MANOKWARI, KOMSOSKMS.ORG. — Sukacita dan semangat iman menyelimuti Gereja Stasi Santa Bunda Maria Sowi, Manokwari, saat Yang Mulia Bapak Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr, memimpin Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma, dan didampingi oleh konselebran Pastor Paroki Imanuel Sanggeng, RP. Philipus Sedik, OSA, Pastor Paroki Ko-Katedral Santo Agustinus Manokwari, RD. Januarius Vaenbes, Pr, dan Pastor Pra Paroki Salvator Maripi, RD. Esebidius Kambia, Pr, di Gereja Stasi Santa Bunda Maria Sowi Manokwari pada Rabu, 30 September 2026. Perayaan ini menjadi momentum penting bagi 77 (tujuh puluh tujuh) orang krismawan dan krismawati yang berasal dari Paroki Imanuel Sanggeng dan Stasi Santa Bunda Maria Sowi Manokwari untuk semakin diteguhkan dalam iman serta siap mengambil bagian dalam perutusan Gereja.

Sejak sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, suasana di lingkungan Stasi Santa Bunda Maria Sowi tampak penuh sukacita. Para krismawan dan krismawati bersama keluarga, umat, serta para pelayan pastoral mempersiapkan diri untuk mengikuti salah satu momen penting dalam perjalanan iman mereka.
Perayaan Ekaristi penerimaan Sakramen Krisma diawali dengan prosesi perarakan, dimana krismawan dan krismawati beserta wali krisma, putera altar, para Imam dan Bapak Uskup berkumpul di halaman gereja, kemudian berarak bersama menuju ke gereja.
Kehadiran Bapak Uskup menjadi sukacita tersendiri bagi umat Stasi Santa Bunda Maria Sowi. Perayaan tersebut bukan sekadar seremoni penerimaan sakramen, tetapi menjadi perjumpaan iman yang mempererat hubungan antara umat dengan gembalanya sekaligus meneguhkan kehidupan menggereja di tingkat stasi.
Diteguhkan oleh Roh Kudus
Sakramen Krisma merupakan salah satu sakramen inisiasi sebagai tanda penguatan dan peneguhan iman, serta menyempurnakan rahmat Baptis. Melalui pengurapan dengan minyak Krisma dan doa Gereja, para krismawan dan krismawati diharapkan semakin terbuka terhadap karya Roh Kudus, serta semakin dewasa dalam iman dan mampu memberikan kesaksian tentang Kristus di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Dalam homilinya, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa dalam tradisi gereja katolik, dilangsungkan upacara penerimaan pengurapan minyak atas dahi sebagai penguatan.
“Dalam tradisi gereja katolik, dilangsungkan upacara penerimaan pengurapan minyak atas dahi kita sebagai penguatan. Ini diambil dari tradisi kisah para rasul yang menceriterakan kedatangan pertama Roh Kudus pada Hari Pentakosta”, ujar Mgr. Hilarion Datus Lega.
“Roh Kudus turun dalam bentuk lidah-lidah api dan burung merpati. Simbol-simbol itu dengan jelas dan tegas mengingatkan kesadaran kita mengenai kekuatan karena Tuhan hadir. Lambang merpati dan lidah-lidah api itu harus dipahami sebagai sebagian kecil dari keseluruhan karya Tuhan yang hadir dalam sakramen penguatan, karena kapan dan dimanapun sakramen selalu dinamakan sebagai tanda keselamatan”, lanjut Mgr. Hilarion Datus Lega.
Mengakhiri homilinya, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa hidup orang beriman setelah dikuatkan bukan untuk menyimpan atau menyembunyikan kekuatan itu sebagai harta milik sendiri, tetapi harus dibagikan dan dibuktikan dalam perilaku.
“Hidup orang beriman setelah dikuatkan oleh sakramen itu bukan untuk disimpan atau disembunyikan kekuatan itu sebagai harta milik sendiri, tetapi harus dibagikan dan dibuktikan dalam perilaku. Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan. Semoga dengan menerima sakramen krisma, kita dimampukan untuk melihat gelombang-gelombang kebaikan yang disampaikan oleh Tuhan dan melalui perantara kita untuk disebarluaskan, sehingga hidup orang-orang beriman dicirikan dengan melaksanakan gelombang kebaikan demi kebaikan yang disampaikan langsung oleh Tuhan. Mari kita beri kesaksian sebagai bagian dari ucapan syukur atas hidup yang baik, dan meninggalkan jejak-jejak yang baik bagi citarasa keimanan kita dan perilaku hidup kita”, tegas Mgr. Hilarion Datus Lega.

Pesan tersebut menjadi ajakan bagi para krismawan dan krismawati untuk menyadari bahwa hidup orang beriman itu harus dibutikan dalam tindakan dan perilaku nyata sebagai wujud kasih Kristus, dan diwujudkan dengan melaksanakan kebaikan demi kebaikan dalam kehidupan nyata, diantaranya adalah kasih, pelayanan, persaudaraan, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama.
Bukan Sekadar Menerima, tetapi Siap Diutus
Penerimaan Sakramen Krisma membawa konsekuensi bagi setiap penerimanya. Setelah diteguhkan oleh Roh Kudus, para krismawan dan krismawati dipanggil untuk tidak hanya menjadi penerima pelayanan Gereja, tetapi juga menjadi pribadi yang bersedia mengambil bagian dalam kehidupan dan pelayanan Gereja.
Semangat tersebut menjadi semakin penting terutama bagi kaum muda. Di tengah perubahan zaman dan berbagai tantangan kehidupan, generasi muda Katolik diharapkan mampu menjadi pembawa nilai-nilai Injil di tengah keluarga, lingkungan, sekolah, tempat kerja, masyarakat, dan komunitas Gereja.

Karena itu, Sakramen Krisma dapat menjadi titik tolak bagi para penerimanya untuk semakin aktif dalam kehidupan menggereja serta berani menunjukkan identitas Kristiani melalui sikap dan tindakan nyata.
Sukacita Keluarga dan Seluruh Umat
Bagi keluarga para krismawan dan krismawati, perayaan ini menjadi momen penuh syukur. Mereka menyaksikan anak-anak dan anggota keluarga mereka menerima peneguhan iman sekaligus memasuki tahap baru dalam kehidupan sebagai umat Katolik.
Sementara bagi umat Stasi Santa Bunda Maria Sowi, kehadiran Bapak Uskup dan pelaksanaan Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma menjadi momentum untuk semakin mempererat persaudaraan dan membangun kehidupan iman komunitas.
Kebersamaan umat dalam perayaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan iman seseorang tidak pernah berjalan sendirian. Keluarga, lingkungan, stasi, dan seluruh komunitas Gereja memiliki peran penting dalam mendampingi setiap umat agar terus bertumbuh dalam iman.
Menjadi Terang di Tengah Dunia
Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma di Stasi Santa Bunda Maria Sowi akhirnya bukan hanya meninggalkan kenangan tentang sebuah perayaan liturgis. Lebih dari itu, perayaan tersebut menjadi sebuah panggilan untuk melanjutkan perjalanan iman setelah keluar dari gedung gereja.
Para krismawan dan krismawati kini siap diutus untuk membawa apa yang mereka terima dalam perayaan tersebut ke tengah kehidupan sehari-hari. Roh Kudus yang mereka terima diharapkan menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi tantangan, menjaga iman, mengasihi sesama, dan berani berdiri sebagai saksi Kristus.
Bagi Stasi Santa Bunda Maria Sowi, perayaan ini menjadi sebuah babak baru dalam perjalanan kehidupan menggereja. Sukacita penerimaan Sakramen Krisma diharapkan terus berlanjut dalam kehidupan umat melalui semakin kuatnya persaudaraan, pelayanan, dan keterlibatan dalam karya Gereja.
Sebab, menerima Krisma bukanlah sekadar menerima sebuah sakramen, tetapi menerima panggilan untuk hidup dalam Roh, bertumbuh dalam iman, dan diutus untuk menjadi terang bagi sesama.
Semoga Roh Kudus senantiasa menyertai langkah para krismawan dan krismawati, meneguhkan mereka ketika menghadapi tantangan, menguatkan mereka ketika lemah, dan menyalakan keberanian untuk terus menjadi saksi Kristus di mana pun mereka berada.
Dari Stasi Santa Bunda Maria Sowi, perjalanan iman itu diteguhkan; dari sini pula para penerima Sakramen Krisma siap menerima panggilan untuk hidup dalam Roh,bertumbuh dalam iman, dan diutus untuk membawa terang Kristus ke tengah dunia.
Kontributor Berita :KOMSOS Stasi Santa Bunda Maria Sowi.





