Renungan Harian: “Di Mana Hartamu Berada, Di Situ Juga Hatimu Berada”

115

Renungan Harian, Jumat, 19 Juni 2026
Bacaan I: 2Raj 11:1-4.9-18.20
Bacaan Injil: Mat 6:19-23

“Di Mana Hartamu Berada, Di Situ Juga Hatimu Berada”
Kita semua membutuhkan harta benda untuk menjalani kehidupan. Setiap hari kita bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. Kita menabung, berusaha mengembangkan usaha, dan merencanakan masa depan yang lebih baik. Semua itu merupakan hal yang baik dan wajar. Harta pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang buruk.

Namun, dalam Injil hari ini Yesus memberikan peringatan yang sangat penting: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi… tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:19-21)..

Apa yang hendak diajarkan Yesus? Tentu Yesus tidak melarang kita bekerja atau memiliki harta. Yang menjadi persoalan adalah ketika harta mulai menguasai hati kita. Ketika kekayaan menjadi tujuan utama hidup, manusia mudah terjebak dalam ketamakan, keserakahan, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak lagi tanpa peduli kepada sesama. Pada saat itulah mata hati menjadi gelap dan hubungan dengan Tuhan perlahan-lahan memudar.

Yesus mengajak kita untuk memiliki pandangan yang benar tentang harta. Harta duniawi bersifat sementara. Suatu saat semuanya akan ditinggalkan. Sebaliknya, harta surgawi adalah segala kebaikan yang kita lakukan demi Tuhan dan sesama: kasih yang dibagikan, pengampunan yang diberikan, bantuan yang kita ulurkan kepada yang membutuhkan, serta kesetiaan dalam menjalankan kehendak Tuhan. Semua itu memiliki nilai kekal di hadapan Allah.

Dalam bacaan pertama, kita melihat bagaimana Tuhan tetap memelihara rencana keselamatan-Nya melalui Yoas yang diselamatkan dari ancaman pembunuhan. Kisah ini mengingatkan bahwa keamanan dan masa depan hidup kita pada akhirnya bukan ditentukan oleh kekuasaan atau kekayaan, melainkan oleh penyelenggaraan Tuhan yang setia.

Karena itu, marilah kita memeriksa hati kita: apa yang paling kita cari dalam hidup ini? Apakah Tuhan masih menjadi harta yang paling berharga bagi kita? Jangan sampai harta duniawi mengaburkan pandangan iman kita dan menjauhkan kita dari Tuhan.

Semoga kita mampu menggunakan segala berkat yang Tuhan percayakan bukan untuk memuaskan diri sendiri semata, tetapi untuk melayani sesama, membangun Kerajaan Allah, dan mengumpulkan harta yang tak akan pernah binasa di surga.

Marilah kita menggunakan harta duniawi sebagai sarana untuk memperoleh harta surgawi. Sebab kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada kedekatan kita dengan Tuhan.
Tuhan memberkati dan Ave Maria.