Renold Aleksander Laike*
(Dosen STPK Santo Benediktus Sorong)
Tulisan ini merupakan bahan renungan yang dibawakan pada saat Misa Pelantikan Pengurus WKRI DPC Santo Wilhelmus Sausapor.
Molly Cobb: Wanita pertama di luar angkasa
Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah serial TV Barat, yang berjudul For All Mankind (2019). Serial tersebut merupakan sebuah karya fiktif ilmiah, yang menceritakan eksplorasi NASA (National Aeronautics and Space Administration) ke luar angkasa; bersaing dengan Uni Soviet, bukanlah sebuah dokumenter sejarah. Serial tersebut berlatarkan tahun 1970-an di Amerika Serikat. Pada episode 3, atas dasar persaingan dengan Uni Soviet, NASA, oleh komando Presiden Nixon, melatih beberapa wanita menjadi astronot. Kriteria yang diinginkan oleh Presiden adalah seorang wanita berparas elok, yang kebetulan memiliki suami seorang astronot. Akan tetapi, sosok yang terpilih sebagai wanita pertama AS di luar angkasa adalah seseorang bernama Molly Cobb. Ia adalah seorang wanita, yang sulit diatur, kurang goodlooking, pemadat Marijuana, dan berperilaku agak kasar. Hal tersebut berarti ia berada sangat jauh dari kriteria Presiden. Molly Cobb terpilih karena ketrampilannya yang sangat mumpuni sebagai seorang astronot. Ia menunjukkan kualitasnya yang mampu bersaing dengan astronot pria dalam eksplorasi luar angkasa. Ia menjadi panutan yang menginspirasi banyak wanita dalam serial tersebut; seharusnya juga para penontonnya.

Gerakan perempuan modern mulai bertumbuh dalam masyarakat yang sekian lama membatasi akses mereka terhadap pendidikan, kepemilikan, kehidupan sosial, dan politik. Sejak abad ke-19, gerakan tersebut memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di Eropa, kemudian berkembang pesat ke seluruh dunia. Tokoh Molly Cobb merupakan simbol yang mengungkapkan perjuangan hak-hak tersebut. Dirinya menceritakan kembali situasi zaman di tahun 1970-an, yang mana para perempuan masih dianggap sepele untuk terlibat pada bidang-bidang sebagaimana laki-laki pada umumnya.
Wanita dalam Kitab Suci Perjanjian Lama
Dalam sejarah keselamatan, para wanita juga menjadi protagonis yang dipakai Allah untuk memelihara iman Israel, menyelamatkan umat-Nya, dan mempersiapkan kedatangan Mesias. Pada zaman Yesus, ada beberapa wanita yang terlibat dalam perjalanan-Nya dan para rasul, bahkan menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan-Nya. Kitab Suci memang lahir dalam kebudayaan Yudaisme, yang bersifat patriakhis. Kendati demikian, Buku berisi sabda-sabda Allah tersebut menunjukkan bahwa Allah juga menaruh belas kasihan-Nya kepada umat-Nya, melalui tokoh-tokoh wanita tersebut.

Dalam kisah Penciptaan, Allah menciptakan wanita sebagai sosok yang sepadan, yang menemani pria, kemudian ia diberi nama Hawa (Bdk. Kej. 1-2). Dari situlah, Hawa menjadi pertama yang mengangkat martabat wanita setara dengan pria. Dalam kisah Kejatuhan Manusia (Bdk. Kej. 3), para pembaca seringkali terkecoh karena berfokus pada jatuhnya wanita ke dalam rayuan ular. Padahal, Hawa diberi janji bahwa keturunannya akan mengalahkan kuasa jahat (Bdk. Kej. 3:15). Dengan demikian, sejarah keselamatan dimulai dengan harapan melalui perempuan.
Sara, istri Abraham, dalam usia lanjut, melahirkan Ishak. Hal tersebut mengungkapkan bahwa melalui dirinya, Allah menunjukkan kesetiaan pada perjanjian-Nya (Bdk. Kej. 18:1-15; 21:1-7). Ribka, istri Ishak, dan Rahel, istri Yakub, menjadi bagian penting dalam kesinambungan keluarga perjanjian dan bangsa Israel (Bdk. Kej. 24-30). Pada masa bangsa Israel masih berbentuk konfederasi suku, mereka pernah dipimpin oleh seorang hakim wanita, yaitu Debora (Bdk. Hak. 4-5). Selanjutnya, ada Hana, yaitu ibu nabi Samuel. Hana dipilih sebagai ibu Samuel untuk memperlihatkan kesetiaan Allah pada janji-Nya (Bdk. 1Sam. 1-2). Allah pernah memilih seorang wanita untuk mengalahkan musuh-musuh Israel, yaitu Yudit (Bdk. Ydt. 8-16). Kisah tersebut menggambarkan keberanian Yudit sebagai buah iman dan menegaskan bahwa kemenangan berasal dari Allah.
Wanita-wanita dalam Silsilah Yesus menurut Matius 1:1-17
Dalam silsilah Yesus, Injil Matius menyebutkan lima wanita, yaitu Tamar, Rahab, Rut, Batsyeba, dan Maria. Kecuali Maria, keempat wanita tersebut cukup kontroversial. Dua orang merupakan wanita-wanita asing dan dua orang lainnya memiliki kisah yang berkaitan dengan situasi sulit.
Dua di antaranya, yaitu Rahab dan Rut, merupakan wanita-wanita asing, yang justru merupakan nenek moyang mesias. Rahab merupakan wanita dari Yerikho yang menolong para pengintai Israel, yang kemudian menjadi ibu Boas (Bdk. Yos. 2:1-24; 6:22-25). Rut adalah seorang wanita Moab, yang memilih setia kepada Allah Israel dan Naomi mertuanya, kemudian menikah dengan Boas dan melahirkan Obed, kakek dari Raja Daud (Lih. Kitab Rut). Kedua tokoh tersebut menunjukkan universalitas keselamatan, yakni keselamatan berlaku kepada siapa saja. Lebih dari itu, keselamatan berasal dari rahmat Allah, bukan dari kemurnian garis keturunan manusia.

Dua orang selanjutnya, yaitu Tamar dan Batsyeba, memiliki kisah yang agaknya bisa disebut skandal. Tamar adalah menantu Yehuda (Bdk. Kej. 38:6-30). Ia pernah menjalani dua pernikahan dengan anak-anak Yehuda. Kedua suaminya meninggal tanpa adanya keturunan. Yehuda berjanji akan memberikan anak bungsunya ketika sudah dewasa, namun janji tersebut tidak pernah dipenuhi. Di sinilah Tamar mengalami ketidakadilan dari Yehuda. Pada akhirnya, ia mengambil haknya dengan menyamar sebagai seorang pelacur lalu mendekati Yehuda. Tindakan tersebut memang tidak boleh dibaca sebagai pembenaran umum terhadap penipuan atau prostitusi, apalagi perendahan martabat wanita. Fokus utama cerita tersebut adalah ketidakadilan Yehuda terhadap Tamar, bukan sekadar pelanggaran moral seksual.
Kisah Batsyeba berisi tentang penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Daud (Bdk. 2Sam. 11-12). Daud menggunakan kekuasaannya sebagai raja untuk menutupi kesalahannya. Ia mengatur agar Uria, suami Batsyeba, ditempatkan di garis depan pertempuran hingga tewas di medan perang. Kendati demikian, ia menjadi ibu dari Salomo, yang melanjutkan garis keturunan kerajaan Daud.
Dari kisah keempat tokoh wanita yang disebutkan dalam silsilah Yesus menurut Injil Matius, diungkapkan bahwa Kristus datang untuk menyelamatkan semua orang, baik Yahudi maupun bangsa-bangsa lain, baik orang benar maupun pendosa. Pada intinya, Allah dapat berkarya melalui sejarah manusia yang tidak sempurna ini. Orang yang diperlakukan tidak adil dapat menjadi bagian penting dalam rencana keselamatan. Allah tidak bersikap netral, tetapi berpihak pada kaum tertindas, dan menyingkap kesalahan orang-orang yang berkuasa. Allah masuk dalam sejarah manusia yang terluka untuk menyembuhkannya melalui diri Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat kita.
Saksi-saksi Pertama Kebangkitan Yesus Kristus
Dalam Audiensi Umum, 3 April 2013, mendiang Paus Fransiskus menyebutkan bahwa para wanita adalah saksi-saksi pertama kebangkitan Yesus Kristus. Mereka datang ke makam pada pagi hari untuk menyelesaikan pengurapan jenazah Yesus, tetapi menemukan makam kosong dan menerima berita: “Ia telah bangkit” (Bdk. Mat. 28:1-10; Mrk. 16:1-8; Luk. 24:1-12; Yoh. 20:1-10). Keempat Injil menyebutkan beberapa nama, yaitu Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus, Salome, Yohana, Maria Ibu Yesus, dan wanita-wanita lain yang mengikuti Yesus.

Kalau diperhatikan dengan saksama, kisah Kebangkitan menurut Injil Matius justru menekankan peran penting para wanita yang menjadi saksi-saksi pertama. Peran para Rasul justru pasif, yang hanya disebutkan di dalam dialog. Tidak dikisahkan para rasul mendatangi kubur dan melihat bukti kebangkitan Kristus. Salah satunya adalah Maria Magdalena, yang memiliki peranan khusus. Ia merupakan orang pertama yang menerima warta kebangkitan Kristus, sekaligus berjumpa langsung dengan Kristus yang bangkit. Selanjutnya, ia diutus untuk memberitakan kebangkitan Kristus kepada para rasul. Ia pun disebut sebagai ‘rasul bagi para rasul’ atau apostola apostolorum (Bdk. Mulieris Dignitatem, art. 16).
Hal tersebut dapat dipandang sebagai tanda bahwa Allah mempercayakan pewartaan kabar keselamatan kepada perempuan dan laki-laki. Peran para wanita sebagai saksi-saksi pertama juga sangat bermakna. Menurut budaya dan kebiasaan masyarakat zaman itu, kesaksian perempuan seringkali dianggap tidak memiliki bobot yang sama dengan laki-laki. Berbeda dengan itu, Injil justru menampilkan mereka sebagai saksi-saksi pertama untuk mendukung kesungguhan historis kesaksian Injil tentang kebangkitan.
Penutup: Maria Puncak Peran Wanita dalam Sejarah Keselamatan
Satu-satunya wanita yang memiliki peran penting dan besar dalam puncak sejarah keselamatan adalah Bunda Maria. Dalam diri Maria, seluruh penantian Israel mencapai kepenuhan. Ia adalah sosok wanita yang istimewa; menjadi panutan setiap umat beriman. Sejak awal, Maria telah dipersiapkan untuk menjadi Bunda Penebus dengan dikandung tanpa noda dosa.
Peristiwa penting adalah saat ia menerima kabar gembira dari Malaikat Tuhan (Bdk. Luk. 1:26-38). Yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel memang merupakan kabar sukacita besar bagi dunia, yaitu kedatangan Mesias (Bdk. Luk. 1:30-33). Akan tetapi, dalam kacamata manusiawi, warta fenomenal tersebut dapat menjadi skandal kontroversial yang tentu saja membingungkan Maria, sehingga berkata: “bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Bdk. Luk. 1:34). Hal tersebut berkaitan juga dengan dirinya seorang gadis yang berhadapan tata hukum dan budaya yang tegas. Akan tetapi, atas dasar iman, ia dengan gagah dan berani berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Bdk. Luk. 1:38). Keputusan tersebut menjadi peran dan kerja sama penting manusiawi dalam kedatangan Sang Juruselamat.
Bunda Maria juga berperan dalam keseluruhan Kisah Yesus. Mukjizat pertama terjadi pada peristiwa Pesta Pernikahan di Kana, tidak lepas dari peran penting Bunda Maria (Bdk. Yoh. 2:1-11). Kisah tersebut menunjukkan iman dan keyakinan mendalamnya kepada Yesus Kristus, Putra-Nya, meskipun pada kenyataannya terjadi sejumlah pergolakan di dalam hatinya. Bisa dibilang bahwa Maria merupakan sosok wanita yang tangguh, terutama karena menggantungkan seluruhnya dalam penyelenggaraan ilahi.
Dengan setia, Bunda Maria menelusuri Via Dolorossa, Jalan Salib, menemani Sang Putra, yang menderita sengsara hingga wafat di kayu Salib. Kesetiaan tersebut ditunjukkannya hingga berada di bawah salib sambil memandang Kristus (Bdk. Yoh. 19:25). Dalam kisah tersebut, terjadilah momen ikonik, yang mana Bunda Maria diangkat menjadi Bunda Gereja (Bdk. Yoh. 19:26-27). Bunda Maria menjadi Bunda kita semua. Dengan demikian, ia menjadi model ideal bagi para wanita Katolik, sekaligus teladan bagi kita semua.
*Tentang Penulis:
Pastor Renold Alexander Laike adalah Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik St. Benediktus Sorong dan Pastor Pra Paroki St. Wilhelmus, Sausapor.





