TOT Komsos Perdalam Hakikat, Esensi, dan Jati Diri Komunikasi Sosial Gereja

11

Komunikasi Gereja Bukan Sekadar Dokumentasi, tetapi Bagian dari Perutusan Mewartakan Keselamatan.

MUNTILAN, KOMSOSKMS.ORG – Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja dipanggil bukan sekadar untuk mengelola kamera, studio, dokumentasi, fotografi, videografi, maupun produksi konten. Lebih dari itu, Komsos merupakan bagian penting dari perutusan Gereja untuk mewartakan Injil, membangun persekutuan, menjaga kebenaran, serta menghadirkan nilai-nilai Kristiani di tengah perkembangan dunia komunikasi.

Mgr. Didik, Ketua Komsos KWI menyajikan materi.dihadapan peserta Training of Trainers Komsos (24/8/2026).

Penegasan tersebut menjadi salah satu pokok utama dalam Training of Trainers (TOT) Komunikasi Sosial Gereja melalui materi bertajuk “Hakikat, Esensi, dan Jati Diri Komunikasi Sosial Gereja.” Materi ini disampaikan oleh Mgr. Ag. Tri Budi Utomo, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang akrab disapa Mgr. Didik. Ia juga merupakan Uskup Keuskupan Surabaya.

Melalui materi tersebut, para peserta diajak menyegarkan kembali pemahaman mengenai identitas, hakikat, dan perutusan Komsos dalam kehidupan Gereja, khususnya dalam terang ajaran Konsili Vatikan II.

Bukan Sekadar Dokumentasi
Mgr. Didik mengawali pembahasan dengan pertanyaan mendasar: Siapa sebenarnya Komsos dan untuk apa Komsos hadir dalam Gereja?

Peserta TOT terdiri para Ketua Komsos dan pegiat Komsos keuskupan se-Indonesia

Pertanyaan ini penting karena dalam praktik pastoral, Komsos masih kerap dipahami sebatas urusan dokumentasi, fotografi, videografi, studio, dan produksi konten. Padahal, arah dasar komunikasi sosial Gereja telah dirumuskan secara kuat sejak Konsili Vatikan II, terutama melalui dokumen Inter Mirifica, dan kemudian diperdalam dalam Communio et Progressio.

Melalui Inter Mirifica, Gereja menunjukkan sikap terbuka terhadap perkembangan teknologi komunikasi sosial. Kemajuan teknologi tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau ditolak, melainkan sebagai peluang baru untuk memperluas pewartaan Kerajaan Allah.

Karena itu, perkembangan media komunikasi perlu dilihat sebagai kesempatan bagi Gereja untuk hadir dan menyampaikan kabar keselamatan kepada semakin banyak orang.

Mgr. Didik menegaskan “Komunikasi Gereja Bukan Sekadar Dokumentasi, tetapi Bagian dari Perutusan Mewartakan Keselamatan”

Namun, media juga memiliki sisi lain. Sarana komunikasi dapat digunakan untuk membangun, tetapi dapat pula disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian, informasi palsu, perpecahan, serta berbagai tindakan yang merendahkan martabat manusia.

Dalam konteks tersebut, Gereja dipanggil untuk menjadi nurani masyarakat. Gereja tidak hanya menggunakan media, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan, meluruskan, dan mengarahkan penggunaannya demi keselamatan manusia serta pembangunan kehidupan bersama.

Communio et Progressio: Komunikasi yang Membangun Persekutuan
Pembahasan kemudian diarahkan pada dokumen Communio et Progressio. Dua kata dalam judul dokumen tersebut menjadi kunci untuk memahami perutusan komunikasi sosial Gereja, yakni communio yang berarti persekutuan dan progressio yang berarti kemajuan.

Komunikasi Gereja harus membantu membangun persekutuan sekaligus mendorong kemajuan manusia.

Komunikasi Gereja harus membantu membangun persekutuan sekaligus mendorong kemajuan manusia. Dengan demikian, Komsos tidak boleh menjadi sekadar “tempelan” dalam struktur pastoral Gereja. Komsos harus menjadi bagian integral dari kehidupan dan karya pastoral.

Untuk itu, diperlukan perhatian serius terhadap struktur, pengorganisasian, sumber daya manusia, serta penyiapan tenaga-tenaga yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi.

Communio et Progressio sendiri dapat dipahami melalui tiga pokok besar, yakni dasar teologis komunikasi sosial, sumbangan komunikasi sosial bagi kehidupan manusia, serta tanggung jawab Gereja dalam memanfaatkan komunikasi sosial bagi perutusannya.

Komunikasi Berakar pada Allah
Salah satu pokok penting yang ditekankan dalam materi TOT adalah bahwa komunikasi Gereja pada dasarnya bersumber dari komunikasi Allah sendiri.

Salah satu pokok penting yang ditekankan dalam materi TOT adalah bahwa komunikasi Gereja pada dasarnya bersumber dari komunikasi Allah sendiri.

Allah mengomunikasikan diri-Nya kepada manusia melalui Sabda. Puncak komunikasi ilahi tersebut terjadi dalam misteri Inkarnasi, ketika Sabda menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.

Inkarnasi menjadi model utama komunikasi Kristiani. Allah tidak berbicara kepada manusia dari kejauhan, tetapi masuk ke dalam sejarah manusia, mengambil kondisi manusia, dan berbicara melalui bahasa kehidupan manusia.

Yesus Kristus sendiri menjadi Sabda yang hidup. Ia menyampaikan kasih dan kehendak Bapa bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui seluruh hidup-Nya: perkataan, tindakan, sikap, pengorbanan, penderitaan, dan kasih-Nya.

Karena itu, komunikasi Kristiani tidak boleh berhenti pada penyampaian informasi. Komunikasi harus membawa kehidupan dan keselamatan.

Menghadirkan Kristus dalam Bahasa Zaman
Di tengah perkembangan media digital serta hadirnya generasi milenial dan generasi Z, Komsos menghadapi tantangan besar: bagaimana menghadirkan pesan Kristiani dalam bahasa yang dapat dipahami manusia zaman sekarang tanpa kehilangan inti iman?

Komsos menghadapi tantangan besar: bagaimana menghadirkan pesan Kristiani dalam bahasa yang dapat dipahami manusia zaman sekarang tanpa kehilangan inti iman?

Komsos dipanggil untuk mengikuti pola komunikasi Kristus. Seperti Kristus yang masuk ke dalam kehidupan manusia, demikian pula Gereja perlu hadir dalam ruang komunikasi manusia masa kini.

Media sosial, video, foto, tulisan, radio, televisi, maupun berbagai platform digital bukanlah tujuan akhir. Semua itu hanyalah sarana. Tujuan akhirnya adalah agar pesan yang disampaikan mampu menyentuh hati manusia, menghadirkan kebenaran, membangun persaudaraan, dan membawa manusia semakin dekat kepada Allah.

Karena itu, karya Komsos tidak pertama-tama diarahkan untuk membuat dirinya terkenal atau sekadar membangun citra lembaga. Komsos justru dipanggil untuk mengosongkan diri dan menjadi saluran Gereja bagi dunia.

Dari Transfer Informasi Menuju Transformasi
Penekanan penting lainnya adalah bahwa komunikasi Gereja bukan sekadar transfer pesan, tetapi harus menghasilkan transformasi.

Komunikasi yang sejati diharapkan membawa perubahan dalam diri manusia. Pesan yang disampaikan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menggerakkan hati, membangun iman, mendorong pertobatan, dan melibatkan manusia semakin dalam kehidupan Allah.

Dalam perspektif ini, komunikasi menjadi pemberian diri. Komunikasi menghadirkan kasih dan membangun persatuan antara Allah dengan manusia, manusia dengan Allah, serta manusia dengan sesamanya.

Puncak gambaran komunikasi sebagai pemberian diri dapat ditemukan dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi, Kristus memberikan diri-Nya secara utuh bagi manusia. Karena itu, Ekaristi menjadi gambaran kuat mengenai hakikat komunikasi Kristiani: komunikasi sebagai pemberian diri, komunikasi sebagai kasih, dan komunikasi sebagai jalan menuju persatuan atau communio.

Menjaga Kebenaran dan Mendampingi Insan Media
Materi TOT juga menyoroti tanggung jawab Gereja terhadap para pekerja media. Wartawan, jurnalis, pegiat media, dan seluruh insan komunikasi membutuhkan perhatian serta pendampingan pastoral dari Gereja.

Gereja dipanggil untuk ikut membangun pers yang sehat, yakni pers yang menghormati martabat manusia, hak asasi manusia, kebenaran, keadilan, serta prinsip-prinsip moral.

Komunikasi Gereja bukan sekadar transfer pesan, tetapi harus menghasilkan transformasi. Komunikasi yang sejati diharapkan membawa perubahan dalam diri manusia. Pesan yang disampaikan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menggerakkan hati, membangun iman, mendorong pertobatan, dan melibatkan manusia semakin dalam kehidupan Allah.

Dalam konteks tersebut, Komsos memiliki peran strategis untuk membekali umat, khususnya kaum awam, dengan keterampilan komunikasi, pengetahuan media, pemahaman iman dan ajaran Katolik, serta kemampuan mengomunikasikan iman secara tepat dan bertanggung jawab.

Mandat Konsili Vatikan II
Keberadaan Komsos dalam struktur Gereja bukanlah sebuah kebetulan. Inter Mirifica memberikan sejumlah rekomendasi penting, antara lain penerbitan instruksi khusus mengenai komunikasi sosial, penyelenggaraan Hari Komunikasi Sosial Sedunia setiap tahun, pembentukan lembaga khusus komunikasi sosial pada tingkat universal, serta pembentukan lembaga atau biro komunikasi sosial di tingkat keuskupan dan konferensi para uskup.

Konsili Vatikan II juga mendorong keterlibatan kaum awam yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi.

Dengan demikian, keberadaan Komisi Komsos dalam Gereja memiliki dasar yang kuat. Komsos bukan sekadar pelengkap struktur pastoral, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab Gereja dalam menjalankan tugas pewartaan di tengah perkembangan dunia komunikasi.

Menjadi Gereja yang Hadir di Ruang Komunikasi
Pada akhirnya, materi TOT menegaskan bahwa tantangan Komsos masa kini bukan sekadar bagaimana menghasilkan konten yang menarik, tetapi bagaimana menghadirkan Kristus dan nilai-nilai Injil dalam seluruh ruang komunikasi manusia.

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, Gereja dipanggil untuk menghadirkan komunikasi yang membangun, menyatukan, menyembuhkan, dan menyelamatkan.

Komsos karena itu perlu terus bergerak dari sekadar “mendokumentasikan karya Gereja” menuju “mengomunikasikan wajah Gereja dan menghadirkan karya keselamatan Allah.”

Dengan berakar pada teologi komunikasi, semangat Inter Mirifica dan Communio et Progressio, serta teladan komunikasi Kristus sendiri, Komsos diharapkan semakin mampu menjadi jembatan antara Gereja dan dunia, antara Injil dan budaya digital, serta antara pesan iman dan kehidupan manusia zaman sekarang.

Komunikasi Gereja pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi tentang bagaimana melalui komunikasi itu Kristus hadir, manusia dipersatukan, kebenaran dijaga, dan kehidupan dibangun.

P. Fransiskus Katino, Pr – Komsoskms