Renungan Harian: Tuhan Menantikan Buah yang Baik

6

Renungan Harian, Minggu, 04 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XXVII
Bacaan I: Yes 5:1-7
Bacaan II: Flp 4:6-9
Bacaan Injil: Mat 21:33-43

Allah digambarkan sebagai pemilik kebun anggur yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia memilih tanah yang baik, membersihkannya, menanam pokok anggur pilihan, bahkan mendirikan menara jaga dan tempat pemerasan anggur. Semuanya dilakukan agar kebun itu menghasilkan buah yang baik. Namun, ketika tiba waktunya, yang dihasilkan justru buah anggur yang asam.

Gambaran ini bukan sekadar kisah tentang sebuah kebun anggur. Kebun itu adalah gambaran hidup kita. Tuhan telah memberikan begitu banyak hal: kehidupan, keluarga, talenta, kesempatan, pekerjaan, pelayanan, dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Semua itu adalah bentuk kasih dan kepercayaan Tuhan. Namun, Tuhan tentu mengharapkan agar semua yang dipercayakan itu menghasilkan buah.

Hal yang sama ditegaskan Yesus dalam Injil. Para penggarap kebun anggur bukan pemilik. Mereka hanya dipercaya untuk mengelolanya. Masalahnya, mereka lupa bahwa kebun itu milik tuannya. Mereka menjadi serakah dan ingin menguasai apa yang sebenarnya hanya dipercayakan kepada mereka.

Di sinilah Sabda Tuhan sangat relevan dengan kehidupan kita. Ketika kepercayaan berubah menjadi keserakahan, pelayanan berubah menjadi kepentingan diri, dan tanggung jawab berubah menjadi keinginan untuk menguasai, kita mulai lupa bahwa hidup ini adalah milik Tuhan.

Kadang kita pun dapat menjadi seperti para penggarap kebun anggur. Kita menerima kepercayaan, tetapi menggunakannya hanya untuk kepentingan sendiri. Kita menerima keluarga, tetapi kurang menghargainya. Kita menerima pekerjaan, tetapi tidak menjalankannya dengan jujur. Kita menerima tugas pelayanan, tetapi mencari penghargaan. Kita menerima teknologi dan media sosial, tetapi menggunakannya untuk menyebarkan kemarahan, pertengkaran, atau hal-hal yang tidak membangun.

Santo Paulus dalam bacaan kedua memberikan arah yang sangat jelas. Kita diajak memikirkan dan menghidupi segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, baik, dan patut dipuji. Inilah buah yang Tuhan harapkan dari kehidupan kita.

Dengan demikian, iman tidak berhenti pada doa dan kata-kata. Iman harus menghasilkan buah dalam tindakan nyata. Doa menghasilkan kesabaran. Syukur menghasilkan kepedulian. Pengampunan menghasilkan perdamaian. Iman menghasilkan pelayanan. Kasih kepada Tuhan menghasilkan kasih kepada sesama.

Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah akan diberikan kepada mereka yang “menghasilkan buah Kerajaan itu.” Artinya, Tuhan mempercayakan kehidupan dan karya-Nya kepada kita agar melalui diri kita Kerajaan Allah semakin nyata: dalam keluarga yang penuh kasih, dalam pelayanan yang tulus, dalam pekerjaan yang jujur, dalam masyarakat yang peduli, dan dalam Gereja yang hadir bagi mereka yang membutuhkan.

Maka, marilah kita kembali melihat “kebun” kehidupan kita masing-masing. Jangan sampai Tuhan telah begitu banyak menanam kebaikan dalam diri kita, tetapi yang tumbuh justru kesombongan, egoisme, kebencian, dan ketidakpedulian.

Tuhan telah menanam. Tuhan telah merawat. Tuhan telah mempercayakan. Kini Tuhan menantikan buahnya.

Semoga hidup kita sungguh menjadi kebun anggur Tuhan yang menghasilkan buah kasih, kebenaran, keadilan, pengampunan, dan pelayanan. Dengan demikian, melalui kehidupan kita, orang lain dapat merasakan kebaikan dan kasih Allah.

Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati. Ave Maria!