Renungan Harian: Sukacita Sejati dalam Sabda Allah

57

RENUNGAN HARIAN, Sabtu, 10 Oktober 2026
Bacaan I: Galatia 3:22-29
Bacaan Injil: Lukas 11:27-28

Sukacita Sejati dalam Sabda Allah
Setiap orang tentu merindukan hidup yang penuh sukacita. Namun, sukacita sejati tidak selalu bergantung pada keberhasilan, kelimpahan materi, atau terpenuhinya semua keinginan kita. Sukacita sejati tumbuh ketika kita hidup dekat dengan Tuhan dan membiarkan Sabda-Nya menuntun setiap langkah kehidupan kita.

Dalam Injil hari ini, seorang perempuan berseru kepada Yesus, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Namun, Yesus menjawab, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk. 11:27-28).

Jawaban Yesus ini menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak cukup hanya dengan mengagumi Tuhan, mendengarkan Sabda-Nya, atau rajin menjalankan kegiatan keagamaan. Kita sungguh berbahagia apabila Sabda Tuhan menjadi pedoman hidup dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Mendengarkan Sabda Allah harus menghasilkan perubahan dalam cara kita berpikir, berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa saja rajin berdoa dan mengikuti Misa, tetapi masih menyimpan dendam terhadap orang lain. Kita mendengarkan Sabda tentang kasih, tetapi sulit mengampuni anggota keluarga yang bersalah. Kita mendengarkan ajaran tentang kejujuran, tetapi masih terbiasa berbohong demi keuntungan pribadi. Kita berdoa memohon berkat Tuhan, tetapi enggan menolong sesama yang sedang mengalami kesulitan.

Di sinilah kita perlu bertanya: apakah Sabda Tuhan sungguh mengubah hidup kita? Sebab, Sabda Tuhan bukan hanya untuk didengar, melainkan untuk dihidupi. Ketika kita memilih mengampuni daripada membalas, berkata jujur daripada menipu, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan menolong sesama tanpa mengharapkan imbalan, kita sedang memelihara Sabda Allah dalam kehidupan nyata.

Bacaan pertama juga mengingatkan bahwa dalam Kristus, kita semua adalah anak-anak Allah karena iman. Kita dipanggil untuk hidup sebagai saudara yang saling menghargai, tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Dengan demikian, sukacita yang kita terima dari Tuhan menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan menghadirkan kasih di tengah keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Marilah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah Sabda Tuhan sungguh menjadi pedoman hidup kita, ataukah kita hanya mendengarkannya tanpa melaksanakannya? Hari ini, pilihlah satu Sabda Tuhan untuk diwujudkan secara konkret, entah dengan mengampuni seseorang, membantu orang yang membutuhkan, berkata jujur, atau memberikan perhatian kepada mereka yang merasa diabaikan.

Semoga kita tidak hanya menjadi pendengar Sabda Allah, tetapi juga pelaku Sabda-Nya. Sebab, ketika Sabda Tuhan berakar dalam hati dan nyata dalam perbuatan, hidup kita akan dipenuhi sukacita dan kehadiran kita menjadi berkat bagi sesama.
Tuhan memberkati. Ave Maria!