Renungan Harian: Ketaatan Yang Sejati Tidak Mematikan Kasih

133

Renungan Harian 20 Januari 2026
Bacaan I: 1 Samuel 16:1–13
Bacaan Injil: Markus 2:23–28

Orang yang sungguh beriman memandang aturan dan norma agama bukan sebagai belenggu, melainkan sebagai sarana untuk membangun relasi yang hidup dan membebaskan dengan Tuhan serta sesama. Aturan dan norma tidak dimaksudkan untuk membatasi orang dalam berbuat baik, apalagi dijalankan secara kaku dan tanpa hati. Sebaliknya, melalui aturan dan norma, manusia justru diberi ruang untuk semakin bertumbuh dalam kasih, belaskasih, dan tanggung jawab.

Namun, realitas hidup sering kali memperlihatkan sisi yang memprihatinkan. Kadang kita menyaksikan bagaimana aturan dan norma agama dijadikan alat untuk mengekang kebebasan orang lain dalam melakukan kebaikan. Atas nama agama, tindakan-tindakan yang sejatinya mengalirkan cinta dan belaskasih justru dibungkam, hanya karena tidak sejalan dengan tafsir atau kepentingan kelompok tertentu. Di sinilah iman berisiko kehilangan wajah kemanusiaannya.

Dalam Injil hari ini, Yesus berhadapan langsung dengan orang-orang Farisi, para penjaga hukum dan norma agama. Mereka menjalankan aturan secara kaku, bahkan sampai mengaburkan makna terdalam dari hukum itu sendiri. Ketika murid-murid Yesus memetik gandum dan memakannya pada hari Sabat, mereka segera ditegur. Bagi orang Farisi, ketaatan pada aturan jauh lebih penting daripada kebutuhan manusia yang nyata.

Yesus pun menanggapi dengan pernyataan yang sangat tegas dan mendalam: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk 2:27–28)

Pernyataan ini tidak bermaksud meremehkan atau meniadakan aturan dan norma. Yesus justru mengembalikan hukum pada tujuan aslinya: melayani kehidupan manusia dan menumbuhkan kasih. Aturan dibuat agar manusia semakin hidup sebagai manusia yang utuh—manusia yang mampu mengasihi, berbelaskasih, dan menghargai martabat sesamanya.

Pesan yang sama juga kita temukan dalam bacaan pertama. Allah tidak memilih Daud berdasarkan penampilan luar, status, atau kriteria manusiawi. Tuhan melihat hati. Pilihan Allah selalu menembus batas-batas formal dan mengarah pada kedalaman batin manusia. Ini menjadi cermin bagi kita: iman sejati tidak berhenti pada kepatuhan lahiriah, tetapi berakar pada hati yang terbuka bagi kehendak Allah dan kebutuhan sesama.

Karena itu, marilah kita menaati setiap aturan dan norma dengan tulus, sadar, dan bertanggung jawab. Ketaatan yang sejati tidak mematikan kasih, tetapi justru menghidupkannya. Dengan demikian, iman kita semakin bebas untuk diwujudkan dalam tindakan nyata: saling mencintai, menolong, dan menghargai sesama sebagai pribadi yang luhur, jauh melampaui sekadar aturan dan norma.

Tuhan memberkati. Ave Maria.