Renungan Harian – 29 Juli 2026
Peringatan Santa Marta, Maria, dan Lazarus
Bacaan I: 1 Yohanes 4:7-16
Bacaan Injil: Yohanes 11:19-27
Iman yang Bekerja dalam Kasih
Hari ini Gereja memperingati Santa Marta, Maria, dan Lazarus, tiga bersaudara dari Betania yang memiliki tempat istimewa di hati Yesus. Rumah mereka menjadi tempat persahabatan, kehangatan, dan peristirahatan bagi Sang Guru. Dari ketiga bersaudara ini, Santa Marta tampil sebagai pribadi yang aktif melayani, tetapi juga memiliki iman yang teguh kepada Kristus.
Ketika Lazarus meninggal, Marta tidak larut dalam keputusasaan. Dengan penuh keyakinan ia menemui Yesus dan mengucapkan pengakuan iman yang luar biasa, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh. 11:27). Pengakuan ini menjadi salah satu pernyataan iman paling mendalam dalam Injil Yohanes. Marta percaya kepada Yesus bahkan ketika kenyataan di hadapannya tampak tidak memberikan harapan.
Spiritualitas Santa Marta mengajarkan bahwa iman sejati tidak hanya diwujudkan melalui doa dan kata-kata, tetapi juga melalui pelayanan yang lahir dari kasih. Marta dikenal sebagai pribadi yang sibuk melayani. Namun, pengalaman hidupnya bersama Yesus membentuk dirinya menjadi seorang murid yang tidak hanya bekerja dengan tangan, tetapi juga percaya dengan hati. Pelayanan tanpa iman akan menjadi beban, sedangkan iman tanpa kasih akan menjadi kosong. Marta memadukan keduanya: bekerja karena mengasihi Kristus dan percaya penuh kepada kuasa-Nya.
Pesan itu sejalan dengan bacaan pertama. Santo Yohanes menegaskan bahwa Allah adalah kasih. Orang yang mengenal Allah adalah orang yang hidup dalam kasih. Kasih bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang menghadirkan kebaikan, pengampunan, perhatian, dan pengorbanan bagi sesama. Semakin seseorang tinggal di dalam kasih, semakin nyata pula kehadiran Allah dalam hidupnya.
Di tengah kehidupan yang penuh kesibukan, kita sering menjadi “Marta” yang sibuk mengurus banyak hal. Namun Santa Marta mengingatkan bahwa kesibukan harus selalu berakar pada relasi yang akrab dengan Yesus. Dari perjumpaan dengan-Nya lahirlah pelayanan yang penuh sukacita, iman yang kokoh, dan kasih yang tidak mengenal batas.
Marilah kita meneladani Santa Marta: melayani dengan rendah hati, mengasihi dengan tulus, dan tetap percaya kepada Tuhan dalam segala situasi, bahkan ketika harapan seakan tertutup. Sebab bagi mereka yang percaya kepada Kristus, selalu ada kehidupan baru yang Ia anugerahkan, sebagaimana Lazarus dipanggil keluar dari kuburnya. Semoga keluarga-keluarga Kristiani pun menjadi “rumah Betania”, tempat Yesus diterima, kasih dipraktikkan, dan iman terus bertumbuh.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





