Renungan Harian: Kasih yang menyentuh, menyembuhkan, dan memulihkan.

41

Renungan Harian, 13 Februari 2026
Bacaan I: 1Raj 11:29-32; 12:19
Bacaan Injil: Mrk 7:31-37

Panggilan kita sebagai para pengikut Kristus adalah untuk saling melengkapi dan mengasihi satu sama lain. Kita hidup dalam keberagaman—watak, cara berpikir, latar belakang, pandangan—namun semua itu bukan alasan untuk terpecah, melainkan rahmat yang dianugerahkan Tuhan agar kita saling menyempurnakan. Cinta Allah telah mempersatukan kita menjadi satu keluarga besar, yang diharapkan dapat hidup dalam hormat, kesabaran, dan kasih.

Injil hari ini menegaskan bahwa cinta tidak berhenti pada teori. Cinta mesti menjelma menjadi sikap konkret: mau mendengar, mau peduli, mau hadir bagi sesama. Yesus menunjukkan teladan itu. Ia tidak hanya melihat penderitaan orang sakit secara sepintas, tetapi Ia selalu mendengarkan keluh kesah mereka, menjalin komunikasi yang tulus, dan memancarkan kasih yang membebaskan.

Hal itu tampak ketika Yesus menyembuhkan seorang tuli dan gagap. Ia menarik orang itu menjauh dari keramaian, memberi perhatian personal, menengadah ke langit dan berkata: “Effata!” — Terbukalah! Seketika telinga orang itu terbuka dan lidahnya terlepas; ia pun mampu mendengar dan berkata-kata dengan baik. Kasih yang menyentuh, menyembuhkan, dan memulihkan.

Kisah ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kita pun sering mengidap “penyakit” yang sama: tuli dan gagap.
Tuli terhadap suara Tuhan, sapaan sesama, jeritan mereka yang menderita.
Gagap dalam mengungkapkan kasih, dalam berdialog, dalam menyampaikan kebenaran dengan lembut.

Akibatnya, relasi menjadi renggang, kesalahpahaman muncul, dan ikatan persaudaraan terancam oleh konflik.

Karena itu, kita perlu selalu datang kepada Yesus. Hanya Ia yang mampu menyentuh telinga batin kita agar kita mampu mendengar dengan hati. Hanya Ia yang mampu membuka mulut kita agar kita mampu berbicara dengan cinta. Dalam terang Roh Kudus, kita dimampukan untuk menghadirkan damai melalui tutur kata dan tindakan.

Marilah hari ini kita menebarkan aroma kasih bagi siapa saja yang kita jumpai—melalui senyum, kepedulian, pengertian, dan kerendahan hati. Semoga hidup kita menjadi kesaksian nyata bahwa kasih Allah sungguh hadir di tengah dunia.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!