Diakon Selestinus Vion Momo Ditahbiskan Menjadi Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong di Senopi

233
Uskup menumpangkan tangan di atas kepala calon imam

SENOPI, KOMSOSKMS.ORG  – Sukacita besar menyelimuti umat Katolik di Tim Pastoral Wilayah (TPW) Tambrauw, khususnya umat Paroki Santo Yoseph Senopi, ketika Diakon Selestinus Vion Momo ditahbiskan menjadi Imam Diosesan Keuskupan Manokwari-Sorong, Senin (15/6/2026). Perayaan tahbisan dipimpin langsung oleh Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, didampingi Vikaris Jenderal (Vikjen), 34 imam, dan tiga diakon.

Mgr. Hilarion Datus Lega menerima calon imam baru di pintu gerbang Paroki St. Yoseph Ayawasi

Perayaan ini juga dihadiri sejumlah suster dari berbagai kongregasi yang berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong. Hadir pula Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, S.Sos., Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Tambrauw yang mewakili Bupati Tambrauw, serta sejumlah pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat.

Penerimaan Diakon Salestinus Vion Momo pada perayaan tahbisan Imam di Paroki Santo Yoseph Senopi (15/6/2026)

Diwarnai Prosesi Adat
Perayaan tahbisan berlangsung meriah dan sarat nuansa budaya lokal. Acara diawali dengan iringan tarian adat Wuon yang mengantar rombongan menuju gerbang Paroki Santo Yoseph Senopi. Di tempat tersebut dilaksanakan prosesi penyerahan calon imam dari pihak keluarga kepada Uskup Manokwari-Sorong.

Tarian Wuon mengantar calon imam menuju Gereja Paroki Santo Yoseph Senopi

Selanjutnya, perarakan menuju gereja diiringi tarian adat masyarakat setempat sebagai ungkapan syukur dan sukacita atas anugerah panggilan imam yang diterima salah satu putra terbaik wilayah Tambrauw.

Dalam homilinya, Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, mengawali refleksinya dengan mengenang perjumpaan pertamanya dengan Diakon Selestinus Vion Momo sekitar sebelas tahun lalu di Keuskupan.

“Sekitar sebelas tahun yang lalu, seorang anak muda datang kepada saya untuk melamar menjadi calon imam Keuskupan Manokwari-Sorong. Anak muda itu adalah Selestinus Vion Momo yang hari ini dengan sukacita akan saya tahbiskan menjadi imam,” kenang Uskup.

Mgr. Hilarion Datus Lega menyampaikan homili pada perayaan tahbisan Dkn. Selestinus Vion Momo di Senopi

Ia mengatakan bahwa tahbisan ini menjadi peristiwa yang sangat membanggakan karena dihadiri oleh begitu banyak umat, para imam, biarawan-biarawati, serta pemerintah dan keluarga besar imam baru. Bahkan, hampir setengah dari jumlah imam Keuskupan Manokwari-Sorong hadir dalam perayaan tersebut.

“Ini adalah rahmat besar bagi Gereja dan bagi masyarakat di tanah ini. Kita bersyukur karena Tuhan masih terus memanggil putra-putra terbaik Papua untuk menjadi pelayan-Nya,” ujar Uskup.

Panggilan Imam Berawal dari Kesediaan Mengikuti Tuhan
Bertolak dari Injil Markus tentang panggilan para murid pertama, Uskup Datus menegaskan bahwa inti panggilan seorang imam adalah kesediaan untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Tuhan.

Dkn. Selestinus Vion Momo didampingi oleh keluarga pada perayaan tahbisan imam

Ia kemudian menghubungkannya dengan kisah mukjizat penangkapan ikan dalam Injil Lukas 5:1-11. Dalam peristiwa itu, Petrus dan teman-temannya telah bekerja keras sepanjang malam tetapi tidak mendapatkan apa pun.

Namun ketika Yesus meminta mereka bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala, mereka memperoleh tangkapan yang sangat banyak.

“Bisa saja Petrus menolak karena ia seorang nelayan yang berpengalaman, sedangkan Yesus hanyalah seorang tukang kayu dari Nazaret. Tetapi Petrus memilih untuk taat. Karena ketaatan itulah, ia mengalami mukjizat Tuhan,” kata Uskup.

Dkn. Selestinus Vion Momo berteriak saat litani para Kudus dikumandangkan untuk memohon doa Para Kudus

Menurutnya, pengalaman Petrus menjadi pelajaran penting bagi setiap imam bahwa panggilan selalu dimulai dari keberanian untuk percaya dan mengikuti kehendak Tuhan.

Menjadi Penjala Manusia
Setelah mukjizat penangkapan ikan terjadi, Petrus bersujud di hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa.”

Namun justru kepada orang yang menyadari kelemahannya itulah Yesus mempercayakan tugas besar.

“Lalu Yesus berkata, ‘Mulai sekarang engkau akan menjadi penjala manusia.’ Inilah inti panggilan seorang imam. Tidak lagi menjala ikan, tetapi menjala manusia; menghadirkan keselamatan dan membawa manusia kepada Tuhan,” tegas Uskup.

Uskup mendoakan dan memohon berkat atas calon imam dalam doa litani Para Kudus

Secara khusus kepada Diakon Selestinus Vion Momo, Uskup Datus mengatakan bahwa sejak hari tahbisannya, ia dipanggil untuk menjadi penjala manusia.

“Vion, mulai hari ini engkau menjadi penjala manusia. Banyak orang akan datang kepadamu mencari penghiburan, kekuatan, dan harapan. Tugasmu adalah membawa mereka kepada Kristus,” pesannya.

Panggilan Imam Adalah Rahmat, Bukan Prestasi
Mgr. Datus menegaskan bahwa menjadi imam bukanlah hasil kemampuan atau jasa pribadi seseorang, melainkan semata-mata karena rahmat dan pilihan Allah.

“Tidak ada jasa-jasa dari Vion Momo sehingga ia menjadi imam. Tuhanlah yang melihat dan memanggilnya karena belas kasih dan rahmat-Nya. Ini penting supaya seorang imam tidak menjadi sombong,” ujarnya.

Dkn. Selestinus Vion Momo bersumpah setia untuk taat kepada Uskup dan para penggantinya

Ia mengingatkan bahwa seorang imam tidak boleh membanggakan gelar akademik, kemampuan intelektual, status sosial, ataupun latar belakang keluarganya.

“Tuhan yang harus dimuliakan dan dibesarkan, bukan diri kita sendiri. Seorang imam dipanggil untuk melayani, bukan untuk mencari penghormatan,” tegasnya.

 

Uskup dan para imam mendoakan doa tahbisan bagi calon imam, Dkn. Selestinus Vion Momo

Imam Tidak Hidup untuk Dirinya Sendiri
Dalam homilinya, Uskup juga menekankan bahwa hidup seorang imam tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri.

“Hidup seorang imam tidak lagi pada status sosial, tidak lagi pada kepintaran akademis, dan tidak lagi pada kebanggaan adat atau leluhur, melainkan berpusat kepada Allah yang menguasai langit dan bumi,” katanya.

Uskup menumpangkan tangan di atas kepala calon imam

Karena itu, ia mengingatkan umat agar tidak menempatkan imam sebagai sosok yang sempurna atau “dewa-dewa baru”.

“Imam tetap manusia biasa yang memiliki kelemahan dan keterbatasan. Namun justru dalam kelemahan itulah Tuhan berkarya dan menghadirkan rahmat-Nya,” ujarnya.

Kerendahan Hati Menjadi Ciri Seorang Imam
Menurut Uskup, kesadaran Petrus sebagai orang berdosa menjadi teladan bagi setiap imam.

“Seorang imam harus selalu sadar bahwa dirinya lemah dan membutuhkan Tuhan. Kerendahan hati membuat seorang imam tetap dekat dengan Allah dan dekat dengan umat yang dilayaninya,” katanya.

Pater Iventus Ivos Kocu menumpangkan tangan di atas kepala Dkn. Selestinus Vion Momo yang selama ini bersamanya

Ia menjelaskan bahwa kehidupan seorang imam memiliki dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan, yakni relasi dengan Tuhan dan relasi dengan sesama.

“Seorang imam harus selalu berlutut di hadapan Tuhan sebelum berdiri di hadapan umat. Dari doa lahir pelayanan, dan dari pelayanan lahir kesaksian iman,” ujarnya.

Imam Menjadi Jembatan antara Allah dan Manusia
Lebih lanjut, Uskup mengatakan bahwa hidup seorang imam pada hakikatnya adalah persembahan diri secara total bagi Tuhan dan sesama.

“Imam dipakai Tuhan menjadi jembatan antara yang insani dan yang ilahi, antara manusia dan Allah, antara kepentingan duniawi dan kemuliaan surgawi,” katanya.

Dkn. Selestinus Vion Momo menerima kasula dan stola, pakaian imamat, yang menandakan bahwa dirinya telah menjadi imam dalam Gereja Katolik

Karena itu, seorang imam dipanggil untuk mengabdikan hidupnya demi keselamatan sesama dan kemuliaan Allah.

“Tugas imam bukan untuk kemuliaan diri sendiri, tetapi demi kesejahteraan dan keselamatan umat serta demi kemuliaan Tuhan,” tegasnya.

Umat Diajak Mendukung Imam Baru
Di akhir homilinya, Bapak Uskup mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panggilan Pastor Selestinus Vion Momo yang dinilainya penuh ketekunan dan tanggung jawab.

Pastor Selestinus Vion Momo menerima peralatan Misa yang dipersembahkan keluarga agar hidupnya senantiasa dipenuhi dengan perayaan-perayaan Ekaristi.

“Saya mengenal Vion sejak masih di SMA hingga menyelesaikan studinya. Ia menyelesaikan pendidikan tepat pada waktunya, memiliki prestasi yang baik, dan menurut para formatornya adalah pribadi yang rapi, rajin, dan bertanggung jawab,” tuturnya.

Karena itu, Uskup mengajak seluruh umat untuk terus mendukung dan mendoakan imam baru agar tetap setia dalam panggilannya.

“Mudah-mudahan kehadiran kita semua hari ini menjadi dukungan dan kekuatan bagi perjalanan hidup dan tugas luhur serta suci dari Imam Baru, Pastor Selestinus Vion Momo. Semoga pelayanannya membawa berkat bagi Keuskupan Manokwari-Sorong, bagi kemanusiaan, dan semakin membesarkan nama serta kemuliaan Tuhan,” pungkasnya.

Pastor Selestinus Vion Momo menerima pengurapan minyak Krisma di tangan oleh Uskup Manokwari-Sorong

Harapan Pemerintah Papua Barat Daya
Dalam sambutannya, Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, S.Sos., menyampaikan ucapan selamat atas tahbisan Pastor Selestinus Vion Momo. Ia menyebut peristiwa ini sebagai kebanggaan bagi masyarakat Papua Barat Daya karena seorang putra asli Papua menerima tahbisan imam.

“Ini merupakan mimpi dari yang bersangkutan, keluarga, dan juga pemerintah bahwa seorang anak asli Papua ditahbiskan menjadi imam,” ungkapnya.

Gubernur Papua Barat Daya menyampaikan sambutan pada perayaan tahbisan Pastor Selestinus Vion Momo, Pr

Gubernur mengajak seluruh umat untuk terus mendoakan imam baru agar mampu menjalankan tugas perutusan sesuai motto yang dipilihnya, yakni: ‘Mari ikutlah Aku, kamu akan Kujadikan penjala manusia.’

Ia juga berharap tahbisan ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua untuk berani menanggapi panggilan Tuhan.

“Mudah-mudahan akan lahir Vion-Vion baru yang mempersembahkan diri menjadi imam dan pelayan Gereja,” katanya.

Mgr. Hilarion Datus Lega memberikan pelukan kepada imam baru sebagai tanda kolegialitas imamat di Keuskupan Manokwari-Sorong

Momentum Bersejarah bagi Umat Tambrauw
Ketua panitia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya tahbisan imam di Paroki Santo Yoseph Senopi. Menurutnya, peristiwa ini merupakan momentum penting bagi umat Katolik di TPW Tambrauw.

“Tahbisan ini menjadi momentum penting bagi kami, umat di TPW Tambrauw, secara khusus di Paroki Santo Yoseph Senopi,” ujarnya.

Ketua Panitia, Kelly Momo, menyampaikan laporan Panitia acara tahbisan dan misa perdana Pastor Selestinus Vion Momo

Ia juga menyampaikan rasa bangga karena salah satu putra terbaik suku Ireres, yakni Selestinus Vion Momo, dipanggil menjadi imam. Panitia turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur dan pihak yang telah membantu sehingga perayaan tahbisan dapat berlangsung dengan baik.

Imam Baru Bersyukur atas Panggilan Tuhan
Dalam sambutannya, Pastor Selestinus Vion Momo mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan karena Tuhan memberikan kekuatan kepadanya untuk menjawab panggilan sebagai pelayan-Nya.

Pastor Selestinus Vion Momo, Pr menyampaikan sambutan pada momen istimewa tahbisannya

Dengan mengusung motto, “Mari ikutlah Aku, kamu akan Kujadikan penjala manusia,” Pastor Vion mengenang perjalanan panggilannya yang tidak terlepas dari peran banyak orang yang mendampingi dan mendukungnya sejak masa pendidikan hingga tahbisan.

Ia mengucapkan terima kasih kepada keluarga, para formator, imam, biarawan-biarawati, serta seluruh umat yang telah menjadi bagian dari perjalanan panggilannya.

 

Pastor Selestinus Vion Momo merayakan Ekaristi pertama kali sebagai konselebran sesudah ditahbiskan.

Pesan Keluarga dan Pemerintah Daerah
Mewakili keluarga, Gabriel Assem mengungkapkan rasa syukur penuh haru atas tahbisan Pastor Vion Momo. Ia berpesan agar imam baru senantiasa melayani dengan rendah hati dan tidak membeda-bedakan umat.

“Jadilah imam yang melayani dengan rendah hati, tidak pilih kasih, dan siap melayani secara total,” pesannya.

Gabriel Assem, mewakili keluarga besar Pastor Selestinus Vion Momo memberikan sambutan dan pesan-pesan bagi imam baru

Sementara itu, Bupati Tambrauw melalui Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah menyampaikan dukungan penuh terhadap tahbisan imam baru tersebut.

Pemerintah Kabupaten Tambrauw berharap Pastor Vion menjadi sumber kekuatan dan kedamaian bagi masyarakat, sekaligus menjadi pembawa damai dan penjaga persaudaraan di tengah keberagaman.

Plt. Sekda Kabupaten Tambrauw, menyampaikan sambutan mewakili Bupati Kabupaten Tambrauw

Kesetiaan kepada Gereja
Mewakili Uskup, Vikjen Keuskupan Manokwari-Sorong, Pastor Izak Bame, mengungkapkan rasa syukur atas momentum bersejarah bagi umat di wilayah Senopi.

Ia mengingatkan imam baru agar selalu menjaga kesetiaan dan ketaatan kepada Uskup dan Gereja.

“Sebagai curahan hati pertama seorang imam adalah Uskup, bukan keluarga. Keluarga telah menyerahkanmu kepada Gereja; maka hidup dan mati seorang imam ada dalam tangan Gereja,” tegas Pastor Izak.

Foto bersama para imam yang hadir bersama dengan Pastor Selestinus Vion Momo, imam baru

Ia juga mengajak umat untuk terus mendorong lahirnya panggilan-panggilan baru, mengingat jumlah imam dan biarawati asal wilayah tersebut masih sangat terbatas.

Bertepatan dengan HUT Imamat Uskup ke-42
Perayaan tahbisan kali ini semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan 42 tahun tahbisan imamat Mgr. Hilarion Datus Lega.

Dalam acara resepsi, umat bersama para imam dan tamu undangan merayakan syukur atas perjalanan imamat sang Uskup yang ditandai dengan pemotongan kue ulang tahun.

Imam baru berfoto bersama dengan Uskup, para imam, Gubernur Papua Barat Daya dan para tamu undangan

Perayaan ini menjadi ungkapan syukur atas kesetiaan Uskup Datus dalam menggembalakan umat Keuskupan Manokwari-Sorong sekaligus doa agar beliau senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan pelayanan.

Tahbisan Pastor Selestinus Vion Momo tidak hanya menjadi sukacita bagi keluarga menjadi tanda harapan baru bagi Gereja Katolik di Tanah Papua, khususnya Keuskupan Manokwari-Sorong, agar semakin banyak generasi muda Papua yang berani menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya.

P. Fransiskus Katino, Pr – Ketua Komsos KMS