Renungan Harian: “Diutus Tanpa Bekal, Dikuatkan oleh Iman – Belajar dari Santo Barnabas”

4

Renungan Harian – 11 Juni 2026
Peringatan Wajib Santo Barnabas, Rasul
Bacaan I: Kis 11:21b-26; 13:1-3
Bacaan Injil: Mat 10:7-13

Dalam perjalanan hidup beriman, Santo Barnabas tampil sebagai pribadi yang sederhana namun penuh Roh Kudus. Ia dikenal sebagai “anak penghiburan” yang hadir membawa damai, membangun persaudaraan, dan meneguhkan Gereja yang sedang bertumbuh. Dalam Santo Barnabas kita melihat bagaimana Allah bekerja melalui orang yang bersedia diutus, tanpa syarat dan tanpa kepentingan diri.

Dalam Kisah Para Rasul hari ini, kita melihat dinamika Gereja perdana yang hidup dalam daya Roh Kudus. Barnabas hadir bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai pelayan yang aktif: ia mendorong, meneguhkan, dan membuka jalan bagi pertumbuhan iman.

Bahkan ia ikut terlibat dalam pengutusan misi pertama bersama Paulus dan para nabi serta guru di Antiokhia. Gereja bertumbuh karena ada orang-orang yang rela diutus dan tidak sibuk dengan dirinya sendiri.

Injil hari ini, Injil Matius, menegaskan kembali perutusan Yesus kepada para murid-Nya: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” (Mat 10:7). Perutusan ini bukan sekadar tugas, tetapi cara hidup orang beriman. Murid Kristus dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah melalui kata dan tindakan: menyembuhkan, membangkitkan, mentahirkan, dan mengusir kegelapan dalam berbagai bentuknya.

Yesus juga memberikan penegasan yang keras namun membebaskan: jangan membawa terlalu banyak bekal duniawi. Artinya, seorang pewarta tidak boleh dikuasai oleh kecemasan, perhitungan berlebihan, atau keterikatan pada materi. Tuhan sendiri menjadi jaminan hidup dan karya mereka.

Di sinilah tantangan kita hari ini. Kita sering ingin melayani, tetapi sekaligus ingin aman, nyaman, dan terjamin sepenuhnya. Kita ingin mewartakan, tetapi masih terlalu kuat berpegangan pada “bekal duniawi”—entah itu rasa takut, kekhawatiran, atau kelekatan pada kenyamanan pribadi. Sabda Yesus mengajak kita untuk belajar percaya secara total.

Santo Barnabas menjadi teladan konkret: ia memberi ruang bagi karya Allah tanpa banyak memikirkan keuntungan pribadi. Ia hadir sebagai pembawa harapan, bukan beban. Ia tidak menonjolkan diri, tetapi membangun tubuh Kristus dengan kesetiaan dan keberanian.

Maka, renungan hari ini mengajak kita untuk kembali menyadari identitas kita sebagai murid yang diutus. Kita dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui hidup yang sederhana, penuh iman, dan terbuka pada karya Roh Kudus.

Ketika kita berani percaya seperti Barnabas dan para murid, maka Tuhan sendiri akan melengkapi segala kekurangan kita. Bahkan dari hal-hal kecil yang kita lakukan dengan iman, Tuhan dapat melipatgandakannya menjadi berkat bagi banyak orang—terutama mereka yang miskin, sakit, dan menderita.

Semoga kita semakin setia menjadi alat di tangan Tuhan, tanpa takut, tanpa cemas, dan tanpa keterikatan yang menghalangi pewartaan.
Tuhan memberkati. Ave Maria.