MANOKWARI, KOMSOSKMS.ORG – Semangat persaudaraan dan toleransi mewarnai rangkaian Visitasi Salib Indonesian Youth Day (IYD) di Stasi Santa Bunda Maria Sowi, Manokwari, Papua Barat. Melalui Pertandingan Gawang Mini Toleransi yang dilaksanakan pada hari ini, Jumat 7 Agustus 2026, Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Santa Bunda Maria Sowi, OMK Paroki Imanuel Sanggeng, OMK Pra Paroki Salvator Maripi, serta PAM GKI Paulus Sowi IV, berkumpul dan bertanding dalam suasana penuh keakraban dan sukacita, sebagai wujud nyata persaudaraan lintas iman dan komunitas kaum muda.

Kegiatan yang berlangsung di halaman Gereja Stasi Santa Bunda Maria Sowi tersebut menjadi salah satu momentum menarik dalam rangkaian penyambutan dan visitasi Salib IYD. Pertandingan tidak sekadar menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi sarana bagi kaum muda untuk membangun komunikasi, mempererat persaudaraan, serta merawat semangat toleransi di tengah keberagaman.

Pertandingan diawali dengan sambutan dari Ketua Stasi Santa Bunda Maria Sowi, Paskalis Semunya. Dalam sambutannya, Paskalis Semunya mengajak Orang Muda Katolik dan semua umat yang hadir untuk selalu mengucap syukur karena Tuhan itu baik, dan terus memupuk kebersamaan dalam mengawal panji Kristus sebagai terang dunia yang diimani bersama.
“Orang Muda Katolik adalah generasi penerus gereja yang harus berani memberikan kesaksian iman, sehingga harus selalu memupuk kebersamaan dalam mengawal panji Kristus sebagai terang dunia yang kita imani bersama. Pertandingan Gawang Mini Toleransi ini dilaksanakan bukan untuk menunjukan siapa yang terbaik dan siapa pemenangnya, tetapi bertujuan untuk menjalin keakraban, kekompakan, kebersamaan dan membina persaudaraan diantara kaum muda lintas gereja sebagai wujud nyata dari cinta kasih Kristus,” tegas Paskalis Semunya.
“Pertandingan ini juga dilaksanakan sebagai ucapan syukur dalam menyambut HUT Stasi Santa Bunda Maria Sowi yang ke-40 pada tanggal 14 Agustus 2026, dan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 2026,” lanjut Paskalis Semunya.

Kehadiran PAM GKI Paulus Sowi IV bersama OMK dari beberapa komunitas Katolik di Manokwari memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Pertemuan lintas komunitas ini memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi media sederhana namun efektif untuk membangun persaudaraan dan menciptakan ruang perjumpaan yang positif bagi generasi muda.
Sejak pertandingan dimulai, suasana penuh semangat terlihat dari para pemain maupun pendukung. Masing-masing tim menunjukkan kemampuan terbaiknya dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas. Persaingan di lapangan justru menjadi semakin menarik karena dibarengi dengan canda, tawa, dan dukungan dari para penonton.
Bukan Sekadar Pertandingan
Gawang Mini Toleransi memiliki pesan yang lebih besar daripada sekadar pertandingan sepak bola. Lapangan menjadi ruang perjumpaan bagi kaum muda dari latar belakang komunitas dan denominasi gereja yang berbeda untuk saling mengenal dan menghargai.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang dihidupi dalam Indonesian Youth Day (IYD) khususnya ajakan kepada kaum muda untuk menjadi pembawa persaudaraan, perdamaian, dan persatuan di tengah masyarakat yang beragam.
Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk melihat perbedaan bukan sebagai batas, melainkan sebagai kekayaan yang dapat memperkuat kebersamaan. Persaingan selama pertandingan pun ditempatkan dalam semangat persahabatan dan sportivitas.
Merajut Tali Persaudaraan dari Sowi
Visitasi Salib IYD di Stasi Santa Bunda Maria Sowi menjadi momentum penting bagi Orang Muda Katolik untuk tidak hanya merayakan kehadiran Salib IYD, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai yang dibawanya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua OMK Stasi Santa Bunda Maria Sowi, Grace Kangguweng mengatakan bahwa salah satu bentuk toleransi orang muda adalah berteman tanpa batas, yaitu bergaul dan bekerja sama dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang agama, suku, atau status sosial.
”Toleransi orang muda adalah sikap terbuka, saling menghargai, dan mau menerima perbedaan suku, agama, ras, serta pendapat di kalangan generasi muda. Peran anak muda sangat penting sebagai penggerak perdamaian karena hidup dalam era digital dan pergaulan yang sangat beragam. Salah satu bentuk toleransi orang muda adalah berteman tanpa batas, yaitu bergaul dan bekerja sama dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang agama, suku, atau status sosial. Dengan melihat tingginya minat anak muda dalam olahraga sepak bola ini menjadi peluang yang baik untuk membangun rasa persaudaraan lintas agama dan gereja dengan menjujung tinggi sportivitas di antara sesama pemain & suporter kaum muda,” ujar Grace Kangguweng.
“Pertandingan Gawang Mini Toleransi menjadi salah satu contoh nyata bahwa semangat persaudaraan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Bermain bersama, saling mendukung, menghargai lawan, dan menerima perbedaan merupakan bentuk konkret dari upaya membangun kehidupan yang harmonis,” lanjut Grace Kangguweng.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kaum muda di Manokwari untuk terus menciptakan ruang-ruang perjumpaan yang memperkuat toleransi dan persaudaraan lintas iman.
Dari Sowi, kaum muda menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh. Justru melalui perjumpaan, olahraga, dan kebersamaan, persaudaraan dapat tumbuh dan menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang damai.
Pertandingan Gawang Mini Toleransi dalam rangka Visitasi Salib IYD di Stasi Stanta Bunda Maria Sowi berjalan dengan baik dan penuh sukacita, dan ditutup dengan salaman, pelukan dan foto bersama, serta komitmen bahwa komunikasi yang akan terus berlanjut.
Kontributor Berita : Komsos Stasi Santa Bunda Maria Sowi.





