Uskup Datus pada Pra-IYD 2026: Jangan Biarkan Media Komunikasi Menguasai Diri Kita

63
Mgr. Hilarion Datus Lega memberikan homili para perayaan pembukaan Pra IYD 2027 di Katedral Sorong

SORONG, KOMSOSKMS.ORG — Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, memimpin perayaan Misa Kudus Pembukaan Pra-Indonesia Youth Day (IYD) Selasa, (20/10/2026), di Gereja Katedral, Kristus Raja, Sorong. Dalam khotbahnya, Uskup Datus mengawali renungan dengan menggarisbawahi seruan tegas dari Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Maksimus Regus. Seruan tersebut mengajak seluruh kaum muda Katolik untuk bangkit dan mengambil peran aktif di tengah perubahan zaman.

Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, memimpin perayaan Misa Kudus Pembukaan Pra-Indonesia Youth Day (IYD) Selasa, (20/10/2026), di Gereja Katedral, Kristus Raja, Sorong

Lebih lanjut, Uskup Datus menekankan pentingnya Orang Muda Katolik (OMK) untuk terus belajar dan beradaptasi secara bijak menghadapi pesatnya perkembangan dunia saat ini. Ia mengingatkan bahwa dinamika zaman modern menuntut kematangan berpikir dan ketangguhan mental agar kaum muda tidak tergerus oleh arus kemajuan yang begitu cepat.
​
Secara khusus, Bapa Uskup menyoroti pesatnya perkembangan dunia komunikasi dewasa ini. Menurutnya, kaum muda wajib memahami prinsip-prinsip ilmu komunikasi secara sehat agar dapat memanfaatkannya untuk hal-hal yang membangun. OMK diharapkan mampu menempatkan diri sebagai pengguna yang cerdas dan kritis dalam memanfaatkan setiap media informasi yang ada.

Mgr. Hilarion Datus Lega memberikan homili para perayaan pembukaan Pra IYD 2027 di Katedral Sorong

Uskup Datus memberikan pesan menohok agar kaum muda menjadi tuan atas sarana komunikasi dan tidak merendahkan diri menjadi “hamba” dari media. Ia memeringatkan bahaya sikap terisolasi, tertutup, dan pasif akibat salah penggunaan alat komunikasi. “Jangan biarkan media komunikasi menguasai diri kita, melainkan kitalah yang harus memegang kendali penuh atas teknologi komunikasi tersebut,” tegasnya.
​
Mengutip pendekatan ilmu komunikasi modern, Bapa Uskup mengajak kaum muda untuk bertindak bijak dan bertanggung jawab saat beraktivitas di ruang digital seperti Instagram. Kaum muda diimbau tidak menjadikan media sosial sekadar alat pelampiasan yang justru menjerumuskan diri. Ia juga mengingatkan bahwa kebenaran di ruang digital tidak pernah bersifat absolut, sebab kebenaran sejati hanya ada di tangan Tuhan.
​
Selain pemanfaatan teknologi, Uskup Datus menyinggung pentingnya nilai kekompakan dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja. “Perjalanan hidup kaum muda harus didasari oleh kesadaran penuh bahwa manusia diciptakan untuk saling bersanding dan mendukung. Sebagaimana diajarkan dalam Kitab Suci, OMK diingatkan untuk senantiasa menjadi “hamba yang baik dan setia” dalam menjalankan setiap tugas kehidupan,” tuturnya.

​

Uskup Datus menekankan pentingnya Orang Muda Katolik (OMK) untuk terus belajar dan beradaptasi secara bijak menghadapi pesatnya perkembangan dunia saat ini.

Panggilan hidup kristiani, lanjut Uskup, adalah panggilan untuk saling membantu dan memperkaya satu sama lain. Kaum muda Katolik dituntut memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Gereja, mulai dari lingkungan terkecil hingga tingkat Komunitas Umat Basis (KUB). OMK dipercaya memiliki potensi besar untuk hadir, berbuat nyata, dan menjadi saksi kasih di tengah masyarakat.
​
Untuk meraih keberhasilan dan buah spiritual yang melimpah, Uskup menegaskan bahwa proses pertumbuhan tersebut harus dimulai dari sekarang melalui tahapan persiapan yang matang. Dalam merajut masa depan, kaum muda diajak untuk menghidupi tiga “cita rasa” utama, yaitu cita rasa keberimanan yang mendalam, cita rasa kebanggaan sebagai murid Kristus, serta cita rasa kesukacitaan dalam melayani.
​

Uskup Datus memberikan pesan menohok agar kaum muda menjadi tuan atas sarana komunikasi dan tidak merendahkan diri menjadi “hamba” dari media.

Uskup Manokwari-Sorong menutup pesannya dengan mendorong OMK agar senantiasa menjaga suasana sukacita dan berani melangkah bersama. “Melalui semangat saling melengkapi dan menyempurnakan, segala harapan serta cita-cita Gereja di masa depan dapat disiapkan dengan kokoh dan terarah,” kata Uskup Datus.

​Sebagai penutup khotbah, Uskup Datus mengingatkan kembali fondasi paling mendasar dalam kehidupan umat beriman. Nilai utama dan yang pertama dalam hidup adalah Firman Tuhan itu sendiri. Sebab, Firman Tuhan bukanlah sekadar kata-kata tertulis, melainkan sesuatu yang hidup dan senantiasa menghidupkan setiap jiwa yang percaya.*