Renungan Harian: “Jangan takut! Aku ini.”

151

Renungan Harian – 03 Agustus 2026
Bacaan I: Yeremia 28:1-17
Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29.43.79.80.95.102
Bacaan Injil: Matius 14:22-36

“Jangan takut! Aku ini.”
Tantangan, penderitaan, dan berbagai persoalan hidup sering kali mengguncang iman. Ada saat-saat ketika kita merasa seperti para murid yang berada di tengah danau: diombang-ambingkan gelombang, diterpa angin sakal, dan seolah-olah Tuhan tidak hadir. Namun, Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap badai, Tuhan tidak pernah berhenti mengawasi dan menyertai umat-Nya.

Dalam Injil, para murid sedang berjuang melawan gelombang ketika Yesus datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Kehadiran-Nya membawa penghiburan melalui sabda yang penuh harapan, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27). Yesus tidak datang lebih cepat ataupun terlambat; Ia datang pada waktu yang paling tepat.

Kehadiran-Nya mengubah ketakutan menjadi harapan dan keputusasaan menjadi kekuatan.
Petrus sempat berani melangkah di atas air karena percaya kepada Yesus. Namun, ketika ia lebih memusatkan perhatian pada besarnya angin daripada kepada Tuhan, ia mulai tenggelam. Ketakutan mengalahkan imannya. Untunglah Petrus segera berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” dan Yesus segera mengulurkan tangan-Nya.

Pengalaman Petrus adalah pengalaman kita juga. Sering kali kita memandang persoalan lebih besar daripada kuasa Tuhan. Kita mengandalkan kekuatan sendiri, sehingga ketika badai datang, kita mudah goyah. Santo Agustinus pernah berkata, “Fides est credere quod non vides” — Iman adalah percaya kepada apa yang tidak kita lihat. Iman sejati bukan berarti tidak ada badai, melainkan tetap percaya bahwa Kristus hadir di tengah badai.

Bacaan pertama juga mengingatkan kita agar tidak mudah percaya pada harapan-harapan palsu seperti yang disampaikan nabi Hananya. Harapan sejati hanya bersumber dari Allah. “Per aspera ad astra” — melalui kesulitan menuju kemuliaan. Jalan iman memang tidak selalu mudah, tetapi bersama Tuhan, setiap salib akan mengantar kita kepada kebangkitan.

Karena itu, jangan biarkan ketakutan menenggelamkan harapan. Saat hidup terasa berat, jangan menjauh dari Tuhan, tetapi berserulah seperti Petrus, “Tuhan, tolonglah aku!” Tangan Kristus selalu terulur bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. “In Deo spes mea” — Dalam Allah terletak pengharapanku.
Semoga pada hari ini kita semakin berani menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan.

Sebab, Dia tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Bersama Kristus, badai kehidupan tidak akan pernah menjadi akhir perjalanan kita, melainkan jalan menuju iman yang semakin dewasa.

Tuhan memberkati. Ave Maria.