SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Temu Pastores (TePas) 2026 Keuskupan Manokwari–Sorong resmi dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Manokwari–Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, pada Selasa, 20 Januari 2026. Perayaan pembukaan berlangsung dengan penuh khidmat di Aula Lux Ex Oriente (LEO), Sorong.

Dalam perayaan Ekaristi tersebut, Mgr. Datus didampingi oleh Mgr. Maximus Regus, Uskup Labuan, dan Mgr. Pius Riana Prabdi, Uskup Ketapang. Hadir pula lebih dari 300 orang yang terdiri dari para imam, diakon, calon diakon, biarawan-biarawati, para frater, serta perwakilan Dewan Paroki se-wilayah Sorong dan Aimas. Pembukaan TePas 2026 semakin semarak dengan dukungan koor gabungan Orang Muda Katolik (OMK) Tim Pastoral Wilayah Sorong yang melayani liturgi pada misa pembukaan.

TePas sebagai Ruang Merajut Semangat Pastoral
Dalam homilinya, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa Temu Pastores memiliki akar sejarah yang panjang dan penting bagi perjalanan pastoral Keuskupan Manokwari–Sorong. Ia mengingatkan bahwa Temu Pastores pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005 dan telah berlangsung secara rutin hingga 2019, sebelum kemudian terhenti karena berbagai Covid.
“Temu Pastores ini diselenggarakan sebagai sarana untuk mengambil pokok-pokok tematis pastoral, merajut semangat kebersamaan, saling mengenal dalam medan pelayanan yang sama, bertukar pikiran, serta berbagi pengalaman dan keterampilan,” tegas Mgr. Datus.

Ia berharap melalui pertemuan ini, para pelayan pastoral semakin bertanggung jawab, kompak, dan solid dalam melaksanakan tugas perutusan Gereja di Keuskupan Manokwari–Sorong.
Gereja Menyongsong Indonesian Youth Day
Dalam konteks pastoral kekinian, Mgr. Datus Lega juga menekankan bahwa TePas 2026 memiliki arti strategis karena berkaitan langsung dengan persiapan Indonesian Youth Day (IYD). Keuskupan Manokwari–Sorong dipercaya menjadi tuan rumah IYD IV, yang semula direncanakan berlangsung pada 2028 namun kemudian dimajukan menjadi tahun 2027.

Ia menjelaskan bahwa berbagai langkah persiapan telah dilakukan, mulai dari sosialisasi kepada Kuria Keuskupan, Rapat Dewan Keuskupan yang dihadiri para Ketua Tim Pastoral Wilayah (TPW), hingga pelaksanaan kirab Salib IYD yang hingga kini masih terus berlangsung dengan antusiasme tinggi, baik di wilayah perkotaan maupun pedalaman, pesisir, dan daerah pinggiran.
“Pada TePas kali ini, sosialisasi IYD menghadirkan semua pastor yang berkarya di Keuskupan Manokwari–Sorong, ditambah dua diakon dan dua calon diakon. Selain itu, karena ini menyangkut hajatan besar OMK Indonesia, kami juga mengundang 30 perwakilan OMK dari seluruh wilayah keuskupan,” ungkapnya.

Orang Muda di Garis Depan Pelayanan
Mgr. Hilarion Datus Lega secara khusus menyampaikan rasa syukur atas keterlibatan orang muda dalam kepanitiaan TePas 2026. Ia menegaskan bahwa hampir seluruh panitia inti dipercayakan kepada orang muda, dengan Pastor Ivan Kocu, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Manokwari–Sorong, sebagai ketua panitia, didampingi oleh Pater Alex Laike sebagai wakil ketua.
“Kepanitiaannya tidak gemuk, tidak juga ramping, tapi proporsional dan operasional,” ujar Mgr. Datus Lega dengan nada penuh apresiasi. Ia menyebut berbagai seksi yang bekerja dengan penuh dedikasi, mulai dari akomodasi, transportasi, liturgi, hingga perlengkapan yang dikoordinasikan dengan baik oleh para panitia.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas hampir 100 persen kehadiran para pastor dalam TePas 2026, sebagai tanda komitmen dan tanggung jawab bersama dalam karya pelayanan Gereja.

Manusia sebagai Pusat Pelayanan
Mengulas bacaan suci yang diperdengarkan dalam misa pembukaan, Mgr. Datus Lega menegaskan bahwa fokus utama pelayanan Gereja adalah manusia. Dalam bacaan pertama, Nabi Samuel tidak mengurapi para kakak Daud, melainkan Daud yang masih muda dan sederhana, karena Tuhan memandang hati, bukan penampilan luar.
Sementara itu, dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa manusia adalah tuan atas hari Sabat, bukan sebaliknya. Aturan dan norma tidak boleh menghambat pertumbuhan dan martabat manusia.
Mgr. Datus kemudian mengaitkan pesan Kitab Suci dengan dokumen Konsili Vatikan II Inter Mirifica tentang komunikasi sosial. Ia menegaskan bahwa di tengah kecanggihan teknologi dan artificial intelligence, hal yang paling mengagumkan tetaplah manusia itu sendiri.
“Manusia adalah tuan atas media, sarana, dan prasarana. Karena itu, dalam pelayanan pastoral, terutama pendampingan orang muda, kita harus selalu menempatkan manusia sebagai pusat,” tegasnya.
Ia berharap agar TePas 2026 sungguh menjadi sarana rahmat, sehingga para pastor dan semua yang terlibat semakin meneguhkan komitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam karya kerasulan, demi kemajuan dan perkembangan Keuskupan Manokwari–Sorong dalam bimbingan dan penyertaan Tuhan.

Dukungan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya
Pada kesempatan yang sama, sambutan juga disampaikan oleh Gubernur Papua Barat Daya. Melalui Temu Pastores ini, Gubernur menyampaikan apresiasi kepada Gereja Katolik yang terus mengambil peran strategis dalam pendampingan dan pembinaan orang muda.
Ia menegaskan bahwa TePas merupakan ruang penting bagi para gembala Gereja untuk bergumul, berbagi, dan merumuskan tanggung jawab pastoral bagi Orang Muda Katolik agar semakin terlibat dalam menghadirkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
“Saya melihat Sorong ini sangat strategis. Para pastor dibekali, saling berinteraksi, dan membangun pertemanan yang akan berdampak pada kualitas pelayanan Gereja, terutama bagi orang muda Katolik,” ungkapnya.
Gubernur juga menegaskan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya terhadap persiapan Indonesian Youth Day. Ia mempersilakan panitia untuk berkoordinasi lebih lanjut dan menyampaikan rencana kerja, seraya menegaskan kesiapan pemerintah memberikan dukungan sesuai kemampuan yang ada.
Menutup sambutannya, Gubernur mengajak seluruh umat untuk terus saling mendoakan, agar Tuhan menganugerahkan hikmat, kekuatan, dan persatuan bagi semua pihak dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa dan daerah, khususnya dalam membangun Papua Barat Daya yang bermartabat.





