Renungan Harian: “Bapa Kami yang Ada di Surga”

5

RENUNGAN HARIAN umat, 19 Juni 2026
Bacaan I: Yesaya 48:1-14
Injil: Matius 6:7-15

“Bapa Kami yang Ada di Surga”
Berdoa berarti berkomunikasi dengan Tuhan. Sebagai orang beriman yang ingin membangun relasi yang akrab dengan Allah, kita perlu sesering mungkin berbicara dengan-Nya. Sebab salah satu kunci hubungan yang baik adalah komunikasi. Komunikasi yang tulus dan terus-menerus akan mengikis jarak, mempererat persatuan, serta menumbuhkan rasa saling percaya.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan bagaimana cara berdoa yang benar. Ia berkata, “Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan” (Mat. 6:7).

Melalui sabda ini, Yesus mengingatkan bahwa doa bukanlah soal banyaknya kata atau panjangnya waktu yang dihabiskan. Allah tidak menilai doa dari keindahan kalimat atau kepandaian seseorang berbicara. Ia melihat hati yang berdoa. Allah adalah Bapa yang mengenal kita dan mengetahui kebutuhan kita bahkan sebelum kita mengungkapkannya. Karena itu, doa sejati adalah ungkapan iman, kepercayaan, dan penyerahan diri kepada-Nya.

Sering kali kita datang kepada Tuhan dengan daftar panjang permohonan. Tidak salah meminta, tetapi jangan sampai doa berubah menjadi sekadar penyampaian kebutuhan tanpa relasi yang hidup dengan Tuhan. Doa yang baik lahir dari hati yang jujur, tulus, terbuka, dan penuh kerendahan hati. Kita tidak berdoa untuk mencari pujian, menunjukkan kesalehan, atau mendapatkan pengakuan dari orang lain, melainkan untuk memuliakan Allah dan memperdalam persatuan dengan-Nya.

Karena itu, Yesus mengajarkan doa yang sederhana namun sangat kaya makna, yaitu Doa Bapa Kami. Dalam doa ini, kita diajak memanggil Allah sebagai Bapa. Sebutan ini menunjukkan kedekatan, kasih, dan kepercayaan. Allah bukan pribadi yang jauh dan menakutkan, melainkan Bapa yang selalu mengasihi anak-anak-Nya.

Ketika kita mengucapkan, “Bapa kami,” kita juga mengakui bahwa setiap orang adalah saudara dan saudari kita. Maka doa tidak pernah bersifat individualistis. Di dalamnya terdapat semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.

Selanjutnya, Yesus mengajarkan keseimbangan dalam hidup rohani. Kita diajak memohon agar nama Allah dimuliakan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terlaksana. Namun kita juga boleh membawa kebutuhan sehari-hari kita kepada Tuhan, memohon rezeki, pengampunan, serta perlindungan dari pencobaan. Dengan demikian, doa menyatukan dimensi ilahi dan dimensi manusiawi dalam satu hubungan yang harmonis.

Pada bagian akhir Injil, Yesus memberikan penekanan khusus mengenai pengampunan. Ia menegaskan bahwa jika kita mengampuni sesama, Bapa surgawi pun akan mengampuni kita. Sebaliknya, jika kita menutup hati terhadap sesama, kita pun menghalangi rahmat pengampunan Allah bekerja dalam hidup kita.

Pesan ini sangat penting. Hubungan dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan sesama. Doa yang keluar dari hati yang masih menyimpan kebencian, dendam, dan permusuhan akan kehilangan kekuatannya. Mengampuni memang tidak selalu mudah, tetapi pengampunan adalah jalan menuju kebebasan, kedamaian, dan kesembuhan hati.

Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk semakin tekun berdoa dengan hati yang sederhana, tulus, dan penuh iman. Marilah kita membangun komunikasi yang akrab dengan Tuhan, bukan dengan banyak kata, melainkan dengan hati yang percaya. Dan dalam setiap doa kita, marilah kita belajar mengampuni sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengampuni kita.

Tuhan memberkati dan Ave Maria.