Renungan Harian: Kekayaan Bukanlah Jaminan Keselamatan

1

RENUNGAN HARIAN, Senin, 19 Oktober 2026

Bacaan I: Efesus 2:1-10 Bacaan Injil: Lukas 12:13-21

Kekayaan Bukanlah Jaminan Keselamatan

Ketamakan merupakan salah satu sikap yang dapat merusak kehidupan manusia. Ketamakan membuat seseorang selalu merasa kurang, sekalipun ia telah memiliki banyak hal. Harta yang semula dicari untuk memenuhi kebutuhan hidup perlahan-lahan dapat menjadi pusat perhatian, bahkan menguasai hati dan pikiran. Akibatnya, orang tidak lagi melihat kekayaan sebagai sarana untuk hidup sejahtera, melainkan sebagai tujuan utama yang harus dikejar dengan segala cara.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menyaksikan bagaimana keinginan untuk memperoleh kekayaan terkadang mengalahkan kejujuran, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama. Ada orang yang rela mengorbankan kepercayaan, merampas hak orang lain, atau mengabaikan penderitaan sesama demi keuntungan pribadi. Padahal, sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, semuanya tidak dapat menggantikan kasih, kedamaian hati, dan keselamatan jiwa.

Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan peringatan yang sangat tegas: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk. 12:15).

Yesus kemudian menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang memperoleh hasil panen berlimpah. Ia berencana merombak lumbung-lumbungnya, membangun yang lebih besar, dan menyimpan seluruh hasil kekayaannya untuk dinikmati pada masa mendatang. Ia merasa telah memiliki persediaan yang cukup untuk bertahun-tahun sehingga dapat hidup tenang, makan, minum, dan bersenang-senang.

Namun, dalam perencanaannya itu, ia melupakan satu hal yang paling mendasar: hidupnya sendiri berada di tangan Allah. Ia sibuk memikirkan bagaimana menyimpan kekayaan, tetapi tidak memikirkan bagaimana mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan. Ia mengandalkan harta seolah-olah kekayaan dapat menjamin masa depannya.

Karena itulah, Allah menegurnya: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Luk. 12:20).

Teguran ini mengajak kita menyadari bahwa hidup manusia tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki. Kekayaan dapat membantu kita memenuhi kebutuhan, membangun masa depan, dan menolong sesama. Namun, kekayaan tidak dapat membeli kehidupan yang kekal. Harta menjadi berkat apabila diperoleh dengan jujur, dikelola secara bertanggung jawab, dan digunakan untuk mendukung kehidupan serta kesejahteraan bersama.

Pesan Injil ini juga sejalan dengan bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus. Paulus menegaskan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan semata-mata karena usaha atau kehebatan kita sendiri (Ef. 2:8-9). Keselamatan adalah anugerah Allah, bukan sesuatu yang dapat kita beli atau peroleh dengan mengandalkan kekayaan dan prestasi duniawi.

Karena itu, kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki merupakan anugerah yang harus disyukuri dan dipertanggungjawabkan. Kita memang perlu bekerja keras, merencanakan masa depan, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, jangan sampai kesibukan mengejar kekayaan membuat kita kehilangan waktu untuk Tuhan, mengabaikan keluarga, menutup mata terhadap penderitaan sesama, atau melupakan nilai-nilai kejujuran dan keadilan.

Kekayaan yang sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan juga tentang seberapa besar kasih yang kita bagikan. Orang yang kaya di hadapan Allah ialah orang yang hidup dalam iman, bersyukur atas berkat yang diterimanya, murah hati terhadap sesama, dan setia menggunakan hidupnya untuk melakukan kebaikan.

Marilah kita memeriksa hati dan cara hidup kita. Apakah selama ini kita lebih sibuk mengumpulkan harta daripada membangun hubungan dengan Allah? Apakah kekayaan yang kita miliki telah membawa berkat bagi keluarga dan sesama, atau justru membuat kita semakin mementingkan diri sendiri?.

Semoga kita dijauhkan dari sikap tamak dan keinginan untuk memiliki segala sesuatu bagi diri sendiri. Marilah kita bekerja dengan tekun, memperoleh rezeki secara jujur, hidup sederhana, dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Gunakanlah kekayaan sebagai sarana untuk menghadirkan kasih, menegakkan keadilan, dan menolong sesama.

Pada akhirnya, bukan banyaknya harta yang akan menentukan nilai hidup kita di hadapan Allah, melainkan iman, kasih, dan kesetiaan kita dalam menjalankan kehendak-Nya. Semoga kita semakin kaya dalam kebaikan dan semakin bijaksana dalam menggunakan setiap berkat yang dipercayakan kepada kita, sehingga seluruh hidup kita menjadi jalan menuju keselamatan.

Tuhan memberkati. Ave Maria!