Temu Pembina SEKAMI TPW Manokwari 2006 ke 2:  Bermisi Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang

2
Sukacita Pendamping dan Remaja Paroki TPW Manokwari

MANOKWARI, KOMSOSKMS.ORG – SEKAMI TPW Manowari kembali mengadakan pertemuan SEKAMI TPW pada Sabtu 25 – Senin 27 Juli 2026. Pertemuan ini adalah rangkaian dari tiga kali pertemuan tindak lanjut terhadap perwujudan jatidiri Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner dalam Karya Misioner Kepausan Indonesia Keuskupan Manokwari Sorong, khususnya di TPW Manokwari. Ketiga pertemuan ini adalah tindak lanjut dari pertemuan Pendamping SEKAMI se TPW pada September 2025 yang lalu yang menemukan empat keprihatinan bersama: adanya bina iman yang berkelanjutan untuk anak dan remaja, bahan pendampingan yang kontekstual dan selaras dengan nafas Gereja, kerinduan para pendamping untuk berkumpul dan berbagi kreasi, serta penguatan jaringan pendamping dari stasi sampai TPW. Pertemuan SEKAMI TPW Manokwari 2 menjawab keempat keprihatinan dari sudut pandang pendampingan iman remaja. Ada 100 remaja dan 40 pendamping yang hadir dalam pertemuan ini. 

Pertemuan Sekami TPW Manokwari 3 di Prafi 25-27 Juli 2026

Bina Iman Berkelanjutan

Melanjutkan pertemuan 1 di St Laurentius Wasior pada bulan April yang berbicara mengenai Communio dalam Sinodalitas Gereja Katolik, pertemuan kedua di Paroki St Kristoforus Prafi bicara mengenai Partisipasi. Bagaimana pendamping dan remaja mengambil bagian dalam apa yang dirasakan Gereja hari ini. Quaerere et Salvum Facere: Mencari dan Menyelamatkan yang Hilang. 

Doa Taize Bersama

Pendampingan remaja sejatinya merupakan bagian dari tanggungjawab Sekami. Namun demikian, selama ini bina iman remaja sering dilewatkan karena belum ada penggalian mengenai apa dan bagaimana bentuknya. Diandaikan bina iman remaja tergarap oleh bidang liturgi lewat misdinar. Diandaikan setelah menerima sakramen komuni pertama, remaja akan mencari sendiri kegiatan Gereja yang diminatinya. Yang terjadi kemudian, banyak remaja Katolik hilang tidak terawat. Memperhatikan kerentanan ini, Sekami mempertemukan remaja dan pendampingnya untuk saling mengenali dan saling menemukan dalam nama Tuhan. 

Mengenali Remaja Katolik

SEKAMI TPW Manokwari menyepakati ranah pembinaan remaja dalam beberapa penanda. Mereka yang disebut remaja Katolik adalah yang sudah berusia 11 – 14 tahun, dan atau sudah sambut baru, dan atau sudah sambut baru dan menjadi anggota misdinar atau putra putri altar. 

Pentas Seni untuk Menumbuhkan Keberanian Ekspresi dan Kebanggaan pada Budaya

Dalam psikologi perkembangan, di usia 11 – 14 tahun, mereka bukan lagi kanak-kanak, tetapi juga belum lagi orang muda. Masa remaja ditandai dengan kecenderungan untuk mencari identitas dalam kelompok-kelompok sebaya, sepermainan, atau sama minat. Remaja cenderung emosional, suka memberontak, mudah terpengaruh dengan suasana kelompok pergaulannya. Remaja sedang bertumbuh pemahaman kognitifnya dengan menggabung-gabungkan apa yang di alami dan apa yang didengar dari orang dewasa. Remaja memiliki cukup banyak tenaga untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya, mempertanyakan konsep-konsep yang selama ini ditanamkan di keluarga dan Gereja, serta mencari-cari identitas yang dirasanya cocok dengan dirinya dengan melihat simbol-simbol kelompok yang dilihat dalam pengalaman sehari-hari.

Makan Berkesadaran dengan 7 Renungan Sebelum Makan

Di beberapa paroki, begitu anak-anak menerima sakramen komuni pertama, mereka sudah tidak mau lagi ikut Sekami. Meskipun usianya belum genap 11 tahun.  Ada beberapa yang langsung ikut misdinar sesudah sambut baru. Kegiatan misdinar terbatas pada pengenalan alat dan persiapan tugas misa. Padahal mereka membutuhkan lebih dari sekedar rutinitas yang cenderung membosankan dalam masa pencarian ini. Tanpa pemahaman yang mendalam, seringkali orang tua atau orang dewasa menyebut mereka sebagai anak nakal dan bengal, suka membantah, dan pemberontak. Padahal disitulah letak keistimewaan mereka. 

Para pendamping diajak untuk melihat bersama penanda-penanda untuk mengenali remaja secara lebih mendalam. Konsep teoritik tentang remaja ini dibaca tidak untuk membatasi para pendamping, tetapi untuk menggali lebih dalam pengenalan mereka terhadap remaja masing-masing. Makin kenal akan makin sayang. Remaja senang jika pendamping hadir sebagai teman atau sahabat yang memahami kegelisahan mereka dan mengajarkan nilai-nilai iman melalui kegiatan-kegiatan yang dinamis. Tantangannya, dinamika remaja jauh lebih pesat daripada pengalaman para pendamping. Membuat kaget dan gagap. 

Diskusi Mengenai Realitas Sosial Sekitar dan Menentukan Misi Remaja

Demikian juga pertemuan tiga hari di Prafi ini kemudian menjadi terasa terlalu cepat karena banyaknya hal yang baru tersingkap dalam dunia bina iman remaja. Tentu ada animasi dalam bentuk lagu, permainan, dan dinamika kelompok, ada edukasi dan refleksi, selebrasi, serta hal-hal kecil yang menjadi unsur formatif iman remaja dan para pendampingnya. 

Quaerere et Salvum Facere

Ada sesi di mana remaja di beri pertanyaan. Situasi nyata apa yang kamu lihat di sekitarmu? Misi apa yang dapat kamu lakukan dalam situasi seperti itu? Dalam bentuk apa misi itu dapat diwujudkan? Remaja berdiskusi dengan gamblang mengenai situasi . Mereka melihat berbagai keprihatinan seperti kurangnya semangat hidup menggereja, Kekatolikan yang dangkal, godaan pergaulan yang tidak sehat, narkoba, kemabukan, kecanduan medsos, serta pornografi. Beberapa remaja mengisahkan permasalahan keluarga mereka, kerinduan akan kasih sayang orang tua, keinginan untuk dihargai dan dimengerti.

Diskusi Mengenai Realitas Sosial Sekitar dan Menentukan Misi Remaja

Pembahasan mengenai semangat mencari dan menyelamatkan yang hilang yang berasal dari sabda Yesus sendiri pada Luk 19:10 ketika menemukan Lazarus menjadi diskusi yang sangat menarik. Terlebih ketika sampai pada refleksi, siapa yang hilang dan siapa yang ditemukan. Remaja tahu bahwa mereka bisa saja hilang dalam berbagai macam godaan. Ada pula yang menyebutkan teman-teman mereka yang ‘hilang.’ Namun mereka juga yakin bahwa Tuhan Yesus berkarya dalam berbagai hal, sehingga mereka mau mengemban misi ketika pulang nanti. 

Remaja berkisah dengan sangat lugas. Ada pendamping yang bersemangat dengan dinamika ini. Ada juga yang merasa was-was mendengar mereka bertutur seolah tanpa mengenal batas. Disinilah diolah bersama semangat Yesus yang datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Ada yang ingin lebih rajin dalam kegiatan liturgi. Ada yang ingin bereksplorasi dalam kelestarian alam ciptaan. Ada pula yang ingin ‘inline with Jesus when online.’ Kadang pendamping dan remajanya terlalu berjarak.  Ini tantangan dari wajah Gereja hari ini yang kalau tidak disikapi dengan bijak akan membuat para pendamping alih-alih ikut menemukan domba-domba yang hilang, malahan kelelahan dan ikut hanyut menghilang. 

Permainan dan Refleksi di Alam

Acara permainan luar ruangan atau outbond juga dikemas dalam kerangka refleksi mencari dan menyelamatkan yang hilang. Outbond dimulai dengan pengenalan singkat mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan. Ada pos-pos yang diisi permainan-permainan sederhana, tetapi diberi judul yang unik: Gembala yang Berbau Domba, Unta masuk Lubang Jarum, Orang Samaria yang baik Hati, dan  Pergilah Engkau diutus. Ini semua sekedar animasi, bahwa ada banyak hal sederhana yang nanti bisa diolah dan dikemas bersama sebagai bahan refleksi interaktif remaja.  

Misi: Mencari dan Menyelamatka

Menjelang pulang, para pendamping SEKAMI dan remaja berkumpul per paroki untuk membuat rencana dan tindak lanjut. Ada grup pendamping remaja yang dibuat khusus untuk mengawal rencana-rencana lanjut yang akan dibuat di paroki dalam tiga bulan kedepan sampai bulan Oktober.

Sukacita Pendamping dan Remaja Paroki TPW Manokwari

Bulan Agustus adalah bulan yang akan banyak diisi dengan kegiatan syukur atas ulang tahun kemerdekaan RI. Bulan September adalah bulan Kitab Suci. Sementara bulan Oktober adalah bulan misi. Bahkan pada bulan Oktober 2026 ini akan diperingati Hari Minggu Misi ke 100. Ada cukup banyak momentum misioner yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana olah semangat misi bersama. Semoga semakin banyak jiwa yang diselamatkan. 

Kontribusi: Tim Pembina SEKAMI TPW Manokwari