelah berkeliling mengunjungi Stasi Santo Yohanes Rasul Konja dan Stasi Santo Markus Maan, Salib Indonesia Youth Day (IYD) kembali melanjutkan perjalanannya ke Stasi Santo Paulus Kumurkek. Pada Selasa, 9 Desember 2025, suasana penuh sukacita dan haru mewarnai penyambutan Salib IYD yang diantar langsung oleh Panitia Penyambutan Salib IYD Paroki Santo Yoseph Ayawasi bersama umat. Rombongan pembawa Salib tiba sekitar pukul 09.00 WIT di jalan utama Stasi Santo Paulus Kumurkek, disambut oleh ratusan umat yang telah memenuhi area tersebut sejak pagi hari.

Panitia Penyambutan Salib IYD dan Umat Stasi Maan mengantar Salib IYD ke Stasi St. Paulus Kumurkek

Prosesi penerimaan berlangsung khidmat dan meriah. Pastor Rekan Stasi Santo Paulus Kumurkek, RD Fransiskus Katino, Pr, bersama umat mengenakan busana adat Maybrat dan menampilkan tarian tradisional sebagai bentuk penghormatan mendalam terhadap simbol iman yang dibawa itu. Iring-iringan kemudian bergerak perlahan menuju gereja untuk merayakan Perayaan Ekaristi yang menjadi pusat perjumpaan iman dan momen penguatan spiritual hari itu.

Dalam homilinya, Pastor Frans Katino menyampaikan refleksi mendalam mengenai makna kehadiran Salib IYD bagi orang muda dan seluruh umat. Ia menegaskan bahwa perjalanan Salib dari satu stasi ke stasi lainnya tidak boleh dipandang sekadar tradisi perarakan, tetapi sebagai peristiwa rohani yang harus dihayati dengan sungguh-sungguh.

“Sejak tanggal 1 Desember, kita menyambut Salib Indonesia Youth Day ini secara kolosal. Tetapi lebih dari sekadar perayaan besar, kita sedang menyatakan kesaksian iman. Salib ini tidak diarak untuk menunjukkan kekuatan massa, tetapi untuk mengingatkan bahwa hidup kita—terlebih orang muda—tidak dapat dipisahkan dari salib,” tegas Pastor Frans Katino.

Ketua OMK Stasi St. Paulus Kumurkek menerima dan mengarak Salib IYD

Ia juga mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orang muda masa kini adalah kecenderungan untuk menjauh dari salib. Ketika nilai pengorbanan, kedisiplinan, dan kasih mulai diabaikan, arah hidup pun mudah hilang.

“Ketika orang muda mulai meninggalkan salib, maka saat itulah hidup mudah kehilangan arah. Dampaknya bukan hanya bagi Gereja, tetapi juga budaya, adat, dan kehidupan sosial masyarakat. Sebab kekuatan sejati kita bersumber dari Salib Kristus—salib yang justru mengalirkan cinta, kekuatan, dan harapan bagi setiap orang,” lanjutnya.

Di akhir pesan, Pastor Frans Katino mengajak seluruh umat, khususnya Orang Muda Katolik (OMK), untuk menjadikan kehadiran Salib IYD sebagai momen pembaruan iman.

“Biarlah Salib ini berjalan bukan hanya di jalan-jalan kampung kita, tetapi masuk ke hati kita, memperkuat komitmen kita sebagai pengikut Kristus,” tutupnya.

Umat Stasi St. Paulus Kumurkek menyambut Salib IYD dengan tarian-tarian adat Maybrat

Sementara itu, Ketua Panitia IYD Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Titus Korain, menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme umat dari setiap stasi yang telah dilalui Salib IYD.

“Setiap stasi memberi penyambutan yang luar biasa. Kami panitia sangat terharu melihat antusiasme umat—baik di Konja, Maan, maupun hari ini di Kumurkek. Ini menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan kerinduan umat akan Salib Kristus sangat besar,” ungkapnya.

Titus juga menekankan bahwa kedatangan Salib IYD merupakan kesempatan langka yang harus dimanfaatkan dengan sungguh oleh kaum muda.

“Ini ajang kita, momen kita sebagai orang muda Katolik. Jangan biarkan salib hanya lewat begitu saja. Gunakan dua hari ini untuk berdoa, berdevosi, membawa intensi-intensi pribadi di hadapan Tuhan. Biarkan salib ini berbicara kepada kita,” pesannya.

Umat mengikuti perayaan Ekaristi dengan penuh khidmat

Lebih lanjut, ia menyinggung proses panjang yang masih harus dilalui menuju puncak Indonesia Youth Day 2027.

“Kami akan terus bekerja hingga Pra-IYD 2026 dan puncaknya tahun 2027. Kami mohon dukungan seluruh umat dan OMK di setiap stasi, karena keberhasilan IYD bukan hanya kerja panitia, tetapi kerja seluruh Gereja. Ketika Salib meninggalkan Stasi Kumurkek nanti, saya berharap ada jejak iman yang tertinggal dalam hati kaum muda. Jangan sampai salib masuk kosong dan keluar kosong, tetapi biarlah ia membawa perubahan,” tambahnya.

Setelah Perayaan Ekaristi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan rekoleksi bersama yang diikuti oleh OMK dan para siswa-siswi SMP Negeri 1 Aifat. Rekoleksi ini menjadi ruang pendalaman iman bagi kaum muda untuk semakin memahami makna perjalanan Salib IYD serta peran mereka dalam persiapan menuju Indonesia Youth Day 2027.

Kedatangan Salib IYD di Kumurkek meninggalkan kesan mendalam bagi umat dan kaum muda di Paroki Santo Yoseph Ayawasi. Peristiwa ini bukan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi pengalaman iman yang menyentuh hati dan menggerakkan semangat baru bagi seluruh umat dalam menyongsong IYD 2027.
Penulis: Charles Fatie – KOMSOS PAROKI AYAWASI