SORONG, KOMSOSKMS.ORG — Sebanyak 22 anggota Orang Muda Katolik (OMK) dari Tim Pastoral Wilayah (TPW), Bintuni menginjakkan kaki di Pelabuhan Arar, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu, (17/10/2026) dini hari. Kedatangan rombongan peserta Pra Indonesian Youth Day (IYD) ini disambut hangat oleh Panitia, setelah menempuh perjalanan laut yang menantang.

Kedatangan para peserta secara langsung disambut oleh Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS), RD. Iventus Ivos Kocu. Prosesi penyambutan berlangsung penuh kekeluargaan meski rombongan tiba pada dini hari di tengah suasana pelabuhan yang tenang.
Dalam arahannya, RD. Iventus Ivos Kocu menyampaikan harapan agar momentum Pra-IYD ini menjadi awal yang baik dalam membangun kerja sama yang erat antar-semua pihak. “penting sekali kita membangun kerja sama yang kuat antara panitia lokal, peserta, dan seluruh umat Katolik demi kelancaran agenda yang telah direncanakan,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi semangat para peserta yang tetap antusias hingga tiba di tempat tujuan. Seluruh rangkaian penyambutan dan persiapan diharapkan dapat terus berjalan lancar serta memberikan dampak positif sesuai dengan harapan bersama.
Sementara itu, Ketua Panitia Pra-IYD KMS, Nafa Indayana Supit, mengutarakan bahwa mengemban amanah sebagai ketua panitia merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Kendati demikian, ia memandangnya sebagai ruang belajar yang berharga untuk mengasah kepemimpinan dan kebersamaan.
Nafa menambahkan bahwa dinamika dalam kegiatan Pra-IYD ini memberikan nilai tambah yang signifikan, tidak hanya bagi para peserta dari TPW Bintuni, tetapi juga bagi seluruh panitia dan pihak-pihak yang terlibat dalam menyukseskan acara tersebut. “Ini kesempatan istimewa untuk kita saling belajar dan sungguh luar biasa,” tutur Nafa.
Perwakilan OMK TPW Bintuni, Rivaldo Wonosoba, menceritakan bahwa perjalanan laut yang mereka tempuh sangat panjang dan melelahkan. Meski harus menghadapi tantangan gelombang laut yang membuat pusing, ia menegaskan bahwa rasa bangga sebagai orang muda Katolik berhasil mengalahkan rasa lelah tersebut untuk membentuk pribadi yang tangguh dan militan.*





