
SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Fransiska Romana Maharani Salindeho, yang akrab disapa Rani, terpilih sebagai pemenang sayembara desain Salib Indonesian Youth Day (IYD) 2027 Keuskupan Manokwari-Sorong. Rani merupakan Orang Muda Katolik (OMK) dari Paroki Santo Yohanes Pembaptis, Klasaman, Sorong.

Pemenang sayembara tersebut diumumkan oleh Wakil Ketua Komisi Kepemudaan (Komkep) Keuskupan Manokwari-Sorong, Alexander Laike, Pr. Sayembara ini diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan perayaan IYD 2027, yang akan berlangsung di Keuskupan Manokwari-Sorong.
Rani saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester V Jurusan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah. Selain menjalani pendidikan, ia aktif sebagai anggota Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Yohanes Pembaptis, Klasaman, Sorong.
Keterlibatannya dalam pelayanan komunikasi sosial menjadi salah satu ruang bagi Rani untuk mengembangkan kreativitas dan berkontribusi dalam kehidupan Gereja, khususnya dalam menyambut perhelatan IYD 2027.
Memadukan Iman Katolik dan Budaya Papua
Desain Salib IYD 2027 yang diusung Rani mengangkat tema “Orang Muda Katolik Tangguh Merajut Damai”, dengan inspirasi Kitab Suci dari Injil Yohanes 16:33: “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Melalui desain tersebut, Rani menyampaikan pesan tentang ketangguhan Orang Muda Katolik dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus panggilan untuk menghadirkan kasih, persaudaraan, dan damai Kristus di tengah masyarakat.
Bentuk dasar salib tetap mempertahankan identitasnya sebagai lambang keselamatan dalam iman Katolik. Namun, desain ini diperkaya dengan unsur-unsur budaya Papua, khususnya budaya masyarakat di wilayah Keuskupan Manokwari-Sorong. Perpaduan tersebut menjadi ungkapan inkulturasi iman, yakni perjumpaan antara iman Kristiani dan kebudayaan setempat.
Salah satu unsur yang menonjol adalah bentuk kedua ujung palang horizontal yang terinspirasi dari alat musik tradisional tifa Papua. Unsur ini melambangkan persaudaraan, persatuan, dan kebersamaan dalam mewartakan Injil serta membangun perdamaian.
Bagian pinggir kayu salib dilapisi kain merah yang terinspirasi dari kain khas masyarakat suku Moi di Malaumkarta, Sorong. Warna merah melambangkan kasih, keberanian, pengorbanan, dan semangat Orang Muda Katolik dalam menghidupi iman.
Pada figur tubuh Kristus yang tersalib atau Corpus Christi, kain merah juga menjadi simbol semangat merajut damai. Sebagaimana benang-benang dirangkai menjadi sehelai kain, demikian pula Orang Muda Katolik dengan latar belakang, budaya, dan karakter yang beragam dipanggil untuk dipersatukan dalam kasih Kristus.
Unsur budaya lokal turut dihadirkan melalui adaptasi mahkota duri Kristus menjadi ikat kepala adat Papua yang terinspirasi dari tradisi masyarakat suku Moi di Malaumkarta, dengan tambahan bulu kasuari. Unsur ini mengungkapkan martabat manusia, keberanian, kebijaksanaan, dan harapan, tanpa menghilangkan makna penderitaan serta pengorbanan Kristus demi keselamatan umat manusia.
Salib sebagai Tanda Persatuan dan Harapan
Desain salib tersebut juga menampilkan rangkaian ukiran khas Papua yang disusun secara simetris pada batang vertikal. Motif matahari melambangkan Kristus sebagai Terang Dunia, motif mata menggambarkan penyertaan dan perlindungan Tuhan, sulur kehidupan melambangkan pertumbuhan iman, sedangkan anyaman menjadi simbol persatuan dan kekuatan yang lahir dari kebersamaan.
Pada bagian tengah, lingkaran yang berada di belakang figur Kristus menegaskan bahwa Kristus merupakan pusat kehidupan, iman, dan perutusan Gereja. Seluruh perjalanan Orang Muda Katolik, dengan keragaman latar belakang dan budaya, dipersatukan dalam Dia.
Sementara itu, bagian dasar salib menggambarkan bentang alam Papua berupa gunung, laut, ombak, dan perahu layar. Gunung melambangkan keteguhan iman, laut menggambarkan luasnya medan perutusan Gereja, ombak merepresentasikan dinamika kehidupan, sedangkan perahu layar menjadi simbol Gereja yang terus berlayar bersama Kristus dalam menghadapi berbagai tantangan.
Perpaduan unsur-unsur tersebut menegaskan identitas geografis Keuskupan Manokwari-Sorong yang kaya akan pegunungan dan lautan. Keindahan alam Papua juga dihadirkan sebagai anugerah Tuhan yang perlu dijaga dan dirawat bersama.
Mengajak OMK Menjadi Pembawa Damai
Keseluruhan desain Salib IYD 2027 merupakan ungkapan perjumpaan antara iman Katolik dan budaya Papua. Salib tidak hanya menjadi lambang pengorbanan Kristus, tetapi juga tanda persatuan, harapan, dan panggilan untuk membangun perdamaian.
Tema “Orang Muda Katolik Tangguh Merajut Damai” mengajak OMK untuk tetap teguh dalam iman, berani menghadapi tantangan zaman, terbuka terhadap keberagaman, serta aktif membangun persaudaraan di tengah masyarakat.
Melalui desain ini, Orang Muda Katolik di Keuskupan Manokwari-Sorong diajak menyadari bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang bagi persatuan, melainkan kekayaan yang dapat mempererat persaudaraan.
Salib IYD 2027 diharapkan menjadi simbol yang menyatukan semangat orang muda dalam mempersiapkan perjumpaan iman tersebut. Dalam terang Kristus yang tersalib, OMK dipanggil untuk bertumbuh dalam iman, memperkuat persaudaraan, dan menjadi pembawa damai bagi Gereja serta masyarakat.
Salib IYD 2027 menjadi pengingat bahwa Orang Muda Katolik dipanggil untuk tetap tangguh dalam Kristus, bersatu dalam keberagaman, dan bersama-sama merajut damai.




