Imajinasi Profetik: Ketika Komsos Menjadi Ruang Mimpi Gereja

8
Rm. Dr. Fransiskus Wawan Setyadi SJ menyampaikan materi dalam Sesi 2 Training of Trainers (TOT) bertema “Imajinasi Profetik: Komsos sebagai Ruang Mimpi Gereja” yang dibawakan di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026).

MUNTILAN, KOMSOSKMS.ORG – Komunikasi sosial (Komsos) Gereja tidak semestinya berhenti pada kerja-kerja teknis produksi konten, dokumentasi, atau penyebaran informasi. Lebih dari itu, Komsos dipanggil menjadi ruang refleksi dan imajinasi kreatif yang membantu Gereja membaca realitas sekaligus membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan.

Rm. Dr. Fransiskus Wawan Setyadi SJ menyampaikan materi dalam Sesi 2 Training of Trainers (TOT) bertema “Imajinasi Profetik: Komsos sebagai Ruang Mimpi Gereja” yang dibawakan di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026).

Gagasan tersebut mengemuka dalam Sesi 2 Training of Trainers (TOT) bertema “Imajinasi Profetik: Komsos sebagai Ruang Mimpi Gereja” yang dibawakan Rm. Dr. Fransiskus Wawan Setyadi SJ di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). Sesi yang dimoderatori RBE Agung Nugroho itu diikuti para Ketua Komisi Komsos dari berbagai keuskupan di Indonesia serta para pegiat komunikasi sosial keuskupan.

Sejak awal pemaparannya, Rm. Wawan begitu dia biasa disapa, mengajak para peserta untuk sejenak keluar dari rutinitas dunia produksi dan teknis komunikasi. Menurut dia, Komsos membutuhkan keseimbangan antara kerja menghasilkan karya dan proses membentuk diri melalui refleksi.

“Komsos tidak hanya menjadi ruang produksi konten, tetapi juga ruang produksi diri,”ujarnya.  Bagi Rm. Wawan, komunikasi yang bermakna tidak lahir semata-mata dari kecanggihan perangkat atau keterampilan teknis. Di balik sebuah karya komunikasi, perlu ada refleksi tentang nilai, arah, dan dunia seperti apa yang hendak dibangun melalui karya tersebut.

Dari Imajinasi menuju Narasi

Dalam sesi ini, Rm. Wawan membawa peserta memasuki pembicaraan tentang imajinasi, terutama imajinasi yang bersifat produktif dan kreatif. Ia menjelaskan bahwa imajinasi tidak hanya berkaitan dengan gambar atau apa yang tampak, tetapi juga bekerja melalui bahasa dan narasi.

Di titik inilah narasi menjadi penting. Narasi, menurut alur refleksi yang dibangun dalam sesi tersebut, merupakan salah satu ruang tempat imajinasi kreatif bekerja dan menemukan bentuknya. Komsos, karena itu, tidak hanya bertugas merekam kenyataan, melainkan juga mengolah pengalaman manusia menjadi cerita yang mengandung makna dan membuka ruang refleksi.

Persoalannya, bagaimana sebuah karya komunikasi dapat melampaui sekadar pengulangan atau copy-paste realitas?

Pertanyaan itu membawa peserta pada pembahasan mengenai fiksi dan metafora. Fiksi, dalam pengertian filosofis yang dibahas Rm. Wawan, membuka kemungkinan bagi manusia untuk menciptakan sesuatu yang baru tanpa kehilangan hubungan dengan kenyataan. Imajinasi kreatif bukan berarti meninggalkan realitas, tetapi justru menemukan cara baru untuk memahami dan memaknainya.

Metafora yang Membuka Dunia Baru

Salah satu pintu masuk penting dalam sesi ini adalah metafora. Rm. Wawan mengajak peserta melihat metafora bukan sekadar hiasan bahasa, melainkan bentuk kreativitas yang mempertemukan hal-hal yang tampaknya berjauhan untuk melahirkan makna baru.

Metafora yang hidup, menurut Romo Wawan, memiliki unsur kebaruan. Ia tidak sekadar mengulang ungkapan yang sudah menjadi klise, tetapi menciptakan hubungan baru yang mengajak orang melihat sesuatu dengan cara berbeda.

Di sinilah komunikasi sosial Gereja mendapat tantangan sekaligus peluang. Para pegiat Komsos tidak cukup hanya bertanya apakah sebuah informasi telah tersampaikan. Mereka juga perlu bertanya: makna apa yang dibuka oleh karya komunikasi itu? Realitas seperti apa yang hendak ditunjukkan? Dan harapan seperti apa yang ingin ditumbuhkan?

Dalam bahasa yang lebih mendalam, karya komunikasi dapat menjadi jembatan antara kenyataan yang dialami manusia saat ini dan kemungkinan dunia yang belum terwujud.

Realitas Tidak Hanya Ada di Belakang

Salah satu refleksi penting yang mengemuka adalah cara memandang realitas. “Selama ini, realitas kerap dipahami sebagai sumber atau bahan baku bagi sebuah karya komunikasi. Namun, melalui imajinasi dan narasi kreatif, realitas juga dapat dipandang sebagai sesuatu yang berada di depan—sebagai tujuan dan kemungkinan yang hendak diwujudkan,”ujar Wawan.

“Kalau memori berhubungan dengan masa lalu, imajinasi berhubungan dengan masa depan,” menjadi salah satu gagasan kunci yang mengemuka dalam pemaparan tersebut. Dengan demikian, imajinasi menggerakkan manusia untuk tidak berhenti pada apa yang sudah ada, tetapi berani membuka kemungkinan tentang apa yang dapat terjadi.

Bagi Komsos Gereja, cara pandang ini memiliki arti yang kuat. Komunikasi bukan hanya soal memberitakan apa yang telah terjadi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menghadirkan harapan, menawarkan cara pandang baru, dan membantu umat membayangkan kemungkinan hidup yang lebih baik.

Dalam pembahasannya, Rm. Wawan bahkan mengajak peserta mempertanyakan kemungkinan eksistensi seperti apa yang hendak diberikan Komsos melalui karya-karyanya. Pertanyaan itu mengarahkan perhatian para pegiat komunikasi pada tanggung jawab kreatif mereka: karya yang dibuat tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga ikut membentuk horizon kehidupan para penerimanya.

Komsos sebagai Ruang Mimpi

Gagasan tentang “ruang mimpi Gereja” kemudian menemukan maknanya. Mimpi yang dimaksud bukan pelarian dari kenyataan atau angan-angan kosong. Sebaliknya, mimpi menjadi daya imajinatif yang berakar pada kehidupan nyata dan berani membuka kemungkinan baru.

Komsos dapat menjadi ruang tempat pengalaman, luka, harapan, budaya, dan iman dirangkai menjadi narasi yang menggerakkan. Dari ruang inilah Gereja dapat terus belajar mendengarkan realitas sekaligus membayangkan masa depan.

Dalam konteks itulah imajinasi menjadi profetik. Ia tidak hanya mengulang apa yang sudah diketahui, tetapi membantu melihat lebih jauh. Ia tidak menutup mata terhadap kenyataan, tetapi justru mengolah kenyataan dengan keberanian kreatif agar muncul makna dan kemungkinan baru.

Sesi yang berlangsung dalam suasana reflektif dan dialogis itu juga membuka ruang tanya jawab bagi peserta. Para Ketua Komisi Komsos dan pegiat Komsos dari berbagai keuskupan diajak tidak sekadar menjadi produsen informasi, melainkan menjadi pelayan komunikasi yang mampu menghadirkan kedalaman, kreativitas, dan harapan.

Pada akhirnya, tantangan Komsos bukan semata bagaimana menghasilkan konten yang menarik. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana setiap karya komunikasi dapat membantu Gereja dan masyarakat melihat dunia dengan mata yang baru.

Sebab, seperti ditawarkan dalam refleksi pada sesi itu, imajinasi yang kreatif selalu berani melangkah melampaui yang sudah ada. Dan mungkin, justru dari keberanian untuk membayangkan itulah Gereja menemukan kembali ruang untuk bermimpi—serta mengajak dunia berjalan menuju masa depan yang lebih manusiawi dan penuh harapan.

Penulis : Gabriel Abdi Susanto