Pastor Hendrikus Hendi Resmi Ditahbiskan Menjadi Imam: Uskup Tekankan Spirit Pelayanan yang Tulus dan Setia

88
Imam baru, P. Hendrikus Hendi,Pr menerima pengurapan minyak Krisma pada kedua telapak imam baru

TOFOI, KOMSOSKMS.ORG – Sukacita kembali menyelimuti Keuskupan Manokwari-Sorong. Setelah Tahbisan Imam Pastor Salestinus Vion Momo yang dilaksanakan di Paroki St. Yoseph Senopi pada 15 Juni 2026, Keuskupan Manokwari-Sorong kembali merayakan Tahbisan Imam Diosesan di Paroki Kristus Terang Dunia, Tofoi, Senin (29/6/2026).

Mgr. Hilarion Datus Lega memimpin perayaan tahbisan Dkn. Hendrikus Hendi di Paroki Kristus Terang Dunia, Tofoi (29/6/2026)

Dalam perayaan yang bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus itu, Diakon Hendrikus Hendi menerima Sakramen Tahbisan Imamat melalui penumpangan tangan dan doa konsekrasi oleh Uskup Manokwari-Sorong,.

Mgr. Hilarion Datus Lega, yang didampingi sejumlah imam diosesan dan imam tarekat. Ratusan umat dari berbagai stasi yang ada di paroki Kristus Terang turut hadir memadati gereja untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Pemanggilan calon imam untuk hadir dihadapan Uskup untuk ditahbiskan

Perayaan tahbisan berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh sukacita. Liturgi yang sarat makna menjadi ungkapan syukur atas lahirnya seorang imam baru yang akan diutus melayani umat Allah di Keuskupan Manokwari-Sorong.

Meneladani Santo Petrus dan Santo Paulus
Dalam homilinya, Mgr. Hilarion Datus Lega mengajak seluruh umat merenungkan teladan Santo Petrus dan Santo Paulus, dua rasul agung yang diperingati Gereja pada hari yang sama dengan tahbisan imam tersebut.

Uskup mengawali homilinya dengan mengingatkan bahwa Santo Petrus dikenal sebagai murid yang dengan berani mengakui Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup. Namun, di balik pengakuan iman yang luar biasa itu, Petrus tetap seorang manusia yang memiliki banyak kelemahan.

Dkn. Hendrikus Hendi menelungkup pada saat Doa Litani Mahakudus didaraskan

Ia mengingatkan kisah di Gunung Tabor ketika Petrus ingin tetap tinggal dalam kemuliaan bersama Yesus, Musa, dan Elia tanpa melanjutkan perjalanan menuju Yerusalem. Padahal, Yesus harus menempuh jalan salib demi keselamatan manusia.

Tidak hanya itu, Petrus juga pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali ketika Gurunya ditangkap. Bahkan menurut Injil Yohanes, Petrus tidak disebut berada di bawah kaki salib Yesus. Yang tetap setia berdiri di sana hanyalah Bunda Maria dan murid yang dikasihi Yesus.

“Semua itu menunjukkan bahwa Petrus adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan. Namun justru melalui kelemahannya, Tuhan membentuknya menjadi pemimpin Gereja,” ungkap Uskup.

Mgr. Hilarion Datus Lega menumpangkan tangan diatas calon imam pada liturgi tahbisan Dkn. Hendi

Hal serupa juga tampak dalam perjalanan hidup Santo Paulus. Ketika masih bernama Saulus, ia dikenal sebagai penganiaya umat Kristiani. Namun dalam perjalanan menuju Damsyik, Tuhan menjumpainya secara pribadi hingga akhirnya ia bertobat dan menjadi pewarta Injil yang luar biasa.

Uskup mengutip Surat kepada Jemaat di Galatia 2:20, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Menurutnya, kalimat tersebut menunjukkan perubahan total dalam diri Paulus yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus.

Dkn. Hendi mengenakan pakaian imam, kasula stola sebagai seorang imam

Tradisi Gereja juga mengenang akhir hidup kedua rasul itu sebagai martir. Santo Petrus disalibkan dengan kepala di bawah karena merasa tidak layak wafat seperti Gurunya, sedangkan Santo Paulus dipenggal karena berstatus warga negara Romawi.

Sukacita Tahbisan Imam di Hari Raya Rasul Agung
Bagi Keuskupan Manokwari-Sorong, Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus tahun ini memiliki makna yang semakin istimewa karena dirayakan bersamaan dengan tahbisan imam baru.

Dalam kesempatan itu, Mgr. Datus juga mengungkapkan rasa syukurnya karena tepat pada hari tersebut ia mengenang 23 tahun tahbisan episkopalnya sebagai Uskup Manokwari-Sorong.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pusat perhatian hari itu bukan dirinya, melainkan rahmat panggilan yang diterima Diakon Hendrikus Hendi untuk menjadi imam.

Datang Bukan untuk Dilayani, Melainkan untuk Melayani”
Salah satu bagian penting homili Uskup adalah refleksinya atas moto tahbisan Hendrikus Hendi yang diambil dari Injil Matius 20:28: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”.

Imam baru, P. Hendrikus Hendi,Pr menerima pengurapan minyak Krisma pada kedua telapak imam baru

Uskup mengaku sangat tersentuh ketika membaca moto tersebut. Menurutnya, moto itu bukan sekadar kalimat indah yang dicetak dalam buku tahbisan, melainkan harus menjadi arah hidup, visi, misi, sekaligus pegangan seorang imam sepanjang hidupnya. Ia kemudian mengajak umat merenungkan hakikat pelayanan.

Menurutnya, kata kunci pelayanan adalah ketulusan, keikhlasan, dan kejujuran. Pelayanan, katanya, tidak boleh dilakukan demi pujian, popularitas, ataupun kepentingan pribadi. Bahkan pelayanan kemanusiaan sekalipun akan kehilangan maknanya apabila tidak dilandasi hati yang tulus.

“Pelayanan harus berdiri di atas ketulusan dan kejujuran, bukan sekadar omon-omon,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa tujuan utama setiap pelayanan dalam Gereja adalah memuliakan nama Tuhan, bukan membesarkan nama pelayan.

Seorang imam, lanjutnya, tidak boleh terjebak merasa hebat karena keberhasilan pelayanan, sebab seluruh karya hanyalah rahmat Allah.

Tuhan Meminta Kesetiaan, Bukan Kesuksesan
Dalam homilinya, Uskup juga mengutip pesan terkenal Santa Teresa dari Kalkuta. “Tuhan tidak pernah meminta Anda sukses, tetapi Tuhan meminta Anda setia.”

Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara sukses dan setia. Kesuksesan sering kali melahirkan kebanggaan diri, sedangkan kesetiaan selalu membawa seseorang pada rasa syukur atas rahmat Tuhan.

Karena itu, seorang imam dipanggil bukan untuk mengejar keberhasilan duniawi, tetapi tetap setia menjalankan panggilannya sampai akhir hidup.

Memberi Tempat Terhormat bagi Orang Miskin
Uskup juga menyoroti karya sosial Gereja Katolik. Ia mengingatkan bahwa seluruh pelayan Gereja, termasuk imam dan para pengurus pastoral, harus memberi tempat yang terhormat bagi kaum miskin.

Pastor Hendrikus Hendi mendoakan Doa Syukur Agung untuk pertama kali sesudah ditahbiskan menjadi imam

Menurutnya, pelayanan yang sejati selalu bertanya, “Apa yang bisa saya bantu?”, bukan “Apa yang bisa saya peroleh?”

“Bila tidak ada orang miskin, apa yang akan kita layani?” katanya mengajak umat melihat kaum kecil sebagai pusat perhatian Gereja.

Imam Dipanggil untuk Selalu Bersyukur
Pada bagian akhir homili, Mgr. Datus menekankan pentingnya rasa syukur dalam kehidupan seorang imam.

Ia mengapresiasi prestasi akademik Hendrikus Hendi yang berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Teologi Pastoral. Namun ia menegaskan bahwa rahmat imamat tidak diperoleh karena kepandaian ataupun status sosial.

“Siapakah yang memilih? Tuhan sendiri,” ujarnya.

Karena itu, imam harus selalu menyadari bahwa seluruh hidup dan panggilannya merupakan anugerah Allah.

Mengakhiri homili, Uskup mengajak seluruh umat untuk terus mendukung imam baru melalui doa agar pelayanan yang dijalani selalu memuliakan nama Tuhan.

Ungkapan Syukur Imam Baru
Dalam sambutannya, Pastor Hendrikus Hendi menyampaikan syukur kepada Tuhan atas rahmat Tahbisan Imamat yang diterimanya.

Pastor Hendi menyampaikan sambutan sebagai imam baru

Ia menyampaikan terima kasih kepada Mgr. Hilarion Datus Lega yang telah menahbiskannya, para formator, imam, suster, frater, dosen, pembina, serta semua pastor yang telah mendampingi perjalanan panggilannya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni atas perhatian dan dukungan yang diberikan, seluruh panitia yang telah bekerja keras, orang tua, keluarga, sahabat, serta semua umat yang senantiasa mendoakan dirinya.

“Saya menyadari bahwa semua ini terjadi semata-mata karena kasih dan penyelenggaraan Tuhan. Saya hanyalah seorang manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan,” ungkap Pastor Hendrik.

Berkat pertama imam baru kepada seluruh umat

Ia berkomitmen menjalani pelayanan sebagai imam dengan rendah hati, penuh kasih, serta tetap setia melayani umat di tengah berbagai tantangan zaman.

“Saya ingin menjadi imam yang menghadirkan damai, harapan, dan sukacita bagi semua orang,” ujarnya.

Di akhir sambutan, imam baru itu memohon doa seluruh umat agar tetap setia dalam panggilan serta mampu menjalankan tugas pelayanan sesuai kehendak Tuhan.

Profil Singkat Pastor Hendrikus Hendi
Pastor Hendrikus Hendi lahir di Maumere pada 14 Juli 1996. Ia merupakan putra dari Gaudensius Sius dan Ludvina Luto, serta anak ketiga dari tiga bersaudara.

Moto tahbisannya diambil dari Injil Matius 20:28, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Inpres Kelapa Dua di Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Perintis Kelapa Dua dan SMA YPPK Santo Arnoldus Janssen Bintuni.

Mgr. Hilarion Datus Lega berfoto bersama dengan imam baru, keluarga dan para imam konselebran

Ia memasuki Seminari Petrus Van Diepen Sorong pada tahun 2015 melalui kelas persiapan atas, dilanjutkan Tahun Orientasi Rohani, kemudian menempuh studi Strata Satu di STFT Fajar Timur Jayapura. Pada tahun 2023 hingga 2026, ia menyelesaikan pendidikan Magister Teologi Pastoral di kampus yang sama.

Sebelum ditahbiskan menjadi imam, Pastor Hendrik menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Santa Bernadeth Mamur, Tahun Orientasi Karya di Pra Paroki Santo Gerardus Mayella Wayati, serta masa diakonat di Tahun Orientasi Rohani Nabire.

Tahbisan Pastor Hendrikus Hendi menjadi sukacita besar bagi seluruh Keuskupan Manokwari-Sorong. Kehadirannya menambah jumlah imam diosesan yang siap diutus melayani umat di berbagai wilayah keuskupan yang luas dan penuh tantangan. Diharapkan semangat pelayanannya senantiasa berakar pada moto tahbisannya: datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, sehingga melalui hidup dan karya pelayanannya nama Tuhan semakin dimuliakan.

RD. Fransiskus Katino- Komsos KMS