Renungan Harian: Jangan Sekadar Kagum, Tapi Bertobatlah

159

Renungan Harian
Selasa, 15 Juli 2025
Peringatan Wajib Santo Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil: Matius 11:20-24

“Jangan Sekadar Kagum, Tapi Bertobatlah!”

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus tidak lagi berbicara dengan lemah lembut atau menasihati dengan bijaksana. Kali ini Ia mengecam dengan keras kota-kota yang sangat dekat dengan-Nya: Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Mengapa? Karena meski mereka menyaksikan langsung berbagai mukjizat dan pengajaran Yesus, mereka tetap tidak bertobat. Mereka mungkin kagum, takjub, bahkan bangga karena menjadi saksi kehadiran Sang Mesias. Tapi semua itu tidak mengubah hidup mereka. Hati mereka tetap keras. Sikap iman mereka tidak berbuah.

Yesus mengingatkan bahwa Tirus, Sidon, bahkan Sodom yang terkenal dengan dosanya akan lebih ringan tanggungannya daripada kota-kota yang keras hati itu. Ini bukan sekadar kecaman biasa. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang sudah dekat dengan Allah, sering mengalami kehadiran-Nya dalam hidup, namun tetap tidak bertobat.

Sikap yang Diinginkan Tuhan adalah Tobat.
Tobat bukan sekadar rasa sesal sesaat, tetapi kerelaan untuk memperbaharui hidup dan semakin percaya kepada Allah. Kita semua sering menerima begitu banyak “mukjizat” dalam hidup: kesehatan, keluarga, pekerjaan, pengampunan, bahkan kesempatan kedua. Tapi apakah semua itu mengubah hati kita? Apakah kita hanya kagum dan bersyukur, atau benar-benar bertobat dan memperbaharui hidup?

Perayaan liturgi yang meriah, pesta iman yang agung, paduan suara yang indah, dan dekorasi yang megah tidak akan bernilai di mata Tuhan kalau itu semua tidak membawa kita pada pertobatan. Jangan sampai seperti warga Kapernaum—begitu dekat secara lahiriah dengan Yesus, tetapi jauh di dalam hati. Mereka terlibat dalam keramaian dan kegembiraan, tapi tidak mengalami pembaharuan hidup.

Santo Bonaventura, yang kita peringati hari ini, adalah contoh pribadi yang hidup dalam pertobatan dan pembaharuan iman. Ia bukan hanya seorang pemikir besar Gereja, tetapi juga seorang pribadi yang membiarkan kasih Allah mengubah hidupnya sepenuhnya. Ia menyatukan ilmu, iman, dan kasih secara utuh. Ia tidak puas hanya mengetahui tentang Allah, tapi sungguh hidup dalam Allah.

Mari membangun semangat tobat yang sejati. Dalam Tuhan tidak ada kata terlambat. Tobat adalah proses seumur hidup. Setiap hari adalah kesempatan untuk berubah. Tuhan selalu memberi tanda-tanda ajaib dalam hidup kita—melalui orang-orang terdekat, pengalaman hidup, bahkan penderitaan—agar kita kembali kepada-Nya.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!