Renungan Harian 27 September 2026
RENUNGAN HARIAN
Minggu Biasa XXVI — 27 September 2026
Bacaan I: Yeh 18:25-28
Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4bc-5.6-7.8-9
Bacaan II: Flp 2:1-11
Bacaan Injil: Mat 21:28-32
Jangan Hanya Berkata “Ya”, tetapi Lakukan Kehendak Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah mengatakan hal-hal yang baik. Kita bisa berbicara tentang kasih, pengampunan, kerendahan hati, kepedulian, dan persaudaraan. Namun, persoalannya bukan pada seberapa indah kata-kata yang kita ucapkan, melainkan sejauh mana kata-kata itu menjadi tindakan nyata.
Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang dua orang anak yang diminta bekerja oleh ayahnya. Anak pertama awalnya menolak, tetapi kemudian menyesal dan pergi melaksanakan perintah ayahnya. Anak kedua mengatakan, “Ya, Bapa,” tetapi tidak pergi. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengingatkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan; kehendak Allah harus diwujudkan dalam kehidupan.
Kita pun sering berada dalam situasi yang sama. Kita berkata ingin menjadi orang baik, tetapi masih mudah menyakiti sesama. Kita mengatakan ingin hidup dalam persaudaraan, tetapi masih menyimpan dendam. Kita berbicara tentang kasih, tetapi cepat menghakimi orang yang berbeda dengan kita. Kita ingin dihargai, tetapi belum tentu mampu menghargai orang lain.
Di tengah kehidupan zaman sekarang yang dipenuhi berbagai tekanan, persaingan, media sosial, dan kepentingan pribadi, kita mudah terjebak dalam “agama kata-kata”: terlihat baik di luar, tetapi belum tentu sungguh-sungguh menghidupi iman dalam kehidupan nyata. Bahkan, media sosial dapat membuat kita tampak sangat peduli terhadap orang lain melalui kata-kata dan unggahan, sementara di sekitar kita mungkin ada orang yang sedang membutuhkan perhatian dan pertolongan nyata.
Bacaan pertama dari Nabi Yehezkiel mengajak kita untuk berani melakukan introspeksi. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Namun, kesalahan bukanlah akhir dari perjalanan hidup. Allah selalu membuka jalan pertobatan. Yang penting adalah keberanian untuk mengakui kesalahan, meninggalkan jalan yang salah, dan kembali kepada Tuhan.
Sementara itu, Santo Paulus mengajak kita untuk memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Kristus memilih merendahkan diri, mengosongkan diri, dan mengambil rupa seorang hamba. Inilah ukuran kasih Kristiani: bukan mencari siapa yang harus melayani kita, melainkan berani bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan bagi sesama?”
Karena itu, kedewasaan iman tidak diukur dari seberapa sering kita berbicara tentang Tuhan, tetapi dari seberapa nyata Tuhan hadir melalui hidup kita. Iman terlihat ketika kita mampu meminta maaf, mengampuni, membantu yang lemah, menghargai orang yang berbeda, tidak merendahkan mereka yang miskin atau tidak memiliki kuasa, serta berani mengalah demi kebaikan bersama.
Hari ini Tuhan mengajak kita memeriksa kembali hidup kita: Apakah “ya” yang kita ucapkan kepada Tuhan sungguh menjadi tindakan? Jangan sampai bibir kita mengatakan “ya”, tetapi hidup kita mengatakan “tidak”.
Mari kita belajar menjadi pribadi yang tidak hanya pandai berbicara tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh mengasihi; bukan hanya berbicara tentang persaudaraan, tetapi membangun persaudaraan; bukan hanya meminta pengampunan Tuhan, tetapi juga berani mengampuni.
Tuhan tidak mencari kata-kata yang indah. Tuhan mencari hati yang mau berubah dan hidup yang sungguh-sungguh melakukan kehendak-Nya.
Semoga setiap hari kita semakin berani mengikis egoisme, meninggalkan kesombongan, dan membuka hati bagi mereka yang kecil, lemah, tersisih, dan sering tidak diperhitungkan. Sebab, di sanalah kasih Kristus menjadi nyata.
Selamat berhari Minggu. Tuhan memberkati.
Ave Maria!





